Ernest Dezentje

Pelukis Indonesia

Javanese Women - Ernest Dezentje(1947)
0 244.792

Ernest Dezentjé dilahirkan di Jatinegara Jakarta tanggal 17 Agustus 1884. Ayahnya merupakan seorang warganegara Belanda keturunan Perancis yang menjadi pengusaha pabrik gula, sedangkan ibunya seorang Indonesia.

Perjalanan Karier Ernest Dezentje
  • Dezentjé merupakan seorang pelukis otodidak yang mulai melukis pada usia 30 tahun. Sesekali teman-teman seangkatannya, G. Adolf, R. Bonnet, c.L. Dake, Willy Halwyn, dan Van Aken memberikan petunjuk-petunjuk melukis kepadanya.
  • Ia merupakan anggota dari Bataviasche Kunstkring, semacam lingkar seni seniman-seniman Belanda di Hindia Belanda yang aktif sejak tahun 1920. Karya-karya Dezentjé telah berpartisipasi dalam beberapa pameran selama masa aktifnya di Bataviasche Kunstkring tersebut, sepanjang tahun 1936 – 1939.
  • Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Dezentjé memilih menjadi warga negara Indonesia. Ia memang dikenal sebagai pelukis pemandangan terkemuka sejak awal, dan pernah tinggal di Sumatera selama 5 tahun untuk belajar melukis hutan, ngarai dan danau-danau.
  • Karya Dezentjé dikoleksi oleh Sukarno, bahkan menjadi hadiah kenegaraan, misalnya untuk Presiden Tito dari Yugoslavia dan beberapa tamu negara lainnya.
Hampir semua kolektor papan atas di dalam dan luar negeri memiliki karya dari pelukis Ernest Dezentje dan lukisan karya nya adalah lukisan wajib yang harus di koleksi oleh para kolektor kolektor .
Lukisan karya nya di koleksi pula oleh para Presiden di berbagai negara.
Ernest Dezentje juga memliki seorang anak yang juga adalah pelugis terkenal Indonesia ( pelukis master/legend) yaitu S Djupriany.
Akhir Hayat

Dezentjé meninggal tahun 12 Januari 1972 di Jakarta.

Karya Lukisan
  • Sebuah Pemandangan di Sudut Kota Djakarta
  • Bunga Gladiola
  • Telaga Toba
  • Sudut Kota Jakarta
  • Telaga di Tengah Hutan
  • Bunga Dalam Jambangan
  • Pemandangan Sekitar Gunung Galunggung
  • Dll

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source Informasi Pelukis Indonesia Ernest Dezentje
Comments
Loading...