Lukisan “1000 Years Series: Yasser Arafat” (Agus Suwage)

1000 Years Series (Yasser Arafat) - Agus Suwage
0 5.527

Lukisan “1000 Years Series: Yasser Arafat” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Agus Suwage.

1000 Years Series (Yasser Arafat) – Agus Suwage
  • Pelukis : Agus Suwage
  • Judul : “1000 Years Series: Yasser Arafat”
  • Tahun : –
  • Media : Oil on Canvas
  • Ukuran : 150 cm x 120 cm

Deskripsi Lukisan “1000 Years Series: Yasser Arafat”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya kontemporer. Dengan teknik melukis menggunakan cat minyakl di atas kanvas. Dalam lukisan ini terlihat figur Yasser Arafat dengan tutup kepala khas dan cerutunya. Mohammed Yasser Abdel Rahman Abdel Raouf Arafat al-Qudwa (Arabمحمد ياسر عبد الرحمن عبد الرؤوف عرفات القدوة‎‎; lahir 24 Agustus 1929 – meninggal 11 November 2004 pada umur 75 tahun), lebih dikenal sebagai Yasser Arafat (Arabياسر عرفات‎ , Yāsir `Arafāt) atau dengan kunyah Abu Ammar (Arabأبو عمار‎ , ‘Abū `Ammār) adalah seorang negarawan Palestina. Ia merupakan Ketua Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), PresidenOtoritas Nasional Palestina (PNA), pemimpin partai politik dan mantan pasukan milisi Fatah, yang ia dirikan pada tahun 1959.[2] Arafat menghabiskan sebagian besar hidupnya menentang Israel atas nama hak penentuan nasib rakyat Palestina. Awalnya bersikap menentang keberadaan Israel, dia mengubah sikapnya pada tahun 1988 ketika menerima Resolusi 242 Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Arafat dan gerakannya beroperasi dari beberapa negara Arab. Pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an, Fatah berhadapan dengan Yordania dalam sebuah perang sipil. Diusir keluar dari Yordania dan terpaksa mengungsi ke Lebanon, Arafat dan Fatah merupakan target utama invasi militer Israel atas negara tersebut pada tahun 1978 dan 1982. (Wikipedia)

Karakteristik Karya

Karya Agus Suwage kerap menyajikan pendekatan apropriasi berkelanjutan dari karya seniman lain maupun karya lamanya sendiri yang terus menerus dibuat ulang dan dikembangkan dalam lapisan yang berbeda.

Apropriasi dalam penciptaan karya seni bisa diartikan sebagai kecenderungan menggunakan atau meminjam karya orang lain sebagai pijakan. Meminjam elemen-elemen suatu karya untuk menciptakan karya baru.

Karya yang dipinjam bisa sangat beragam, dari produk budaya populer sampai karya-karya masterpiece dari berbagai rentang waktu dengan segala konsep sosio-historis dan politik yang melatarbelakanginya. Apropriasi juga dapat dikatakan menciptakan karya seni baru dengan menggunakan prinsip yang sama dengan karya seni orang lain. Gagasan dari karya seni yang dilempar cenderung berbeda dari karya seni yang menjadi tinjauan, bisa lebih terbarukan tentang isu yang sama atau-pun tak ada hubungannya sama sekali dengan gagasan karya yang menjadi tinjauan, bisa pula menyindir, menyanggah, atau merevisi. (bersyeni)

Karya-karya Suwage seperti membenarkan klaim bahwa seni kontemporer memijakkan dirinya pada posmodernisme.

Karya-karyanya dianggap berhasil menghidupkan kembali jenis seni rupa yang nyaris diabaikan selama ini yaitu gambar (drawing).

Agus Suwage menghadirkan persoalan ketegangan antara kesadaran individu pada karya-karyanya, seperti pernyataannya yang menyatakan pandangannya bahwa: “Ada bermacam-macam paksaan yang tidak bisa ditolak dan membuat kita tidak punya pilihan. Paksaan itu tidak bisa dibilang jahat, tapi kenyataannya mengikat, menyakitkan, bahkan menakutkan.”

Media Lukisan Agus Suwage

Ketika awal berkecimpung dalam dunia seni rupa, karya Agus Suwage lebih condong ke tema komentar sosial. Bahan atau alat yang digunakan Suwage dalam berkarya juga tak lepas dari keanehan atau tidak lazim. Seperti menggunakan pelat alumunium atau juga menggunakan aspal dan tanah sebagai media. Baginya melukis di atas kertas lebih menarik daripada melukis menggunakan kanvas. Melalui penggunaan cat air dan cat minyak, Agus Suwage mampu mengekplorasi teknik yang menampilkan efek transparan.

Karya Agus Suwage Tahun 1990-an

Banyak karya Suwage, terutama hingga 1990-an, menampilkan ruang trimatra (tiga dimensi) yang didatarkan. Karya “Keberangkatan”, menampilkan satu “perahu-gerobak” berdayung mengangkut sejumlah kepala.

Karya dilengkapi mekanik berbunyi gemuruh membuat gerak mendayung perlahan. Latar belakang “kendaraan” ini adalah gambar charcoal berupa gerobak yang sama membawa tubuh-tubuh tanpa kepala.

Latar belakang gambar adalah citra sebuah pojok ruangan berbatas dinding. Ditempatkan di ujung Bale Tonggoh SSAS, latar gambar ini terasa meniru batas ruangan. Bentuk trimatra dilengkapkan dengan ilusi dwimatra (dua dimensi).

Potret Diri Sebagai Kritik Sosial dan Trademark

Jika kita melihat dalam beberapa hasil karya Agus Suwage, self-potrait tidak hanya menjadi sebuah subjek independen yang menjadi titik pusat, akan tetapi juga hadir berdampingan dengan elemen yang lain. Karya Agus merupakan kombinasi antara refleksi diri dan kontradiksi tentang “diri” itu sendiri. Dengan menggunakan kameranya, Agus merekam berbagai pose dan raut wajah miliknya, yang kemudian diteruskannya dalam gambar atau lukisan.

Dengan cara tersebut, Agus dianggap menerima fakta bahwa ketika dia menjadi subjek, di saat yang sama dia juga menjadi objek. Hasil karyanya kemudian dianggap dapat menggambarkan bahwa “diri” dapat dipisah-pisah, menjadi pusat dari subjektifitas-diri, dan identitas mengenai diri akan selalu berubah ketika hadir diantara kehidupan sosial.

Agus Suwage kerap menggunakan foto dirinya dalam berbagai pose dan latar belakang, untuk menyampaikan kritik atas isu sosial-politik di sekitarnya.

”Potret-diri (self-portrait) merupakan “trademark” karya seni rupa Agus Suwage yang merupakan hasil pengolahannya yang intens untuk menghadirkan sejumlah persoalan; tubuh, gender, seni rupa, citra fotografi, persoalan sosial-politik, sejarah, eksistensi diri manusia, kritik sosial, hingga kritik diri.

Kutipan Kurator

Pada sebagian besar karyanya, Suwage lebih menyelami dunia lintas batas: antara dirinya dan orang lain, antara manusia dengan jenis makhluk lain, antara kerumitan dan kemudahan, antara yang biasa dengan yang luar biasa, antara netralitas dan paradoksal. Dan sejak lama ia telah meninggalkan pesan-pesan komunal ideologis (karya-karya dengan ide politik) dalam karyanya, karena ia selalu merasa bahwa dirinya adalah orang yang cepat jenuh. Perasaan cepat jenuh inilah yang selalu mengikuti pergolakan media yang dipakainya pula. (Mikke Susanto – In Between, Perupa Dalam Rotasi Media).

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source www.artnet.com http://www.artnet.com/artists/agus-suwage/1000-years-series-yasser-arafat-PTsvBQTEWGBqONjmSVgk2Q2 http://www.biennalejogja.org/2013/artist/agus-suwage-idn/
Comments
Loading...