Lukisan “40000 Souls Falling” (Heri Dono)

40000 Souls Falling - Heri Dono
0 1.394

Lukisan “40000 Souls Falling” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Heri Dono.

40000 Souls Falling – Heri Dono
  • Judul : “40000 Souls Falling”
  • Tahun : 2008
  • Media : Mixed Media on Canvas
  • Ukuran : 200 cm x 150 cm

Deskripsi Lukisan “40000 Souls Falling”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya kontemporer, animisme. Dengan teknik melukis menggunakan media campuran di atas kanvas.

Makna Tersirat

Terlepas dari benar atau tidaknya, dalam lukisan ini pelukis menggambarkan empat puluh ribu jiwa jatuh. Sebelas Desember setiap tahun diperingati sebagai hari berkabung rakyat Sulawesi Selatan. Peringatan tersebut dimaksudkan untuk mengenang kembali peristiwa jatuhnya korban yang tidak terhitung jumlahnya dari rakyat Sulawesi Selatan akibat tindakan teror tentara Belanda yang beranggotakan 123 orang di bawah pimpinan Kapten KNIL Reymond Paul Pierre Westerling.

Raymond Pierre Paul Westerling (lahir di Istanbul, Kesultanan Utsmaniyah, 31 Agustus 1919 – meninggal di Purmerend, Belanda, 26 November 1987 pada umur 68 tahun) adalah komandan pasukan Belanda yang terkenal karena memimpin Pembantaian Westerling (1946-1947) di Sulawesi Selatan dan percobaan kudeta APRA di Bandung, Jawa Barat.

Di setiap tempatnya bertugas sebagai kepala pasukan anti-teror/detasemen pasukan khusus atau disebut DST (Special Forces Depot) atau Korps Speciale Troepen – KST (Korps Pasukan Khusus), ia selalu menerapkan metode pembersihan yang cenderung membabi-buta, mencontoh kisah sukses Gestapo, polisii rahasia NAZI yang dibesut Hitler di era Perang Dunia II. Meski kejam, tapi pemerintah colonial Belanda kala itu menghargai ‘upaya’ sang Jagal berjuluk “The Turk” itu sebagai metoda efektif untuk meredam perlawanan gerilyawan Indonesia kala itu.

Korban Pembantaian

Berbeda dengan versi buku sejarah Indonesia yang menyebut jumlah korban pembantaian Westerling di Sulawesi Selatan tahun 1946-1947 sekitar 40.000 jiwa, pemerintah Belanda sendiri menengarai jumlah korban ‘hanya’ sejumlah antara 3000-5000 jiwa.

Westerling sendiri dalam memoir nya di dua buku, otobiografi berjudul Memoires yang terbit tahun 1952, dan De Eenling yang terbit tahun 1982, hanya menyebutkan jumlah korban sekitar 400-600 jiwa. Menurut Petrik Matanasi, sejarahwan yang menetap di Yogyakarta, korban Westerling dalam peristiwa Pembantaian di Sulsel hanya berkisar pada ribuan dan tidak sampai puluhan ribu.

Angka 40 ribu jiwa sejatinya memiliki keganjilan. Prosesi pembantaian Westerling yang dimulai pada subuh hari tanggal 11 Desember 1946 di desa Batua Makassar, dari 3000 jiwa yang dikumpulkan di lapangan terbuka, ada 44 lelaki yang dianggap “teroris” kemudian dieksekusi di tempat, termasuk 9 pemuda yang mencoba melarikan diri.

Dua hari kemudian, 12-13 desember 1946 korban Westerling bertambah 81 orang, dengan menembaki membakar hangus desa-desa di Tanjung Bunga dan sekitarnya. Tanggal 14-15 desember 1946, ada 23 orang dibunuh oleh tentara Westerling, kemudian tanggal 16-17 desember 1946 ada 33 penduduk Sulsel yang dianggap gerilyawan dibunuh.

Yang paling parah adalah periode dari tanggal 26 Desember 1946 hingga 3 Januari 1947, ada 257 orang yang dibunuh pasukan DST pimpinan Westerling di daerah Gowa. (daengbecakmks)

Karakteristik Karya

Lukisan Heri Dono adalah hasil cipta, karsa, dan rasa, yang mempunyai nilai estetik, artistik, serta mempunyai tujuan dalam penciptaannya. Sebagai karya estetik, karya seni tersebut mempunyai nilai universal, artinya bisa dinikmati oleh orang lain, boleh diinterpretasi sesuai dengan kapasitas estetis pengamatnya.

Karya-karya Heri Dono baik berupa lukisan, instalasi, maupun seni pertunjukan senantiasa mengandung kritik sosial. Mencakup beragam persoalan dalam spektrum yang sangat luas. Mulai dari masalah sosial, politik, kebudayaan, lingkungan, dan perkembangan teknologi. Masalah-masalah itu ditampilkan secara karikatural, satir, dan parodikal.

Tema Wayang Karya Heri Dono

Heri Dono dikenal dengan karya-karyanya yang berbasis seni tradisi, khususnya seni wayang kulit yang sangat populer dalam masyarakat Jawa. Sebagai seorang perupa, Heri Dono dalam mengekspresikan ide-idenya banyak mengeksplorasi rupa atau bentuk dan karakter dari tokoh-tokoh dunia pewayangan.

Khususnya, Heri lebih suka menggambarkan sosok panakawan yang dalam jagat pewayangan. Tokoh tersebut mewakili rakyat jelata yang hidup dalam kesederhanaan. Selain itu, senantiasa mengikuti pihak yang benar, dan kritis terhadap perilaku penguasa.

Sepertinya Heri ingin mengatakan, bahwa peran seorang seniman tak ubahnya peran panakawan dalam dunia pewayangan. Yakni menghibur sekaligus menawarkan kritik terhadap lingkungan sekitarnya dan kekuasaan.

Konsistensi eksplorasi terhadap dunia wayang dalam karyanya mengantarkan Heri Dono mendapat penghargaan Unesco Prize untuk kategori Education Art pada tahun 2000.

Unsur Humor dalam Karya Heri Dono

Unsur humor merupakan ciri khas karya-karya Heri Dono. Dalam wawancara dengan seorang wartawan, Larry Polansky, usai menggelar karya instalasinya di kota kecil Harima, Jepang, Heri menjelaskan konsep humor dalam setiap karyanya. Menurutnya, seperti dalam seni teater tradisional Jawa ‘Ketoprak’, atau pentas lawak Srimulat, dan wayang, kehadiran pembantu yang lucu seperti panakawan sangat diperlukan.

Keberadaan mereka penting untuk menyampaikan kritik dengan cara yang lucu terhadap kelompok masyarakat yang lebih tinggi derajatnya.

Tema Kartun

Dalam banyak lukisannya, Heri Dono menampilkan deformasi liar dan fantasi bebas yang memunculkan karakter cerita wayang.

Pengetahuan mendalam tentang film kartun anak-anak, film animasi, dan komik, membuat karyanya selalu dipenuhi dengan karakter dari cerita fantastis yang tidak masuk akal.

The Secret Code of Heri Dono

Bagi seniman/perupa, studio adalah ruang pribadi yang menjadi laboratorium seni yang menunjukkan proses berkarya, pengembangan pengetahuan baru dan dokumentasi atas miniatur sejarah. Ketiadaan museum seni rupa di Indonesia menjadi kekhawatiran Dono. Sehingga memunculkan gagasan untuk menyelenggarakan program pameran “The Secret Code of Heri Dono“.

Sebuah program yang mencoba memaparkan kode rahasia Heri Dono dalam berproses karya sejak dari awal melalui penggalian arsip dokumen dan foto mulai tahun 1980-an. Sketsa dan catatan pribadi, sumber inspirasi dari buku-buku yang dibaca, juga pengaruh dari pemikiran seniman lain yang hadir secara nyata di ruang kerja pribadinya.

Museum mengacu pada tempat di mana hal-hal dan nilai-nilai yang diawetkan, dipelajari, dan dikomunikasikan yang bisa dipakai sebagai tanda untuk menafsirkan fakta yang tidak hadir pada museum.

Dengan demikian, museum bisa dipahami sebagai “tempat memori”. Gagasan inilah yang digunakan pijakan oleh Heri Dono sebagai pemahaman awal fungsi museum dalam konteks ruang, dalam membekukan pemikiran dan nilai.

Kutipan Kurator oleh Mikke Susanto

Kurator Mikke Susanto membagi karya-karya Heri dalam empat arena, yakni arena kehidupan di sekitar dirinya sendiri sebagai seniman, situs arkeologis baru, isu politik, dan catatan tentang alam.

Menurut Mikke, isu politik merupakan tema yang sejak lama digarap Heri Dono. Misalnya, ia mengangkat kembali tema lukisan legendaris “The Sumission of Diponegoro karya Nicolaas Pieneman. Puluhan tahun lalu, pelukis Raden Saleh telah membuat versi lain dari karya itu dengan judul “Penangkapan Pangeran Diponegoro“.

Dengan mengacu pada dua karya tersebut, Heri Dono membuat lukisan berjudul “Salah Tangkap Diponegoro (2007), dan kemudian “The Error of Pieneman’s Perspective“. Dalam dua karya itu, ia menampilkan figur-figur politisi era sekarang, mulai dari Soeharto, Susilo Bambang Yudhoyono, Gus Dur hingga Antasari Azhar.

Majalah Artlink di Australia mencatatnya sebagai salah satu perupa yang paling sering diundang ke biennale internasional. Ia bahkan disebut sebagai satu dari 100 perupa avant-garde dunia saat ini.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://archive.ivaa-online.org http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/heri-dono-1/page:7 http://youpainting.blogspot.com/2011/05/heri-dono-mengangkat-tradisi-dalam-seni.html?m=1
Comments
Loading...