Lukisan “A Balinese Legong Dancer” Karya Trubus Soedarsono

A Balinese Legong dancer - Trubus Soedarsono
0 6.003

Lukisan “A Balinese Legong Dancer” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Trubus Soedarsono.

A Balinese Legong Dancer – Trubus Soedarsono
  • Pelukis : Trubus Soedarsono
  • Judul : “A Balinese Legong Dancer”
  • Tahun : –
  • Media : Oil on Canvas
  • Ukuran : 140 cm x 78 cm

Deskripsi Lukisan “A Balinese Legong Dancer”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya naturalisme, realisme. Dengan teknik melukis menggunakan media cat minyak di atas kanvas.

Tema Lukisan

Trubus, pelukis dan pematung. Trubus tidak menciptakan lukisan-lukisan bermuatan politik dan protes sosial. Berbeda dengan  penyair Wiji Tukul, syair-syairnya kuat dengan protes sosial. Karya-karyanya kebanyakan berupa lukisan penari Bali dan gadis berkebaya. Bahkan patung-patung buatannya berupa patung pahlawan yang dipajang di sejumlah kota. Salah satu karya patungnya dalah patung Jenderal Oerip Soemohardjo di Magelang.

Trubus mengubur kehidupannya yang miskin dalam tema-tema lukisannya yang serba indah, seperti kembang sepatu, penari cantik, pemain piano, tafril lingkungan yang asri. Beberapa karya Trubus juga menjadi koleksi Presiden Sukarno yang kemudian dibukukan dalam buku koleksi, yaitu lukisan “Potret Wanita,” “Putri Indonesia,” dan patung batu berjudul “Gadis dan Kodok.”

Lukisan-lukisannya sangat disukai oleh sang Proklamator. Banyak karyanya yang menghiasi dinding istana. Dalam dokumentasi istana kepresidenan, banyak terdapat lukisan-lukisan karya Trubus.

Di dalam karyanya, Trubus memberikan bekas misterius dan mengungkapkan nilai spiritual. Beberapa karyanya yang dikenal luas yaitu Balinese Dancer dan Noctumo.

Seperti pelukis-pelukis lain pada masa tahun 1960-an. Trubus banyak mengungkapkan kehidupan masyarakat bawah sebagai upaya menggambarkan kebenaran realitas yang didasarkan pada paradigma estetik kerakyatan.

Trubus seorang seniman dengan banyak pengalaman, terlibat dalam sejumlah pembuatan patung monumental seperti Patung Selamat Datang di Jakarta yang dirancang oleh Edi Soenarso dan Henk Ngantung. Petualangannya dalam berseninya tidak hanya di Indonesia saja namun juga dikota-kota besar di manca negara, karena Trubus pernah dikirim untuk misi kebudayaan oleh Presiden Soekarno ke sejumlah negara di Eropa.
Trubus mendirikan sanggar dan pusat aktivitas seni di Sleman Yogyakarta, ditempat inilah ia banyak menciptakan karya seni dan memberi ilmu kepada seniman-seniman muda yang berguru kepadanya.

Kematian Tanpa Batu Nisan

Pasca kudeta Gerakan 30 September 1965, para anggota Lekra diburu oleh lawan politiknya, Trubus dikabarkan hilang, aktivitas berkeseniannya terhenti begitu saja pada September tahun 1966. hilang dan sampai hari ini keluarganya tidak pernah mengetahui keberadaanya dimana, diduga ia telah wafat. Trubus Soedarsono seorang seniman besar yang kematiannya tanpa ditandai batu nisan.
Pelukis Trubus Soedarsono tidak sama dengan penyair Wiji Tukul, namun ahir dari riwayat hidup mereka sama. Mereka sama-sama menjadi korban prahara politik. Semuanya akibat pertentangan ideologi, mereka pergi dan tak pernah kembali lagi kerumah.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://www.artnet.com http://www.artnet.com/artists/trubus-soedarsono/ http://harian.analisadaily.com/mobile/seni/news/trubus-soedarsono-seniman-tanpa-batu-nisan/106262/2015/02/08
Comments
Loading...