Lukisan “A Mountainous in the Preanger” (A. A. J. Payen)

A Mountainous in the Preanger - A. A. J. Payen
0 2.526

Lukisan A Mountainous in the Preanger merupakan salah satu tema karya perupa seni lukis Indonesia, A. A. J. Payen.

A Mountainous in the Preanger – A. A. J. Payen
  • Pelukis : A. A. J. Payen
  • Judul : “A Mountainous in the Preanger”
  • Tahun : 1985
  • Media : Other
  • Ukuran : –

Deskripsi Lukisan A Mountainous in the Preanger

Lukisan ini merupakan lukisan landscape dengan gaya Mooi Indie. Dengan teknik melukis menggunakan bahan lain. Dalam lukisan ini pelukis menggambarkan tentang sebuah gunung di Parahyangan.

Makna Lukisan

Parahyangan atau Priangan (Bahasa Belanda: Preanger) adalah wilayah bergunung-gunung di Jawa Barat di mana kebudayaan Sunda merupakan kebudayaan yang dominan di wilayah tersebut. Wilayah Priangan secara tradisional mencakup Kabupaten Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Cimahi, Bandung, Cianjur, Sukabumi dan Bogor.

Sebelum jatuh ke dalam kekuasaan Mataram, wilayah Priangan mencakup wilayah antara sungai Cipamali di sebelah timur dan sungai Cisadane di sebelah barat, kecuali wilayah Pakuan Pajajaran dan Cirebon. Setelah kekuasaan Kerajaan Sunda di Pakuan diruntuhkan oleh Kesultanan Banten (1579/1580), wilayah peninggalannya terbagi ke dalam dua kekuasaan: Kerajaan Sumedang Larang dan Kerajaan Galuh. Sumedang Larang yang pusat pemerintahannya di Kutamaya (wilayah barat Kota Sumedang saat ini) dipimpin oleh Prabu Geusan Ulun (1580-1608).

Takluk ke Mataram Sunting

Sepeninggal Prabu Geusan Ulun, kekuasaan Sumedang Larang diwariskan kepada anak tirinya, Raden Aria Suriadiwangsa (1608-1624). Tahun 1620, karena terjepit oleh tiga kekuasaan (Mataram di timur, Banten dan Kompeni di barat), Aria Suriadiwangsa memilih menyerahkan diri ke Mataram (ibunya, Ratu Harisbaya, adalah saudara Sutawijaya). sejak saat itu, Sumedang Larang diubah menjadi Kabupaten Sumedang di bawah kekuasaan Mataram, demikian pula wilayah lainnya yang kemudian menjadi bawahan Mataram yang diawasi oleh Wedana Bupati Priangan. Untuk jabatan Wedana Bupati Priangan, Sultan Agung memilih Aria Suriadiwangsa dengan gelar Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata (Rangga Gempol I, 1620-1624).

Ketika kekuasaan Priangan dipegang oleh Pangeran Rangga Gede (mewakili Rangga Gempol yang ditugaskan untuk menaklukkan daerah Sampang, Madura), Sumedang diserang Banten. Karena tidak mampu mengatasi serangan Banten, Rangga Gede kemudian ditahan di Mataram, sedangkan Priangan diserahkan kepada Dipati Ukur, dengan syarat harus merebut Batavia dari VOC. Dipati Ukur saat itu menjabat Wedana Bupati Priangan di wilayah Bandung saat ini membawahi wilayah Sumedang, Sukapura, Bandung, Limbangan, serta sebagian Cianjur, Karawang, Pamanukan, dan Ciasem. Namun karena gagal memenuhi syarat merebut Batavia (1628), dan sadar bahwa dirinya akan dihukum oleh Sultan Agung, Dipati Ukur berontak. Pemberontakan Dipati Ukur baru bisa dilumpuhkan pada tahun 1632, setelah Mataram dibantu oleh beberapa pemimpin Priangan. Jabatan Wedana Bupati Priangan selanjutnya diserahkan kembali kepada Rangga Gede.

Akibat pemberontakan Dipati Ukur, dalam Piagam Sultan Agung bertanggal 9 Muharam tahun Alip (menurut F. de Haan, tahun Alip sama dengan tahun 1641 Masehi, tetapi ada beberapa keterangan lain yang menyebutkan bahwa tahun Alip identik dengan tahun 1633).

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda (1808-1942), status Priangan adalah karesidenan yang awalnya beribukota Cianjur dengan nama Belanda Preanger Regentschappen. Dikarenakan letusan Gunung Gede, ibukota Karesidenan ini mulai tahun 1864 dipindahkan ke Bandung. Dengan masuknya Galuh (awal abad ke-19), wilayah Karesidenan Priangan bertambah: Priangan menjadi 6 kabupaten; Cianjur, Bandung, Sumedang, Limbangan, Sukapura, dan Galuh.

Gunung di Parahyangan

Ada banyak sekali jumlah gunung di Parahyangan yang layak untuk dikunjungi dan didaki serta dinikmati keindahan alamnya yang sangat luar biasa. Gunung tersebut seperti Gunung Gede, Gunung Kancana, Gunung Ciremai, Gunung Masigit, Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Salak, Gunung Malabar, Gunung Burangrang, Gunung Tampomas, Gunung Bukit Tunggul, Gunung Calancang, Gunung Gunung Guntur, Cakra Buana, Gunung Talagabodas, Gunung Haruman, Gunung Karacak, Gunung Cupu, Gunung Galunggung, Gunung Bongkok, Gunung Cula Badak dan Gunung Syawal.

Menariknya, dari semua rangkaian gunung tersebut yang juga mengelilingi daerah Parahyangan atau priangan, terdapat banyak sungai yang juga menjadi daya tarik untuk wisatawan sekaligus membuat daerah sekitarnya sangat subur.

Parahyangan yang merupakan dataran tinggi atau pegunungan yang ada di Jawa Barat yang juga merupakan tempat yang sakral bagi Suku Sunda zaman dahulu. Itulah alasan mengapa dataran tinggi tersebut mendapatkan nama Parahyangan atau Priangan dimana nama tersebut diambil dari ‘rahyang’ atau ‘hyang’ yang artinya Dewa atau Tuhan. Suku Sunda zaman dulu percaya jika daerah Parahyangan merupakan tempat singgahnya para dewa. (Sumber : https://pesonabumiparahyangan.com/wisata-gunung-gunung-di-daerah-parahyangan/)

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://archive.ivaa-online.org http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/aaj-payen https://id.m.wikipedia.org/wiki/Parahyangan
Comments
Loading...