Lukisan “Abstract in Violet” (Hanafi)

Abstract in Violet - Hanafi
0 25.241

Lukisan Abstract in Violet merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Hanafi.

Abstract in Violet – Hanafi
  • Pelukis : Hanafi
  • Judul : “Abstract in Violet”
  • Tahun : 2001
  • Media : Oil on Canvas
  • Ukuran : 160 cm x 60 cm

Deskripsi Lukisan Abstract in Violet

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya abstrak. Dengan teknik melukis menggunakan cat minyak di atas kanvas. Ketika melukis Hanafi tak pernah meniru apa yang nampak pada mata. Ia lebih mempercayai apa yang ‘nampak di dalam’. Satu bidang kanvas yang besar bisa selesai dalam waktu kurang dari 30 menit, dan apapun yang berlangsung di dalam proses itu menjadi aspek penting dalam lukisan. Tak ada lukisan yang ia anggap gagal. Kepercayaan Hanafi pada keotentikan ekspresi dan proses melukis, dan terlebih lagi pada ‘bahasa abstrak’ yang ia tekuni, menyebabkan lukisan-lukisannya cenderung ‘non-objektif’, personal dan idiosinkratik (khas individu tertentu).

Catatan Kuratorial oleh Agung Hujatnikajennong

Karya Abstrak Hanafi

Untuk meninjau karya-karya seni rupa yang disebut ‘abstrak’ hari-hari ini, apalagi di luar konteks Barat seperti Indonesia, yang pertama-tama harus kita lakukan adalah menghindari generalisasi. Tilikan terhadap persoalan sejarah menjadi penting. Tanpa harus serta-merta menihilkan segala macam bentuk kemungkinan konektivitas dan hubungan sebab dan akibat. Misalnya antara ‘yang lokal’ dan ‘yang global’, konteks ruang dan waktu di mana karya-karya itu lahir harus dilihat secara lebih kritis dan rinci.

Dalam narasi sejarah, posisi Hanafi dan karya-karya abstraknya cenderung menyimpang, dan oleh sebab itu unik. Agung mengemukakan sekurang-kurangnya karena dua alasan yang justru bisa memberikan peluang menarik untuk mempersoalkan kembali seni rupa abstrak di Indonesia. Pertama, Hanafi memulai karir kesenimanannya secara serius pada awal 1990-an, ketika seni rupa abstrak justru menyurut dominasinya dan banyak seniman di Indonesia justru melakukan eksodus besar-besaran menuju ‘seni representasional’ (dalam berbagai mediumnya: lukisan, fotografi, patung, instalasi, fotografi, performans, video, dll.). Kedua, dari segi asal-muasal, seni abstrak Hanafi boleh jadi cenderung terpisah dengan diskursus seni abstrak yang dominan di Indonesia: Jika selama ini diskusi-diskusi tentang seni abstrak dan formalisme (prinsip-prinsip pembentukan) selalu dikaitkan dengan keberadaan ‘Mazhab Bandung’, nyatanya Hanafi justru tak pernah mengenyam pendidikan formal di Bandung.

Prinsip Sapuan Kuas Hanafi

Karya-karya Hanafi dalam pameran Migrasi Kolong Meja #1 memperlihatkan bagaimana Hanafi tampaknya masih kukuh pada pendiriannya. Untuk menggarap bidang-bidang kanvas yang luas. Yang memungkinkannya bermain di antara laburan-laburan kuas yang intens, dan garis-garis yang ditorehnya secara spontan. Yang nampak secara dominan pada lukisan-lukisannya sama sekali bukan kesan-kesan yang mengarah kepada persepsi kita tentang objek-objek representasional apapun. Sekilas kita akan ‘hanya’ mengenali sapuan-sapuan cat dan torehan-torehan garis.

Jejak tindakan melabur dan menoreh sepertinya menjadi ‘objek’ dalam lukisan-lukisan Hanafi, apa adanya: warna sebagai warna, sapuan cat sebagai sapuan, garis sebagai garis, dan seterusnya. Akan tetapi, mempersamakan lukisan-lukisan itu dengan formalisme belaka adalah suatu penyederhanaan yang bermasalah. Formalisme memang menjadi jiwa seni rupa modern yang terwujud dalam seni abstrak. Karena itu pengertian modernisme hampir-hampir sebangun dengan pengertian formalisme.

Hanafi memang seorang pelukis abstrak yang tulen. Rangkaian karya Hanafi selama dua puluh tahun ke belakang menunjukkan kesetiaannya pada bahasa dan metode abstraksi. Jikapun ada sebagian kecil lukisan ataupun instalasi yang bergeser dari kecenderungan abstraknya, karya-karya itu lebih merupakan suatu perluasan dari caranya memikirkan suatu persoalan. Kita memang selalu dapat menemukan kesesuaian antara apa yang kita lihat pada lukisan-lukisan Hanafi dengan prinsip-prinsip estetik seni abstrak yang formalistik. Dengan menegaskan parameter estetik bahwa bentuk adalah yang paling utama, maka seni rupa abstrak dapat menetapkan dan menjustifikasi “kebenaran” dan “keutamaan”-nya dibandingkan prinsip-prinsip seni yang lain.

Sebelum memulai melukis, Hanafi tak pernah punya rancangan apapun. Apa yang tampil sebagai hasil akhir bergantung pada momen-momen yang sangat rinci dalam prosesnya melukis. Sejumlah pengamat telah mencatat bagaimana Hanafi mengibaratkan proses melukis bagai suatu katup yang melepaskan suatu daya subjektif, yang hanya akan muncul pada suatu momen tertentu.

Metode Melukis Hanafi

Metode melukis Hanafi sepertinya ekspresionistik. Tapi berbeda dengan pendekatan ekspresif yang menekankan perasaan dan emosi personal yang langsung. Cara melukis Hanafi tak bergantung pada aspek-aspek psikis ataupun mental apapun. Keseniannya tidak mengutamakan manifestasi dari perasaan-perasaan subjektif. Bukan pula menjadi katarsis atau pemurnian diri dari persoalan-persoalan psikologis yang membebani. Alih-alih, caranya mengolah bidang-bidang kanvas justru lebih bergantung pada nalar. Jika abstrak formalisme identik dengan pemecahan masalah bentuk melalui suatu metodologi visual. Misalnya melalui penyederhanaan, stilisasi atau deformasi objek. Metode abstraksi Hanafi lebih menyerupai suatu negasi terhadap logika visual objek-objek. Ia juga mengakui bagaimana keterlibatan gerak tubuh maupun gestur dalam proses kerja melukis. Yang seringkali berperan dalam mengaburkan atau menyembunyikan bentuk, terkadang sampai tingkat yang paling radikal.

Kekhasan Karya Hanafi

Yang paling khas dari Hanafi adalah caranya mengolah terlebih dahulu gagasan melalui pendekatan puitik sekaligus retorik pada objek. Agung mengatakan ‘retorik’ karena dalam prosesnya gagasan-gagasan Hanafi terkait dengan asosiasi-asosiasi dalam logika bahasa verbal. Sebelum melukis Hanafi seringkali merasa harus terlebih dahulu menemukan problematika konseptual, kalau bukan filosofis, pada objek, dan pada apa yang diingatnya tentang objek itu. Namun berbeda dengan seniman konseptual yang cenderung menyelesaikan problematika gagasan dan penciptaan melalui suatu metode yang sistematik, proses melukisnya pada akhirnya bukanlah jawaban dari pertanyaan, atau bentuk final dari asosiasi-asosiasi yang liar itu. Karena proses melukisnya yang cenderung ‘otomatis’, Hanafi tidak menganggap karya-karyanya suatu visualisasi pemikiran, melainkan sebagai entitas yang lahir dari gagasan awal, namun terpecah dan bermutasi dengan logikanya sendiri.

Abstrak di Mata Hanafi

Agung cenderung mengatakan bahwa kekhasan seni lukis abstrak Hanafi terletak pada keberaniannya menjelajahi objek-objek yang justru abstrak — ‘abstrak’ dalam pengertian ‘tidak konkret’ atau ‘tak terjamah’, dan pada tingkatan tertentu bersifat reflektif, kalau bukan spekulatif. Perhatiannya pada ruang non-fisik, cahaya, bayangan dan kegelapan, dll. menunjukkan perbedaan dengan pelukis-pelukis abstrak lain yang ‘hanya’ menggunakan objek-objek nyata / konkret (misalnya, lansekap, figur, alam benda, dll.) sebagai titik berangkat. Jika ada seorang pengamat yang mengatakan bahwa Hanafi bekerja dengan pendekatan minimalis. Menurut Agung, ia merasa lebih pas mengatakan bahwa pendekatan itu beroperasi pada tataran visual saja. Sementara pada tataran gagasan Hanafi justru menyukai kompleksitas.

Karya-karya Hanafi membuktikan bahwa seni rupa abstrak di Indonesia tak hanya identik dengan formalisme belaka. Untuk melihat sejauh mana karya-karya itu menunjukkan persinggungan dengan khazanah gagasan yang lebih luas. Simpul-simpul pertemuan pemikiran Hanafi dengan disiplin seni yang lain, terutama arsitektur, sastra dan teater sebetulnya sangat penting untuk ditelaah. Menurutnya beberapa proyek kolaboratif Hanafi — antara lain dengan Andra Matin, Afrizal Malna dan Nukila Amal, misalnya — menunjukkan keterbukaan, keluwesan sekaligus kebebasan Hanafi dalam bekerja. Dengan tabiat artistik yang ‘bebas’ seperti itu, menurut Agung, Hanafi tak akan punya hambatan yang berati untuk terus berkarya sepanjang hidupnya.

Karya Terbaru Hanafi

Sejak pindah ke Jakarta pada 1990-an, di mana ia sekarang tinggal dan bekerja, Hanafi mendapatkan reputasi untuk lukisan-lukisan abstraknya yang cemerlang yang secara halus menyampaikan rasa interior, dunia meditatif. Namun pada saat yang sama lukisan Hanafi menghadirkan jenis penglihatan lain dari bumi Indonesia. Lukisan-lukisan terbarunya adalah seperti ‘ungkapan-ungkapan yang puitis dan abstrak’ – persimpangan menarik dari formalisme abstrak dan semacam realisme sensoris yang dimainkan pada tingkat konseptual dan pelukis.

Komposisinya memiliki estetika minimalis yang telah dibandingkan dengan tradisi Mono-ha Jepang. Tetapi sang seniman juga telah menyematkan kualitas realisme yang halus dalam hubungan spasial antara bentuk-bentuk abstrak. Menggemakan hubungan-hubungan bentuk-bentuk alam dalam lansekap, dan sensasi hadir secara fisik dan emosional dalam lansekap itu. Atau dengan kata lain, pengaturan organik Hanafi tentang ruang dan bentuk sensual adalah seperti peta sensoris dari pengalaman yang dirasakan, dalam kehadiran fisik dari alam.

Palet warna lukisan Hanafi yang elegan dan lembut merupakan satu kesatuan yang unik: pepaduan tingkat keburaman atau kesamaran warna (Tone) antara coklat muda, emas, biru, abu-abu dan putih nampak diresapi dengan pancaran cahaya alami sekaligus transenden (cara berpikir tentang hal-hal yang melampaui apa yang terlihat, yang dapat ditemukan di alam semesta) dan mengakar di bumi. Seni Hanafi tampaknya muncul secara intuitif semacam ruang meditatif terbuka dalam jantung eksistensi itu sendiri. (Sumber : www.sinsinfineart.com)

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source https://www.mutualart.com https://www.mutualart.com/Artwork/Abstract-In-Violet/7BEA2C4BC7296D9D http://www.studiohanafi.com/migrasi-kolong-meja-1/
Comments
Loading...