Lukisan “Ashflow” Karya Arin Dwihartanto Sunaryo

Ashflow - Arin Dwihartanto Sunaryo
0 5.398

Lukisan “Ashflow” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Arin Dwihartanto Sunaryo.

Ashflow – Arin Dwihartanto Sunaryo
  • Pelukis : Arin Dwihartanto Sunaryo
  • Judul : “Ashflow”
  • Tahun : 2013
  • Media : Resin on Canvas
  • Ukuran : 142 cm x 153 cm

Deskripsi Lukisan “Ashflow”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya abstrakkontemporer. Dengan teknik melukis menggunakan media resin di atas kanvas.

Latar Belakang

Arin Dwihartanto Sunaryo lahir pada tahun 1978 di Bandung. Ia belajar seni rupa di Institut Teknologi Bandung, lulus pada tahun 2001, dan memperoleh MFA dari Sekolah Tinggi Seni dan Desain Central Saint Martins, London, pada tahun 2005. Sunaryo mendedikasikan dirinya untuk melukis, mendorong batas-batasnya dengan teknik inovatif.

Ia lebih mengarahkan karyanya untuk buku-buku komik, fiksi ilmiah, dan manga Jepang ke dalam komposisi abstrak yang digerakkan oleh gerakan dinamis, perkembangan entropis, dan kekuatan sentrifugal dan sentripetal yang berganti-ganti yang mengumpulkan dan menyebarkan pigmen pada permukaan lukisannya.

Konsep Karya dan Media Lukisan

Arin Dwihartanto Sunaryo memahami preservasi sebagai tendensi alamiah manusia untuk melawan waktu. Praktik artistiknya berhubungan dengan gagasan-gagasan preservasi bentuk, material, dan benda-benda. Arin menggunakan resin, bukan sekadar sebagai bahan yang menggantikan cat minyak, tetapi juga sebagai substansi khusus-sebuah penemuan ilmiah dan teknologi–yang telah digunakan untuk pengawetan atau restorasi benda-benda alam dan industri. Dalam karyana “Argo”, dengan menggunakan resin dan abu vulkanik, Arin mencoba menangkap dan mengawetkan momen peristiwa alam yang tak terhindarkan: letusan gunung berapi. Untuk rangkaian karya ini, ia sengaja menggunakan abu vulkanik Merapi yang ia kumpulkan di kawasan Gunung Merapi dalam sebuah perjalanan ziarah. Ia sengaja mengkomposisikan garis-garis horizontal serupa dengan potongan penampang lapisan debu yang menutupi area dan benda yang terkena dampak erupsi.

Keingintahuan pada karakter material, di luar dugaan, telah membawa Arin Dwihartanto Sunaryo belajar untuk bernegosiasi dengan ketidakpastian dan penerimaan atas diri sendiri. Seniman lulusan FSRD ITB dan pascasarjana Seni Murni Central Saint Martin’s College of Art & Design pada awalnya mengeksplorasi resin untuk melukis di atas kanvas. Setelah erupsi Gunung Merapi tahun 2010, Arin mendapatkan material serbuk vulkanik untuk menciptakan pigmen bagi resin yang digunakannya untuk melukis. Proses Arin dalam menciptakan karya termasuk unik, karena apa yang nampak di kanvas pada lukisannya sama sekali berbeda dengan yang dilihatnya dalam proses pembuatannya. Hasil akhir karya Arin tidak terduga karena memanfaatkan karakter material resin yang mengalir kemudian membeku dengan cepat.

Di samping kekurangan dan kelebihan, bukan tanpa alasan Arin memilih resin. Selain menciptakan warna nyentrik dari pada cat air, Arin melihat resin merupakan media yang memiliki benang merah dengan konteks lukisan. Keduanya, sama-sama memiliki konsep preservasi.

Di zaman Mesir kuno, resin digunakan untuk mengawetkan mayat. Sementara, lukisan digarap untuk mengabadikan suatu momen dan membagikan informasi tersebut pada generasi-generasi setelahnya. Menurut Arin, hal itu adalah benang merah menarik. Melukis tidak sekadar memindahkan imajinasi menjadi suatu image, tapi ada sebuah pendokumentasian ide.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source https://indoartnow.com/ https://indoartnow.com/artists/arin-dwihartanto-sunaryo https://www.artland.com/artists/cjuy5gkba1x1e0741lgxdi6bp
Comments
Loading...