Lukisan “Astronomi (Pelelintangan)” Karya I Nyoman Mandra

Astronomi (Pelelintangan) - I Nyoman Mandra
0 2.540

Lukisan “Astronomi (Pelelintangan)” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, I Nyoman Mandra.

Astronomi (Pelelintangan) – I Nyoman Mandra
  • Pelukis : I Nyoman Mandra
  • Judul : “Astronomi (Pelelintangan)”
  • Tahun : 1997
  • Media : Oil on Canvas
  • Ukuran : 83 cm x 90 cm

Deskripsi Lukisan “Astronomi (Pelelintangan)”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya ekspresionisme, tradisional. Dengan teknik melukis menggunakan media cat minyak di atas kanvas.

Seni lukis yang dikembangkan Mandra adalah seni lukis tradisi Kamasan berupa ragam seni bercorak khas, yang memiliki kedekatan dengan seni pertunjukan wayang kulit. Ikonografi (cabang sejarah seni yang mempelajari identifikasi, deskripsi, dan interpretasi isi gambar) figur-figur lukisannya kurang lebih sama dengan wayang dan banyak pakem pementasan wayang. Misalnya penempatan tokoh-tokoh di sisi kiri atau kanan gunungan (pohon atau batu) dalam adegan-adegan tertentu adalah pakem yang secara langsung dipinjam dari wayang. Figur-figur di sisi kanan adalah figur-figur positif, para pahlawan seperti Arjuna atau dewa-dewa seperti Siwa. Kepiawaian Nyoman Mandra sebagai seniman berasal dari keterampilan dan pengetahuannya yang luas serta mendalam tentang lakon wayang. Sumber cerita pokok untuk seni rupa Kamasan adalah adicerita India, yakni dari epos Ramayana dan Mahabharata.

Karakteristik Karya

I Nyoman Mandra adalah sosok maestro dalam seni lukis tradisional wayang Kamasan. Ia adalah tokoh terkemuka dari mazhab lukis “klasik” Bali, seni rupa Desa Kamasan, Klungkung.

Sebagai seniman tradisional I Nyoman Mandra dengan teguh mengikuti panggilan jiwanya dan pengabdianya kepada pekerjaanya sebagai seorang seniman tradisional, sesuatu yang dikerjakannya dengan sepenuh hati sejak kecil.

Teknik Lukisan

Nyoman Mandra adalah salah satu tokoh penting yang tetap produktif sebagai pelukis sampai sekarang.

Selain berurusan dengan berbagai masalah pada tataran gagasan yang digarap dalam lakon-lakon MahabrataRamayana, dan sebagainya, dan melibatkan realisasi tatanan bentuk dan problem teknis. Seni lukis Kalasan juga melibatkan tahap-tahap yang harus diikuti di tatanan perilaku, demi mendapatkan hasil yang maksimal. Contohnya, untuk menciptakan lukisan berdasarkan kisah Mahabrata, Nyoman Mandra harus mengawali dengan sketsa (ngereka). Dalam membuat figur, dia harus memperagakan penguasaan atas semua unsur bentuk pertunjukan wayang. Sampai ke titik di mana ia dapat berkarya secara reflek dari ingatannya yang tajam tentang seperti apa ikonografi tiap tokoh, memakai sapuan yang seksama dan spontan, tapi tepat sasaran, dan tanpa pengulangan dalam mewujudkan tiap figur. Inilah bukti dari keempuannya.

Nyoman Mandra tak tertandingi di Kamasan dalam kepiawaian membuat sketsa figur wayang. Selain karyanya setara dengan karya seniman senior manapun dari seluruh penjuru Bali, penguasaannya atas figur-figur wayang yang sangat ekspresif begitu bagus. Dan ini terlepas dari fakta bahwa dia tidak pernah terlatih di akademi. Dia menguasai proporsi ideal wayang, termasuk kontur keseluruhan yang kemudian diperhalus dengan ketelitian dan perhatian terhadap detail. Nyoman Mandra adalah mahaguru Kamasan. Dia menyediakan sketsa dasar bagi semua orang yang berkarya di studionya, yang kemudian diambil-alih oleh para asisten atau cantriknya untuk diwarnai, lalu ditegaskan dengan garis yang lebih tebal, sebelum dipoles dengan kulit kerang untuk menyelesaikan dan mengilapkan permukaan lukisan.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://archive.ivaa-online.org/ http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/i-nyoman-mandra https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/i-nyoman-mandra-pelestari-seni-lukis-kamasan-bali/
Comments
Loading...