Lukisan “Autumn in Suzhou” (Lee Man Fong)

Autumn in Suzhou - Lee Man Fong
0 34.613

Lukisan Autumn in Suzhou merupakan salah satu tema karya perupa seni lukis Indonesia, Lee Man Fong.

Autumn in Suzhou – Lee Man Fong
  • Pelukis : Lee Man Fong
  • Judul : “Autumn in Suzhou”
  • Tahun : 1955
  • Media : Oil on Board
  • Ukuran : 101 cm x 49.9 cm

Deskripsi Lukisan Autumn in Suzhou

Lukisan ini merupakan lukisan realisme, naturalisme dengan gaya mooi indie. Dengan teknik melukis menggunakan cat minyak di atas board.

Lukisan ini menggambarkan suasana musim gugur di Suzhou. Suzhou (aksara Tionghoa Tradisional: 蘇州; aksara Tionghoa Sederhana: 苏州; Pinyin: Sūzhōu; Wade-Giles:Su-chou; kadang-kadang ditulis Su-chow, Suchow, or Soochow) adalah salah satu kota yang paling terkenal di Republik Rakyat Tiongkok. Suzhou, terkenal dengan jembatan batu melengkung, pagoda yang menakjubkan dan taman-tamannya yang indah, merupakan tempat utama industri sutera sejak Dinasti Song (960-1279), dan tetap menjadi pusat sutera di Tiongkok hingga kini. Kota ini terletak di daerah bawah sungai Yangtze atau Changjiang, tepatnya di pesisir danau Taihu, di provinsi Jiangsu, yang termasuk daerah segitiga emas. Suzhou memiliki geografi yang menarik serta transportasi darat, laut, udara yang sangat baik. (Wikipedia)

Makna Lukisan

Lee Man Fong tergolong pelukis maestro sekelas Affandi. Lukisan Lee Man Fong sangat disukai Soekarno karena dipandang seperti ventilasi di tengah sibuknya revolusi.

Lukisan-lukisan Lee Man Fong bersifat orisinil, dengan figur-figur realistik dan penerapan warna yang matang. Dia menggabungkan antara gaya lukis Barat dan gaya Chinese art. Karya Man Fong memberi warna baru bagi dunia seni lukis Indonesia saat ini.

Lukisan Lee Man-Fong yang realistik bukan salinan realitas yang mencari kebenaran. Lee Man-Fong sendiri menyatakan bahwa lukisan realistiknya adalah hasil transformasi observasi realitas yang sangat mendalam. Observasi ini memerlukan penghayatan dan kejujuran. Tentang teknik melukis yang disebutnya ‘rendering’, ia menyatakan teknik ini harus mencapai tingkat kemampuan yang sophesticated untuk bisa merekam hasil observasi realitas.

Seperti terbaca dari judulnya, Man Fong memang senang mengangkat tema-tema sederhana, dari binatang hingga pemandangan alam. Dalam hal pencapaian artistik, karya-karyanya disetarakan dengan karya maestro lukis seperti Affandi, Hendra Gunawan, dan Sudjojono.

Pada 1961, atas anjuran pelukis Dullah, Sukarno mengangkat Man Fong menjadi pelukis istana sekaligus memberinya kewarganegaraan Indonesia. Man Fong menunjuk kawannya, Lim Wasim, sebagai asistennya.

Selain melukis, Man Fong menguratori benda-benda seni koleksi Soekarno. Meski berat menyesuaikan diri dengan pekerjaan yang terjadwal dan urusan protokoler, Man Fong menjalaninya dengan baik. Pada 1964, Man Fong ditunjuk Presiden Sukarno untuk membuat koleksi karya seni Presiden Sukarno. Terbitlah “Lukisan-lukisan dan Parung dari Koleksi Presiden Sukarno dari Republik Indonesia” dalam lima jilid.

Kumpulan lukisannya diterbitkan dalam buku Lee Man Fong: Oil Paintings, dua jilid, oleh Art Retreat Museum pada 2005. Buku ini ditulis kritikus seni Indonesia Agus Dermawan T. Kedua buku itu memuat 471 lukisan pilihan Man Fong milik para kolektor dari seluruh dunia.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://lelang-lukisanmaestro.blogspot.co.id/ https://1.bp.blogspot.com/-adv0TAd9z5A/V5TbzM1ZNCI/AAAAAAAAexE/uH-wB90gDHA499Jrl-hlL4larkLkEM3XQCLcB/s1600/Autumn%2Bin%2BSuzhou%2Bby%2BLee%2Bman%2Bfong.%2B101x49%252C5cm.%2Boil%2Bon%2Bboard%2B%25271956Kong.jpg https://www.google.com/search?q=aliran+lee+man+fong&source=android-browser&prmd=inmv&ei=W3OuWuSSEMeFvQTMwKLIAw&start=10&sa=N&biw=320&bih=453
Comments
Loading...