Lukisan “Balance of the Nature # 1” (I Nyoman Sujana Kenyem)

Balance of the Nature 1 - I Nyoman Sujana Kenyem
0 1.356

Lukisan Balance of the Nature # 1 merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, I Nyoman Sujana Kenyem.

Balance of the Nature 1 – I Nyoman Sujana Kenyem
  • Pelukis : I Nyoman Sujana Kenyem
  • Judul : “Balance of the Nature # 1”
  • Tahun : 2014
  • Media : Mixed Media On Canvas
  • Ukuran : 60 cm x 50  cm

Deskripsi Lukisan Balance of the Nature # 1

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya abstrak. Dengan teknik melukis menggunakan bahan campuran di atas kanvas. Dalam lukisannya, Kenyem mengekspresikan kekagumannya terhadap fenomena urban sembari memasukkan kritik halus.

Catatan Kuratorial oleh Tommy F. Awuy

Jalur Penciptaan Karya

Kenyem adalah salah satu pelukis Bali yang memegang ketahanan sendiri dalam urusan perubahan waktu. Dia tidak secara diam-diam berada di ruang tradisional. Baik dalam dosisnya, dia menggabungkan dirinya sepenuhnya dengan ‘semangat jamannya’. Bagi Kenyem, kreativitas bukanlah pilihan yang kaku untuk identitas yang lengkap dan pilihan akhir dari suatu penciptaan karya. Dia mengalir di jalur yang dia coba ciptakan yang terbukti dalam keunikan lukisannya.

Dalam Pameran tunggal yang bertepatan dengan ulang tahun ke-8 Philo Art Space pada 9 September 2013, Kenyem berpartisipasi dengan menyuguhkan karya-karya uniknya. Philo Art Space memang berfokus pada isu-isu budaya urban, sehingga pada mulanya Kenyem agak pemalu karena menganggap dirinya bukan orang yang sepenuhnya basah kuyup dalam budaya tersebut.

Secara praktis, Kenyem memang tidak menyentuh masalah sehari-hari, namun tidak terlalu jauh. Sebagai sosok yang hidup dan dibesarkan di Ubud – Bali, Kenyem mengalami proses budaya yang unik. Ubud merepresentasikan kondisi yang ‘semuanya ada’: tradisional, modern, super-modern, tenang, tenang, berkilauan, coklat, kuning, putih, hitam, dan lain-lain. Ubud adalah kondisi budaya yang tidak dapat didefinisikan. Dalam lukisan-lukisannya yang dipamerkan, Kenyem mengungkapkan fenomena ambang batas antara ikon-ikon dunia urban seperti bangunan yang menjorok ke langit, pohon-pohon besar dan tinggi sebagai ikon ‘buas bangsawan’ (alam liar yang menakjubkan), antara kota dan desa, antara perkembangan dan ketenangan, dan sejenisnya.

Keunikan Karya I Nyoman Sujana Kenyem

Keunikan ikon Kenyem itu sendiri seperti tokoh aktif: bunga kecil, matahari, bulan, bukit, gunung, jalan dimana kita dapat merasakan keberadaan alam. Secara khusus, ikon-ikon ini membawa kita ke alam ‘bawah sadar’ saat mereka dihadapkan dengan konstruksi kesadaran modern yang disajikan sebagai tatanan bangunan tinggi untuk menggambarkan orang-orang kota superego.

Keestetisannya dapat dilihat dari obsesi orang urban dengan ‘ketinggian’ yang sebenarnya adalah bagian dari misteri kehidupan dunia: bulan, matahari, gunung, dan lain-lain. Obsesi semacam itu jelas merupakan gambaran ambisi orang kota untuk memamerkan ‘ketinggian’ sebagai masalah sehari-hari. Yang dapat dianggap sebagai ‘kekuatan’ untuk mengendalikan kehidupan secara keseluruhan.

Batas Obsesi dan Superego

“Ketinggian” sebagai obsesi atau superego orang kota? Bagaimana kami menjelaskan ini? Orang-orang perkotaan mungkin tidak lagi peduli tentang asal-usul. Mereka dapat dengan mudah memecahkan masalah karena mereka terancam oleh kerumitan masalah yang muncul setelahnya. Dari usia muda mereka dihadapkan dengan berbagai properti untuk dimiliki, dan itu tidak mudah untuk dimiliki tanpa harus melewati perjuangan tertentu.

Namun, ketinggian adalah konsep yang mengacu pada persaingan untuk mencapai ‘puncak tertinggi’. Modernitas memicu persaingan tersebut melalui narasi sejarah manusia yang pada akhirnya akan berakhir pada titik kesempurnaan dimana mereka menemukan ‘jati diri’. ‘Jati diri’ hanya dapat terwujud dalam hubungan antara diri dengan yang lain yang membentuk masyarakat, baik berdasarkan tempat atau tidak. Kota menjadi representasi hubungan sosial di mana masyarakatnya berasal dari berbagai tempat dan harapan mereka sendiri. Dan itu adalah tempat dimana semua harapan mereka menyatu menjadi obsesi untuk mencapai tempat tertinggi yang didorong oleh superego, yang kemudian kita sebut ‘kota’ dari orang-orang perkotaan.

Urbanisasi dalam Karya I Nyoman Sujana Kenyem

Beberapa lukisan Kenyem menunjukkan urbanisasi yang tidak dapat dihindari: kekagumannya pada sebuah kota dengan gedung-gedung tinggi merupakan bagian dari psikologi kita sendiri. Dan mungkin kekaguman tersebut menjadi potensi urbanisasi dengan pemikiran bahwa kita belum dapat dikatakan orang berkembang jika tidak mengejar impian ke kota.

Kota terbuat dari berbagai eksistensi yang tidak saling bersentuhan, seperti dengan pergerakan partikel tanpa pintu (monad). Tetapi di sisi lain, kota menghadirkan komunitas yang kuat kepada Kenyem. Komunitas ini adalah tempat untuk menggantung harapan dari sisa-sisa semangat solidaritas untuk mencapai yang tertinggi. Dengan demikian semangat solidaritas yang umumnya dianggap tidak relevan dalam lingkungan perkotaan karena dipandang sebagai semangat pedesaan adalah sesuatu yang patut diperhatian.

Kenyem tampaknya optimis bahwa glam suatu kota memang menawarkan janji-janji yang mungkin sangat baik untuk menyalurkan potensi kita dan mencapai puncak tertinggi. Tetapi kita juga harus menyadari bahwa, alam bawah sadar kita memegang sifat liar yang menakjubkan pula. Itu merupakan kondisi yang melekat pada kita dan menjadi bagian dari keberadaan kita, baik pada masyarakat perkotaan atau pedesaan. Ingat, hutan konkret sebuah kota hanyalah perpanjangan dari hutan dengan pohon-pohonnya. Yang paling penting adalah memiliki kesadaran diri bahwa tombak superego memiliki “alam bawah sadar” yang menjadi basisnya.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://gallery.komaneka.com/ http://gallery.komaneka.com/artis.php?ArtistID=15 http://philoartspace.com/highest-a-solo-exhibition-by-nyoman-sujana-kenyem/http://philoartspace.com/highest-a-solo-exhibition-by-nyoman-sujana-kenyem/
Comments
Loading...