Lukisan “Barter Pulau Banda dengan Manhattan” (Heri Dono)

Barter Pulau Banda dengan Manhattan - Heri Dono
0 1.360

Lukisan “Barter Pulau Banda dengan Manhattan” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Heri Dono.

Barter Pulau Banda dengan Manhattan – Heri Dono
  • Judul : “Barter Pulau Banda dengan Manhattan”
  • Tahun : 2006
  • Media : Mixed Media on Canvas
  • Ukuran : 199 cm x 150 cm

Deskripsi Lukisan “Barter Pulau Banda dengan Manhattan”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya kontemporer, animisme. Dengan teknik melukis menggunakan media campuran di atas kanvas. Terlepas dari benar atau tidaknya, dalam lukisan ini pelukis menggambarkan figur yang menukarkan pulau Banda dengan Manhattan.

Run atau Rhun adalah pulau terkecil di Kepulauan Banda, Indonesia. Panjangnya hanya sekitar 3 kilometer dan lebarnya 1 kilometer. Letaknya lebih dekat dengan Darwin, Australia daripada ke Jakarta.

Kini, namanya nyaris terlupakan. Namun, di masa lalu ia menjadi subjek persaingan dua imperium, Inggris dan Belanda. Run juga punya arti penting dalam perekonomian global karena hasil buminya yang dulu nilainya setara bahkan lebih mahal dari emas yaitu pala.

Pada Abad ke-17, pala bernilai sangat tinggi. Awalnya, biji tanaman Myristica fragrans itu digunakan untuk mengawetkan makanan. Sementara bagi kalangan berpunya, rempah-rempah tersebut digunakan sebagai bumbu masak yang eksotis.

Hingga akhirnya para dokter di era pemerintahan Elizabeth I mulai memperkenalkan pala sebagai obat untuk penyakit pes-yang pernah mewabah di Eropa, yang dikenal sebagai Black Death atau Maut Hitam.

Kala itu, rempah-rempah berasal dari Kepulauan Banda-yang terdiri atas 10 pulau vulkanis yang tersebar di Laut Banda. Hampir semua dikuasai Belanda. Kecuali Run.

Inggris lalu mengirimkan ekspedisi, menyeberang benua, untuk mencoba mendapatkan pala. Pada tahun 1616, Britania kemudian menjadikan Run sebagai wilayah jajahan.

Saking gembiranya Raja Inggris James I mengubah gelarnya menjadi ‘King of England, Scotland, France, Ireland and Run’.

Meski sudah jadi ‘milik’ Inggris, Belanda tak menyerah. Mereka terus menerus menyerang Run demi mewujudkan niatnya untuk memonopoli perdagangan pala. Pulau tersebut menjadi salah satu penyebab Perang Inggris-Belanda Pertama tahun 1652-1654.

Pada 1667, kedua negara menyepakati Perjanjian Breda. Yang isinya, Run diserahkan pada Belanda, sementara Inggris mendapatkan Pulau Manhattan yang saat itu masih sepi, membosankan, dan tak punya rempah-rempah di Amerika Utara — dan mengganti namanya dari Nieuw Amsterdam menjadi New York City.

Monopoli Belanda terhadap pala runtuh setelah pemindahan pohon tanaman tersebut ke Ceylo-kini Sri Lanka-Grenada, Singapura dan koloni Britania Raya lainnya tahun 1817.

350 tahun kemudian, tanah rawa Manhattan berkembang menjadi kota metropolis dunia. Sedangkan kehidupan Pulau Run berjalan sangat pelan, sejalan dengan harum buah pala yang tak lagi tercium oleh bangsa asing bahkan bangsanya sendiri. (Liputan6)

Karakteristik Karya

Lukisan Heri Dono adalah hasil cipta, karsa, dan rasa, yang mempunyai nilai estetik, artistik, serta mempunyai tujuan dalam penciptaannya. Sebagai karya estetik, karya seni tersebut mempunyai nilai universal, artinya bisa dinikmati oleh orang lain, boleh diinterpretasi sesuai dengan kapasitas estetis pengamatnya.

Karya-karya Heri Dono baik berupa lukisan, instalasi, maupun seni pertunjukan senantiasa mengandung kritik sosial. Mencakup beragam persoalan dalam spektrum yang sangat luas. Mulai dari masalah sosial, politik, kebudayaan, lingkungan, dan perkembangan teknologi. Masalah-masalah itu ditampilkan secara karikatural, satir, dan parodikal.

Tema Wayang Karya Heri Dono

Heri Dono dikenal dengan karya-karyanya yang berbasis seni tradisi, khususnya seni wayang kulit yang sangat populer dalam masyarakat Jawa. Sebagai seorang perupa, Heri Dono dalam mengekspresikan ide-idenya banyak mengeksplorasi rupa atau bentuk dan karakter dari tokoh-tokoh dunia pewayangan.

Khususnya, Heri lebih suka menggambarkan sosok panakawan yang dalam jagat pewayangan. Tokoh tersebut mewakili rakyat jelata yang hidup dalam kesederhanaan. Selain itu, senantiasa mengikuti pihak yang benar, dan kritis terhadap perilaku penguasa.

Sepertinya Heri ingin mengatakan, bahwa peran seorang seniman tak ubahnya peran panakawan dalam dunia pewayangan. Yakni menghibur sekaligus menawarkan kritik terhadap lingkungan sekitarnya dan kekuasaan.

Konsistensi eksplorasi terhadap dunia wayang dalam karyanya mengantarkan Heri Dono mendapat penghargaan Unesco Prize untuk kategori Education Art pada tahun 2000.

Unsur Humor dalam Karya Heri Dono

Unsur humor merupakan ciri khas karya-karya Heri Dono. Dalam wawancara dengan seorang wartawan, Larry Polansky, usai menggelar karya instalasinya di kota kecil Harima, Jepang, Heri menjelaskan konsep humor dalam setiap karyanya. Menurutnya, seperti dalam seni teater tradisional Jawa ‘Ketoprak’, atau pentas lawak Srimulat, dan wayang, kehadiran pembantu yang lucu seperti panakawan sangat diperlukan.

Keberadaan mereka penting untuk menyampaikan kritik dengan cara yang lucu terhadap kelompok masyarakat yang lebih tinggi derajatnya.

Tema Kartun

Dalam banyak lukisannya, Heri Dono menampilkan deformasi liar dan fantasi bebas yang memunculkan karakter cerita wayang.

Pengetahuan mendalam tentang film kartun anak-anak, film animasi, dan komik, membuat karyanya selalu dipenuhi dengan karakter dari cerita fantastis yang tidak masuk akal.

The Secret Code of Heri Dono

Bagi seniman/perupa, studio adalah ruang pribadi yang menjadi laboratorium seni yang menunjukkan proses berkarya, pengembangan pengetahuan baru dan dokumentasi atas miniatur sejarah. Ketiadaan museum seni rupa di Indonesia menjadi kekhawatiran Dono. Sehingga memunculkan gagasan untuk menyelenggarakan program pameran “The Secret Code of Heri Dono“.

Sebuah program yang mencoba memaparkan kode rahasia Heri Dono dalam berproses karya sejak dari awal melalui penggalian arsip dokumen dan foto mulai tahun 1980-an. Sketsa dan catatan pribadi, sumber inspirasi dari buku-buku yang dibaca, juga pengaruh dari pemikiran seniman lain yang hadir secara nyata di ruang kerja pribadinya.

Museum mengacu pada tempat di mana hal-hal dan nilai-nilai yang diawetkan, dipelajari, dan dikomunikasikan yang bisa dipakai sebagai tanda untuk menafsirkan fakta yang tidak hadir pada museum.

Dengan demikian, museum bisa dipahami sebagai “tempat memori”. Gagasan inilah yang digunakan pijakan oleh Heri Dono sebagai pemahaman awal fungsi museum dalam konteks ruang, dalam membekukan pemikiran dan nilai.

Kutipan Kurator oleh Mikke Susanto

Kurator Mikke Susanto membagi karya-karya Heri dalam empat arena, yakni arena kehidupan di sekitar dirinya sendiri sebagai seniman, situs arkeologis baru, isu politik, dan catatan tentang alam.

Menurut Mikke, isu politik merupakan tema yang sejak lama digarap Heri Dono. Misalnya, ia mengangkat kembali tema lukisan legendaris “The Sumission of Diponegoro karya Nicolaas Pieneman. Puluhan tahun lalu, pelukis Raden Saleh telah membuat versi lain dari karya itu dengan judul “Penangkapan Pangeran Diponegoro“.

Dengan mengacu pada dua karya tersebut, Heri Dono membuat lukisan berjudul “Salah Tangkap Diponegoro (2007), dan kemudian “The Error of Pieneman’s Perspective“. Dalam dua karya itu, ia menampilkan figur-figur politisi era sekarang, mulai dari Soeharto, Susilo Bambang Yudhoyono, Gus Dur hingga Antasari Azhar.

Majalah Artlink di Australia mencatatnya sebagai salah satu perupa yang paling sering diundang ke biennale internasional. Ia bahkan disebut sebagai satu dari 100 perupa avant-garde dunia saat ini.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://archive.ivaa-online.org http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/heri-dono-1/page:6 http://youpainting.blogspot.com/2011/05/heri-dono-mengangkat-tradisi-dalam-seni.html?m=1
Comments
Loading...