Lukisan “Bedaya Ketawang – The Beauty of Soul” Karya Srihadi Soedarsono

Bedaya Ketawang - The Beauty of Soul - Srihadi Soedarsono
0 1.368

Lukisan “Bedaya Ketawang – The Beauty of Soul” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Srihadi Soedarsono.

Bedaya Ketawang – The Beauty of Soul – Srihadi Soedarsono
  • Pelukis : Srihadi Soedarsono
  • Judul : “Bedaya Ketawang – The Beauty of Soul”
  • Tahun : 2013
  • Media : Oil on Canvas
  • Ukuran : 150 x 200 cm

Deskripsi Lukisan “Bedaya Ketawang – The Beauty of Soul”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya ekspresionisme, impresionisme, modern kontemporer. Dengan teknik melukis menggunakan cat minyak di atas kanvas. 

Dalam lukisan ini pelukis menggambarkan figur-figur wanita yang sedang menari Bedaya Ketawang. Tari Bedhaya Ketawang (Bahasa JawaTari Bedhoyo Ketawang) adalah sebuah tarian kebesaran yang hanya dipertunjukkan ketika penobatan serta Tingalandalem Jumenengan Sunan Surakarta (upacara peringatan kenaikan tahta raja). Nama Bedhaya Ketawang sendiri berasal dari kata bedhaya yang berarti penari wanita di istana. Sedangkan ketawang berarti langit, identik dengan sesuatu yang tinggi, keluhuran, dan kemuliaan. Tari Bedhaya Ketawang menjadi tarian sakral yang suci karena menyangkut Ketuhanan, dimana segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa kehendak Tuhan Yang Maha Esa. (Wikipedia)

Srihadi Soedarsono tidak memakai konstruksi non konvensional untuk lukisannya, namun untuk menciptakan gaya melukis, penari-penari sangat menginspirasi Srihadi dalam berkarya.

Karakteristik Karya

Karya Srihadi Soedarsono memiliki proses yang panjang dan berkelanjutan. Karya awalnya sangat dipengaruhi oleh hasil ilmu pengetahuan, yaitu geometri sintetik. Lebih lanjut tentang Geometri Sintetik, Euclid adalah orang yang paling terkenal dari geometri Yunani dan namanya masih universal terkait dengan geometri yang dipelajari di sekolah hari ini. Sebagian besar ide-ide yang termasuk dalam apa yang kita sebut sebagai “Geometri Euclid” mungkin tidak berasal dari Euclid sendiri, melainkan kontribusi Euclid adalah untuk mengatur dan menyajikan hasil geometri Yunani dengan cara yang logis dan koheren. Jenis geometri yang dilakukan oleh Euclid, di mana titik dipandang sebagai objek geometri murni, koordinasi tidak digunakan, dan kebenaran geometri dikembangkan oleh penalaran deduktif dari aksioma, disebut geometri sintetis. (repository)

Pada tahun 1960 Srihadi mulai menuju eksperimentasi pada bentuk abstrak, lewat tempelan potongan kertas dan spontanitas warna. Memasuki tahun 1970 karyanya cenderung impresionis lewat cat air dan ekpresionis lewat cat miyak dan sering memasukkan unsur simbolis dalam lukisannya.

Terakhir karyanya muncul dalam bentuk simplifikasi dengan garis horison yang kuat, selain juga lukisan figur-figur puitis yang terinspirasi ajaran Zen.

Srihadi Soedarsono termasuk pelukis produktif, yang banyak menciptakan karya-karya lukisan berkualitas tinggi, dan sering mengadakan event pameran tunggal baik di dalam maupun luar negeri. Karyanya telah banyak dikoleksi oleh kolektor berkelas, dan hingga saat ini lukisannya masih banyak diburu kolektor baik dalam dan luar negeri.

Tema Lukisan Srihadi Soedarsono

Karya-karya lukisan Soedarsono merupakan saksi perjalanan sejarah yang beliau goreskan sejak jaman kemerdekaan hingga jaman modern, tema tentang perjuangan, kehidupan, alam, dan cinta. Semua terkumpul dalam karya-karya lukisannya, baik dalam sketsa maupun dalam karya lukisan dengan berbagai media.

Tema Penari

Gayanya yang ekspresionisme terhadap penari-penari yang dilukiskannya sangat menghidupkan para penari-penari yang ia amati saat itu. Tari-tarian Jawa dan Bali menjadi sumber inspirasi kebanyakan karya-karya penarinya, salah satunya Tari Legong. 

Tari Legong Lasem yang gerakannya terdapat aksi kejar-kejaran peran raja dengan peran burung garuda. Gayanya yang cukup ekspresif tersebut menjadi acuan dalam berkarya selanjutnya. 

Lukisan Jayakarta

Lukisan “Jayakarta”, kisahnya bermula dari lukisan “Air Mancar”, yang memicu kemarahan Ali Sadikin. Karya yang menghasilkan karya penggambaran kota Jakarta, sejak tahun 1527 sampai 1970-an itu dibuat bersama Bengel Dharmakarya di lapangan kampus ITB yang dapat mengakomodasi lukisan berukuran besar.

Lukisan Jayakarta mengandung unsur kenangan akan pembangunan kota Jakarta dari masa ke masa. Ada banyak simbol yang ia lukiskan di lukisan “Jayakarta” ini.

Lukisan “Jayakarta” menceritakan tentang evolusi kota Jakarta. Namun, menurut Ketua Umum Yayasan Mitra Museum Jakarta (YMMJ), Soedarmadji J.H Damais, lukisan tersebut juga sebuah cerminan akan keberhasilan masyarakat menegaskan toleransi di Ibu Kota.

Catatan Kuratorial Oleh Dr. A. Rikrik Kusmara, M.Sn Dalam Pameran Tunggal Karya Srihadi Soedarsono di Art: 1 News Museum, Jakarta

Dr. A. Rikrik Kusmara, M.Sn selaku kurator dalam pameran tunggal Srihadi yang ke-16 mengatakan, Srihadi Soedarsono memiliki concern yang sangat tinggi dalam hal kearsipan, yang terkait dengan perjalanan hidupnya.

Rikrik, melihat karya Srihadi hanya bisa diwakilkan dengan tiga kata, sangat dahsyat, menggetarkan hati, dan sakti sekali. Karena ada sisi lain dari Srihadi, yang cenderung diketahui publik hanya melukis di atas kanvas. Padahal masih banyak materi lain yang belum diketahui khalayak ramai.

Menurut Rikrik, sebagaimana diketahui publik, peradaban terbangun dari empat pilar kehidupan. Yaitu filsafat, agama, science, dan seni. “Dan semua karya Srihadi, telah melewati semua pilar itu, dengan segala kedalamannya”.

Rikrik juga menuturkan, Srihadi mempunyai niat belajar dan eksplorasinya sangat besar sekali. Dengan visi ke depan yang sangat jauh. Buktinya, Srihadi mau belajar abstraksisme di AS langsung, setelah belajar kubisme di ITB. “Sampai akhirnya menemukan esensi garis ketika mengendapkan diri di Bali. Membuat sesuatu menjadi ada dan tidak ada”.

Intinya, bagi Rikrik, perjalanan estetik Srihadi sangat lengkap, dengan ketepatan garis yang luar biasa dalam sketsa, juga drawingnya serta tahap cat airnya. “Sehingga menimbulkan pengertian, sesuatu yang lengkap tapi tidak lengkap dalam setiap karyanya”, ujar Rikrik.

Menurut Srihadi, “Karya seni yang merupakan hasil dari estetika, harus dicampur dengan kebenaran versi kita. Karena harus ada hubungan transendental antara diri kita dengan kejiwaan kita, dalam menghasilkan sebuah karya”. Berdasarkan pemahaman itulah, Srihadi mengaku akan terus berkarya, meneruskan perjalanannnya sampai nanti, “Karena sebagai pelukis tidak ada pensiunannya”. Walau sudah menjadi seorang Maestro seni lukis, Srihadi tetap berjanji untuk terus meningkatkan kualitas karya-karyanya yang selalu berangkat dari kalbu.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source https://www.mutualart.com https://www.mutualart.com/Artwork/Bedaya-Ketawang---The-Beauty-of-Soul/4590CE7024527536 https://www.kompasiana.com/benkebenke/5804919cb07a61ce1c09da4e/srihadi-soedarsono-membaca-maestro-seni-rupa-indonesia?page=2
Comments
Loading...