Lukisan “Beristirahat” (Dede Eri Supria)

Beristirahat - Dede Eri Supria
0 4.990

Lukisan “Beristirahat” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Dede Eri Supria.

Beristirahat – Dede Eri Supria
  • Pelukis : Dede Eri Supria
  • Judul : “Beristirahat”
  • Tahun : 1994
  • Media : Oil on Canvas
  • Ukuran : 90 x 116 cm

Deskripsi Lukisan “Beristirahat”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya superalisme atau Hyper realisme. Dengan teknik melukis menggunakan cat minyak di atas kanvas. Dalam lukisan ini, terlihat figur yang sedang beristirahat di sebuah lantai di samping bangunan-bangunan beton.

Karakteristik Karya

Dede Eri Supria adalah seorang seniman yang banyak mengangkat tema kritik sosial dalam karya-karyanya. Ia merupakan seorang seniman realistis. Namun seperti apa yang telah di apresiasi oleh publik, realisme yang digunakan oleh seorang Dede Eri Supria tidaklah terpresentasi dalam wujud realisme yang “biasa”.

Karya yang hadir dalam kanvas-kanvasnya bukanlah sekedar representasi visual, melainkan juga representasi sosial. Seorang perupa dan pengamat seni, Gendut Riyanto mengatakan bahwa “Dede menggunakan realisme sebagai medium atau realisme sebagai wacana dalam memecahkan fenomena.”

Tak cukup dengan predikat itu, dia juga seorang Maestro yang melukis­kan tentang seni pertunjukkan tari, terutama le­nggak-lenggok gadis Bali. Dede Eri Supria tak hanya dikenal sebagai jagoan dalam me­min­dahkan objek ke bidang kan­vas mirip hasil fotografi, tetapi juga mene­gas­kan simpul lu­kis­an realisme.

Dengan realisme itu, Dede mengungkapkan apa yang ada di dalam jiwa kesenimanannya mengenai kehidupan dan himpitan di zaman modern yang ia rasakan sendiri sebagai manusia yang tinggal di kota.

Hal ini tertuang dalam lukisannya yang berjudul “Labyrinth”, “Survivors” dan “The Urban Class”. Melalui karyanya, Dede seolah mengajak semua orang untuk masuk, hanyut dan menjadi subjek-subjek di dalam lukisannya tersebut.

Objek Menjadi Hidup Dalam Lukisan

Gerakan-gerakan gemulai tubuh, hentakan kaki, bunyi ge­merincing si penari, itulah yang terpampang da­lam karya luki­san realisme Dede Eri Supria. Dia dikenal sangat mahir meng­­garap objek menjadi hi­dup.

Lu­kisannya tentang tarian dan penari Bali, menegaskan namanya dalam arus gaya klasik dari para pen­da­­hulunya. Dede dikenal cu­kup teliti da­l­am soal detail ob­jek yang di­lukiskannya, se­hing­ga sulit mene­mu­kan per­bedaan hasil lukisan de­ngan fo­tografi.

Perhitungan yang tepat dan jitu soal anatomi, posisi, drapery dan kom­posisi warna bisa tervisualkan ka­rena kemam­puan luar biasanya. Ke­mam­puan yang sudah diasahnya pu­luhan tahun itu memuncul­kan karya spektakuler tentang lukisan tarian Bali. Dede termasuk pelukis yang paling se­tia pada satu gaya saja. Bebe­rapa lukisan tentang kaum urban (pendatang) meneguhkan namanya di mata kolektor da­lam negeri juga mancanegara.

Pesan Tersirat Dalam Lukisan Dese Eri Supria

Lukisan Dede hampir selalu menyiratkan akan kebingungan, kegetiran, dan kekecewaan. Karya seorang Dede Supria disamping mengangkat mengenai kaum “kecil” di kota besar, ia juga mengangkat tentang fenomena sosial yang lain yang kini banyak terjadi seperti produk-produk yang meneror produk lokal, polusi industri, masalah hak asasi manusia, ketenagakerjaan, penyakit AIDS, badut-badut jalanan, peperangan, perdamaian, emansipasi, kekerasan kota, dll.

Dengan sisi sensibilitasnya, ia menyaring isu-isi yang terjadi menjadi tema yang lalu ia bentuk menjadi suatu karya.

Tema Karya Tahun 1985-1990an

Karya-karya lukisan Dede yang dibuat diatas tahun 1985 sampai dengan awal 1990an banyak merilis benda-benda kota seperti, billboard, iklan-iklan, bangunan-bangunan modern, dinding-dinding kendaraan besar, dan jendela-jendala pencakar langit sebagai komponen utama.

Dinding-dinding yang kaku, pilar beton, rel-rel, serta bangunan bertingkat juga menjadi komponen utama bahkan menjadi subjek dalam karya Dede. Dengan semua itu ia mengajak semua penikmat lukisan menikmati karyanya untuk melihat suatu realitas sosial.

Tema Penari Bali

Lukisan penari Bali karya Dede meliputi: “Siap Tampil, Siap Pentas, Persiapan Ter­akhir, Persiapan Menari dan Se­belum Pertunjukan”.

Lukis­annya yang bisa mengungkapkan ekso­tisme busana seperti lukisan: “Penari Le­gong I, II dan III, Penari  Oleg Tambuli­lingan dan Ke­indahan Penari Bali”.

Ke­me­wahan busana penari Bali ter­lihat pada lukisan: “Tarian Gebyar, Tarian Sang Jenderal dan Ta­rian Kecak”. L­ukisan bernuan­sa Bali Dede dibuat tahun 2000 hingga 2014, dengan uku­ran di atas satu meter lebih, me­nyi­ratkan simpul arus realisme ke pun­caknya.

Lukisan realisme gaya Dede, ra­sanya sulit ditemukan keku­ra­ngan­nya. Sepatutnya, lu­kisan potret penari Bali ka­rya Dede menjadi ranah baru untuk mengungkapkan simpul ten­tang minimnya Maestro perupa rea­lisme.

Ke­aslian tarian Bali me­mang mi­lik leluhurnya, tetapi Dede me­­negaskan simpul itu agar tak men­jadi eksklusif lewat lukis­an. Lukisan tersebut sudah puluhan jumlahnya dilukis oleh Dede di­dasari atas keka­gu­man­nya pada ketahanan masyarakat Bali dari pengaruh negatif ke dalam seni pertunjukkannya.

Teknik Goresan Warna dan Kuas

Dede Eri Supria adalah sosok perupa kelas satu Indonesia, ia bisa meng­antarkan rea­lis­me hingga sampai ke puncaknya. Kera­pi­an ujung bulu kuas selalu diperbaharuinya agar dapat meng­go­reskan warna biarpun sehelai ram­but misalnya.

Gu­ratan kuas-kuas itu menopang permainan cahaya (kilau­an warna) melebihi kekuatan sinar ha­sil olahan dari kamera (tustel). Lu­kisan potret penari Bali karya Dede tak ha­nya menam­pil­kan kekuatan utama rea­lis­me, tapi bisa menimbulkan taf­siran tentang ragam tarian Bali.

Dede sengaja memanfaat­kan ke­pe­kaaan intuisinya. Be­ragam lukisan itu masih tetap pada koridor rea­lisme. Hasil guratan kuas Dede terlihat le­­bih apik dan artistik. Suatu pi­lihan te­matik yang cukup cer­das dan me­mukau ketika me­natap lukisan-lukisannya.

Teori Semiotika

Dalam menganalisis lukisan karya Dede Eri Supria ini, dilihat menggunakan teori Semiotika. Teori Semiotika yang berarti memahami suatu hasil karya seni melalui tanda-tanda, ikon dan bentuk yang ada di dalam suatu karya seni membuat penikmat seni dapat lebih memahami objek-objek yang terdapat di dalam karya seni tersebut. Selain itu, dengan perspektif semiotika, sebagai contohnya penikmat lukisan lebih dapat memahami suatu lukisan dengan lebih mendetail yaitu melalui tanda, bentuk serta warna yang ditampilkan dalam suatu karya lukisan.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://www.artnet.com http://www.artnet.com/artists/dede-eri-supria/beristirahat-resting-GtY3jJm8riGtTdG0YO-HxQ2 https://www.google.com/search?hl=in-ID&source=android-browser&ei=6_tIW_ibNJj2rQGRkZ2wCg&q=dede+eri+supria&gs_ssp=eJzj4tVP1zc0TDLLyMlIN8kxYAQAI44ESw&oq=dede+eri+&gs_l=mobile-gws-wiz-serp.1.0.46j0l4.301641.304095..305156...2.0...143.803.8j1......0....1.......5..46i39j35i39j46i67j0i131j46i131j0i10.MYmvT30C3Ok
Comments
Loading...