Lukisan “Berlima #4” Karya Christine Ay Tjoe

Berlima #4 - Christine Ay Tjoe
0 1.225

Lukisan “Berlima #4” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Christine Ay Tjoe.

Berlima #4 – Christine Ay Tjoe
  • Pelukis : Christine Ay Tjoe
  • Judul : “Berlima #4”
  • Tahun : 2006
  • Media : Acrylic on Canvas
  • Ukuran : 100 cm x 110 cm

Deskripsi Lukisan “Berlima #4”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya abstrak, ekspresionisme. Dengan teknik melukis menggunakan cat akrilik di atas kanvas. Bagi Ay Tjoe, suatu karya ada pada tahap emosi pribadi. Yang bilamana diungkapkan tidak harus ada gambaran yang representatif. Ia biasanya mengambil karakter paling menonjol pada setiap objek-objek yang ia lihat, dan kerap menstilasi (menyederhanakan) objek-objek tersebut, kemudian melukiskannya dengan penuh warna, menggunakan garis-garis lugas yang tidak beraturan.

Latar Belakang

Christine Ay Tjoe adalah seniman asal Bandung yang konsisten dalam penggayaan lukis abstrak ekspresionis. Ay Tjoe lulus dari jurusan seni grafis Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1997. Seusai lulus, Ay Tjoe bekerja selama satu tahun sebagai asisten perancang busana Biyan dan mulai aktif berkarya sebagai seniman dua tahun berikutnya.

Ay Tjoe seolah meneliti atau melakukan riset terhadap dirinya sendiri, hal tersebut bersinggungan dengan jiwa dan nilai spiritual. Hingga pada satu titik Ay Tjoe menemukan hal yang paling mendasar dari kejiwaan semua manusia, adanya sebuah kesamaan antara manusia perihal “ego” yang didefinisikan sebagai sebuah perasaan yang beroposisi biner (sistem yang membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan). Hal tersebut dituliskan oleh kurator pada katalog salah satu pamerannya bertajuk “Eksekusi Ego” pada tahun 2006.

Karakteristik Karya

Ay Tjoe seringkali melukis tidak beraturan, penuh warna, dan menggunakan garis-garis lugas. Dalam berbagai bagian lukisan dapat ditemukan bentuk-bentuk yang lebih familiar. Bentuk yang terlihat acak dari garis dan bagian bewarna memperlihatkan perbedaan yang kontras antara yang tenang dengan yang bersemangat. Karya Ay Tjoe dinilai dapat menginspirasi penonton melalui hasil dari proses yang tidak hanya intens, tapi juga lugas, dan jujur. Lambat laun karya lukisnya mulai jauh dari nilai representasi alam, dalam hal ini ia sudah mulai mengabstrakkan karya-karyanya. Seperti apa yang banyak dikemukakan olehnya, bahwa suatu karya ada pada tahap emosi pribadi yang bilamana diungkapkan tidak harus ada gambaran yang representatif.

Objek Lukisan

Bagi Ay Tjoe, melukis adalah rutinitas positif yang membuat emosi dan pikiran menjadi selaras dan seimbang. Ay Tjoe senang melukis dirinya sendiri atau objek yang dekat dengan dirinya, seperti hewan peliharaannya atau kawannya, namun Ay Tjoe hanya mengambil karakter paling menonjol pada setiap objek-objeknya tersebut, ia pun kerap menstilasi objek.

Komposisi warna-warni penuh warna tampak didorong secara sentrifugal (menjauhi pusat putaran), dengan aplikasi cat visceral yang mengekspresikan rasa urgensi fisik. 

Penggayaan stilasi tersebut diterapkannya pada karya yang lebih aplikatif, Ay Tjoe menerapkan karakter gambarnya pada sketsa fashion, sewaktu dia bekerja pada desainer Biyan. Namun selang dua tahun bekerja Ay Tjoe memutuskan untuk fokus pada karya-karya idealisnya, Ay Tjoe ingin konsentrasi berkarya diatas kanvas, dan membuat suatu tujuan berkesenian.

Karyanya sangat rapuh sampai-sampai kerapuhan tesebut mengungkapkan dua dunia atau wilayah seniman yang berbeda. Pertama, ada dunia internal yang penuh dengan pemikiran batin, melankolis, perjuangan, rasa sakit, dan kebahagiaan yang nampaknya mencerminkan kepribadian dan kehidupannya. Kemudian dunia bentuk, kecepatan, dan warna yang dapat dicampur dengan figur dan menciptakan pengalaman sensoris yang bervariasi tanpa batas waktu. Karena mereka adalah bagian dari kehidupan manusia.

Konsisten dengan Karakter dan Karya

Christine Ay Tjoe adalah seniman yang konsisten dengan penggayaannya, hingga kini puluhan bahkan ratusan karyanya bertengger digaleri-galeri bertaraf nasional maupun internasional. Ay Tjoe bukan hanya seniman tapi mungkin dia bisa ditafsirkan lebih dari itu, karena karya-karyanya sebagian besar memiliki latar belakang kuat mengenai moralitas, kepribadian, hingga nilai spiritual. Ay Tjoe mengetahui bahwa seni pada masa ke masa akan memiliki kajian tafsir yang berbeda, namun dia seolah tidak peduli dan tetap bersikukuh atas apa yang menjadi landasan berkeseniannya.

Pernyataan Pelukis

Subject matter saya adalah manusia. Dalam karya saya, saya lebih banyak berbicara tentang apa yang akan terjadi dalam hal tren manusia, lokal atau global, yaitu apa yang saya lihat sebagai kemungkinan dalam pikiran dan gagasan pribadi saya.”

Dalam lukisan terbarunya, Ay Tjoe melihat fenomena global  seperti: hiper urban, kepadatan penduduk, informasi hoax, keserakahan, serta daya saing yang tak terelakkan.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://archive.ivaa-online.org http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/ay-tjoe-christine/page:7 https://www.google.com/amp/s/mardiyyan.wordpress.com/2013/11/30/penggayaan-karya-lukis-seniman-christine-ay-tjoe-sebagai-representasi-metedelogi-penciptaan-seni-sebagai-ekspresi/amp/
Comments
Loading...