Lukisan “Breakfast” (Gede Budi Agung Kuswara)

Breakfast - Gede Budi Agung Kuswara
0 12.555

Lukisan Breakfast merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Gede Budi Agung Kuswara.

Breakfast – Gede Budi Agung Kuswara
  • Pelukis : Gede Budi Agung Kuswara
  • Judul : “Breakfast”
  • Tahun : 2006
  • Media : Acrylic On Canvas
  • Ukuran : 120 cm x 160 cm

Deskripsi Lukisan Breakfast

Lukisan ini merupakan lukisan realisme. Dengan teknik melukis menggunakan cat akrilik di atas kanvas. Dalam lukisan ini pelukis menggambarkan objek makanan (daging) di atas piring sebagai menu sarapan.

Pengangkatan Ide Lukisan

Budi Agung Kuswara sering menggambarkan narsisme dan tragisme dalam setiap lukisannya. Dalam mitologi Yunani maupun Romawi, Narcissus disebut sebagai orang yang jatuh cinta pada bayangannya sendiri. Narcissus, dari mana idiom narsisme untuk orang yang memuja dirinya sendiri lahir, kemudian tenggelam dalam telaga di mana dia bercermin. Maka, hikayat tentang Narcissus adalah juga hikayat tentang tragisme, selain soal narsisme.

Ia mengambil inspirasi dari beragam masalah sosial politik yang telah ia lihat dan alami selama ia tinggal di Yogyakarta, dan menggunakan tradisi penceritaan Bali. Kabul (biasa disapa) menyusun berbagai penggambaran yang berbicara tentang berbagai macam masalah, semua dikisahkan dengan sedikit sindiran, beberapa lelucon dan penuh dengan referensi simbolis. Lukisan-lukisannya banyak mengandung unsur air dan ia memasukkan dirinya sendiri sebagai objek atau sesuatu yang setidaknya dibuat mirip dengan dirinya.

Kabul memang banyak mengangkat tentang kisah dirinya sendiri. Pengalaman pribadi itu adalah sesuatu yang terkait dengan kehidupan pribadi Kabul yang agak tragis, bertepuk sebelah tangan.

Makna Lukisan Secara Global

Wicaksono Adi, kurator pameran i.Self, menyebut kehadiran air, baik berupa kolam renang, lautan ataupun pantai, dalam lukisan Kabul tak hanya menjadi elemen latar belakang namun juga titik tolak untuk membangun keseluruhan susana bidang lukisan. Kabul memang tak semata melukis air dan dirinya. Dia juga membangun sebuah fantasi pada karya-karyanya.

Lukisan berjudul Lupa Daratan (200 cm x 180 cm), akrilik di atas kanvas, memperlihatkan Kabul sedang asik terlentang bersantai di atas pelampung. Birunya air menjadi latar belakang bagi pelampung kuning, tubuh telanjang, dan celana berwarna merah. Kabul dengan tangan di belakang kepala dan kacamata hitam terlihat sangat menikmati situasi itu.

Lupa daratan bisa bermaka ganda, lupa pada tanah daratan atau terlena pada situasi tertentu karena saking asiknya. Di antara narsisme, Kabul masih memberikan ruang untuk daya kritis pada situasi terkini. Kabul seperti mengingatkan tentang banyaknya orang yang lupa daratan, terlena di atas kemapanan.

Pada karya Lupa Daratan, menurut Wicaksono, kita tidak hanya diajak untuk merasakan kenikmatan tidur di atas pelampung, tapi juga ingatan lain mengenai daratan (dan hutan) yang sudah rusak akibat keserakahan manusia. Lalu si manusia yang telah merusak daratan itu berleha-leha santai tanpa rasa bersalah. Ingatan mengenai kerserakahan yang mengakibatkan kehancuran alam itu muncul justru karena hal itu tidak digambarkan dalam kanvas melainkan pada makna referensial dari judul Lupa Daratan. “Sikap santai si manusia yang lupa daratan dan serakah itu merupakan aspek sarkasme dari karya ini,” tutur Wicaksono.

Kabul tak melulu kritis dan narsis dalam lukisan-lukisannya. Dia juga mengungkap tragisme. Misalnya lewat Gunungan tentang bagaimana figur, serupa Kabul, sedang di bawah gunung tinggi berusaha mendorongnya. Figur itu melakukan sesuatu yang sia-sia.

Namun cerita paling tragis adalah ketika Kabul melukis dirinya dalam Hujan. Dalam lukisan tersebut Kabul sedang telungkup tanpa baju dengan pohon-pohon menghunjam pada tubuhnya. Lukisan ini tentang figur penulis yang merasa terus menghidupkan harapan pada sesuatu meski tubuhnya harus berdarah-darah karena harapan itu.

Maka, darah, sebagaimana air, itu ternyata juga ada di sebagian besar lukisan Kabul. Darah itu datang dari luka yang belum kering. Pada karya Berendam dan Berteduh, Celebration, Faster, bahkan Lupa Daratan pun semua berisi darah.

Selain narsisme, ia rupanya terobsesi pula pada tragisme.

Melukis dan Kemanusiaan

Sejak tahun 2003 hingga saat ini, Kabul telah berpartisipasi dalam berbagai pameran kelompok di berbagai galeri dan ruang seni di Indonesia, Manila, Italia dan Inggris. Kabul mempresentasikan pameran tunggal pertamanya yang berjudul i.Self in 2008, dan pameran tunggalnya yang kedua akan dipresentasikan oleh TAKSU Singapore pada Oktober 2012.

Selain itu Kabul juga merupakan salah satu pendiri Proyek Ketemu, sebuah hibrid perusahaan kolektif dan sosial sosial dengan fokus pada keterlibatan sosial. 

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Sumber : https://balebengong.id/sosial-budaya/budaya/tragedi-narsisme-ala-kabul.html?lang=id

Source http://gallery.komaneka.com http://gallery.komaneka.com/artis.php?ArtistID=24 http://taksu.com/portfolio/budi-agung-kuswara-kabul/
Comments
Loading...