Lukisan “Bull Race” Karya Koempoel Sujatno

Bull Race - Koempoel Sujatno
0 7.534

Lukisan “Bull Race” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Koempoel Sujatno.

Bull Race – Koempoel Sujatno
  • Pelukis : Koempoel Sujatno
  • Judul : “Bull Race”
  • Tahun : –
  • Media : Oil on Canvas
  • Ukuran : 76 cm x 131 cm

Deskripsi Lukisan “Bull Race”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya realisme, impressionisme. Dengan teknik melukis menggunakan cat minyak di atas kanvas.

Dalam lukisan ini, pelukis menggambarkan balapan ternak sapi yang ada di Madura, Jawa Timur, Indonesia. Lomba ini merupakan salah satu budaya dalam merayakan hari kemerdekaan Indonesia.

Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain. Trek pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh detik sampai satu menit. Beberapa kota di Madura menyelenggarakan karapan sapi pada bulan Agustus dan September setiap tahun, dengan pertandingan final pada akhir September atau Oktober di eks Kota Karesidenan, Pamekasan untuk memperebutkan Piala Bergilir Presiden.

Di bulan November tahun 2013, penyelenggaraan Piala Presiden berganti nama menjadi Piala Gubernur.

Awal mula kerapan sapi dilatar belakangi oleh tanah Madura yang kurang subur untuk lahan pertanian, sebagai gantinya orang-orang Madura mengalihkan matapencahariannya sebagai nelayan untuk daerah pesisir dan beternak sapi yang sekaligus digunakan untuk bertani khususnya dalam membajak sawah atau ladang.

Karakteristik Karya

Perjalanan Karier Koempoel Sujatno

Koempoel Sujatno lahir di Desa Paron, Ngawi, Jawa Timur, 1912. Keluarganya adalah pejabat jawatan kereta api Hindia Belanda, sehingga memungkinkannya mendaftar pada sekolah Belanda, Hollandasch Inlandsche School (HIS), di Genteng Kali, Surabaya.

Di dalam percaturan dunia seni rupa Indonesia, ada beberapa nama yang masuk dalam kategori Maestro, salah satu nya adalah Koempoel Sujatno.

Pada awalnya dia adalah pelukis otodidak yang melukis dengan serabutan, sampai akhirnya karya lukisannya memikat hati Maestro Seni rupa G. P. Adolf dan Maestro Willem Jan Pieter Van Der Does, dua orang maestro tersebut menerima Koempoel Sujatno menjadi muridnya, tentunya dalam kurun waktu yang berbeda.

Dengan gemblengan dari pelukis papan atas Eropa tersebut Koempoel Sujatno pun berhasil menjadi pelukis handal dengan teknik lukis tingkat tinggi yang sangat di segani. Pada tahun 1935 dia berhasil menggelar pameran tunggal pertamanya yang disponsori oleh seorang dokter yang mengagumi karya karyanya.

Tema Lukisan Koempol Sujatno

Karya-karya Koempoel menunjukkan seni lukis Indonesia era kemerdekaan. Lebih rumit daripada yang tampak pada historiografi konvensional (Historiografi adalah kajian mengenai metode sejarawan dalam pengembangan sejarah sebagai disiplin akademis, dan secara luas merupakan setiap karya sejarah mengenai topik tertentu yang umum atau biasa). Peristiwa pertukaran budaya Belanda-Indonesia yang cenderung dianggap tidak mempengaruhi S. Soedjojono dan Persagi, justru mengemuka dalam perjalanan Koempoel.

Kolektor Lukisan Koempoel Sujatno

Lukisan karya Koempoel Sujatno berjumlah ribuan, tersebar di seluruh dunia dan dikoleksi oleh tokoh-tokoh papan atas kelas dunia, juga Bung Karno dan sederet pejabat penting di Indonesia.

Catatan Kuratorial

Seniman Surabaya, Amang Rahman mencermati karya Koempoel merupakan fenomena seni rupa ideal dan komersial. Sepengetahuan Amang, Koempoel bisa bekerja dengan dorongan juragan galeri, sehingga yang diciptakan merupakan pengulangan belaka yang pernah laku. Namun, Koempoel juga acapkali melukis atas kehendaknya sendiri. Intensitas pada proses yang lebih didasari mengejar kedalaman itu yang membebaskannya dari sebutan komersial.

Menurut pengamat seni rupa Dr. Jean Couteau asal Prancis, seri kehidupan kota Surabaya adalah saat Koempoel menggunakan teknis impresionis dengan warna hablur dan inpasio (tebal). Ini karena ia menggambarkan kehidupan bukan dalam pengertian bentuk apa adanya, tapi lebih mengedepankan suasana.

Akhir Hayat Koempoel Sujatno

Antara 1950-1970-an Koempoel tetap produktif melukis. Perjalanan Koempoel selama tiga zaman menemukan akhir pada 18 Agustus 1987 karena kanker tenggorokan. Ia pergi meninggalkan sang istri tanpa dikaruniai anak. Di rumahnya di Kaliputih, Batu, Jawa Timur, ia hanya meninggalkan sebuah lukisan terakhir berobjek jembatan merah.

Koempoel adalah seorang Maestro senirupa yang seharusnya menikmati jerih payah hasil karyanya, namun dalam perjalanan hidupnya, secara materi dia belum merasakan kenikmatan dan kebesarannya sebagai seorang Maestro Seni Rupa bahkan dia meninggal dunia tahun 1987 dalam kondisi kehidupan yang sederhana. Sungguh sebuah ironi dari seorang pelukis besar sang Maestro Koempoel Sujatno.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia

Source https://www.mutualart.com/ https://www.mutualart.com/Artwork/Bull-Race/BB433BA1332B732F http://gallerymu.blogspot.com/2013/11/blog-post.html?m=1
Comments
Loading...