Warning: unlink(/tmp/fa1af991f54a0c3995e92ca7ef317fde-xHu3tt.tmp): No such file or directory in /home/infoprima/public_html/lukisanku.id/wp-admin/includes/class-wp-filesystem-ftpext.php on line 158

Lukisan “Bumi yang Tersisa Bagi Anakku” Karya Sigit Santoso

Bumi yang Tersisa Bagi Anakku - Sigit Santoso
0 1.215

Lukisan “Bumi yang Tersisa Bagi Anakku” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Sigit Santoso.

Bumi yang Tersisa Bagi Anakku – Sigit Santoso
  • Pelukis : Sigit Santoso
  • Judul : “Bumi yang Tersisa Bagi Anakku”
  • Tahun : 1997
  • Media : Oil on Canvas
  • Ukuran : 70 cm x 70 cm

Deskripsi Lukisan “Bumi yang Tersisa Bagi Anakku”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya realisme – fotorafis, kontemporer, dan surealis. Dengan teknik melukis menggunakan media cat minyak di atas kanvas. Karya-karya Sigit banyak dipengaruhi oleh latar pekerjaannya sebagai desainer periklanan dan fashion. Banyak karyanya yang menampilkan ekspresi wajah perempuan dalam berbagai posisi, seperti menampilkan wajah-wajah para model fashion. Dalam lukisan ini pelukis menggambarkan potret seorang wanita  hamil mengenakan gaun hijau berkerah putih sedang berdiri di depan pagar sebuah pabrik. Dari judul lukisan kita bisa memaknai lukisan ini bahwa bumi yang tersisa bagi anak cucu kita kelak sudah bukan lagi alam yang rindang pepohonan atau pegunungan hijau, tetapi bangunan-bangunan luas membentang, polusi-polusi dari asap pabrik, dll. Sungguh ironi yang memprihatinkan.

Latar Belakang

Sigit Santoso, seniman lulusan ISI Yogyakarta yang tinggal di Sleman. Ia dikenal dengan karya-karyanya yang tidak biasa.

Setiap goresan di kanvas atau medium lukis lain, karyanya selalu memiliki makna-makna simbolik, filsafat seni, ungkapan kritik, simbol perlawanan, dan lain sebagainya. Tidak selalu mudah memahami karya-karya Sigit Santoso.

Teknik Dan Konsep Karya

Secara teknik, Sigit Santoso sudah mencapai maqam cukup tinggi. Dengan kecakapan melukis realisme-fotografis ala John De Andrea dan Richard Estes, yang kini banyak mengilhami para perupa di Nusantara, sang pelukis justru ingin melompat lebih jauh lagi.

Karya-karya Sigit lebih banyak di buat dengan menggunakan cat air di atas kertas. Menjadi titik balik penting dalam melihat pergeseran alur kreatif setiap karya Sigit. Rentetan karya yang terpajang waktu itu seperti sebuah alur metamorfosa dari karya yang naratif dengan pendekatan visual surealistik menuju karya-karya cynical realism (realisme sinis) yang penuh simplisitas secara visual namun kuat dan bernas  (berisi penuh tentang) dunia gagasannya. Terlebih bila menyimak karya-karyanya yang terakhir, kesan tersebut kian menguat.

Barangkali kecenderungan ini disadari Sigit sebagai bagian dari keterpengaruhan dirinya oleh karya kontempoter China, untuk kemudian menempatkannya sebagai bagian dari strategi dan siasat kreatifnya. Dengan ditunjang oleh kemampuan teknis yang sangat memadai, bagi Sigit, pencapaian visual ala “kontemporer China” bukanlah masalah besar. Lebih praktis dan lebih substantif pada pola dan capaian kerjanya. Baginya, ia sekarang hanya menghadapi problem ide yang harus terus diasah agar karyanya lebih tajam dan mendunia.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/f-sigit-santoso http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/f-sigit-santoso/page:2 https://zenhae.wordpress.com/2008/10/16/kambing-belang/
Comments
Loading...