Lukisan “Dewi Ruci” (Heri Dono)

0 12.636

Lukisan “Dewi Ruci” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Heri Dono.

Dewi Ruci – Heri Dono
  • Pelukis : Heri Dono
  • Judul : “Dewi Ruci”
  • Tahun : 2002
  • Media : Mixed Media on Canvas
  • Ukuran : 70 cm x 60 cm

Deskripsi Lukisan “Dewi Ruci”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya kontemporer, animisme. Dengan teknik melukis menggunakan media campuran di atas kanvas. Terlepas dari benar atau tidaknya, dalam lukisan ini pelukis menggambarkan tentang Dewi Ruci.

 Dewa Ruci adalah nama seorang Dewa kerdil (mini) yang dijumpai oleh Bima atau Werkudara dalam sebuah perjalanan mencari air kehidupan. Nama Dewa Ruci kemudian diadopsi menjadi lakon atau judul pertunjukan wayang, yang berisi ajaran atau falsafah hidup moral orang Jawa. Lakon wayang ini menjadi bagian dari epos Mahabarata. Kisah Dewa Ruci ini banyak disunting oleh penulis buku-buku etika Jawa, misalnya Frans Magnis Suseno , Hazim Amir, Ignas G. Saksana dan Djoko Dwijanto. Kisah Dewa Ruci menggambarkan sebuah kepatuhan seorang murid kepada guru, kemandirian bertindak, dan perjuangan keras menemukan jati diri. Pengenalan jati diri akan membawa seseorang mengenal asal-usul diri sebagai ciptaan dari Tuhan. Pengenalan akan Tuhan itu menimbulkan hasrat untuk bertindak selaras dengan kehendak Tuhan, bahkan menyatu dengan Tuhan atau sering disebut sebagai Manunggaling Kawula Gusti (bersatunya hamba Gusti).

 Walaupun bukan bagian asli dari kisah utama dalam wayang, cerita ini sangat populer dalam masyarakat Jawa dan dipentaskan oleh kebanyakan dhalang di Jawa. (Wikipedia)

Karakteristik Karya

Lukisan Heri Dono adalah hasil cipta, karsa, dan rasa, yang mempunyai nilai estetik, artistik, serta mempunyai tujuan dalam penciptaannya. Sebagai karya estetik, karya seni tersebut mempunyai nilai universal, artinya bisa dinikmati oleh orang lain, boleh diinterpretasi sesuai dengan kapasitas estetis pengamatnya.

Karya-karya Heri Dono baik berupa lukisan, instalasi, maupun seni pertunjukan senantiasa mengandung kritik sosial. Mencakup beragam persoalan dalam spektrum yang sangat luas. Mulai dari masalah sosial, politik, kebudayaan, lingkungan, dan perkembangan teknologi. Masalah-masalah itu ditampilkan secara karikatural, satir, dan parodikal.

Tema Wayang Karya Heri Dono

Heri Dono dikenal dengan karya-karyanya yang berbasis seni tradisi, khususnya seni wayang kulit yang sangat populer dalam masyarakat Jawa. Sebagai seorang perupa, Heri Dono dalam mengekspresikan ide-idenya banyak mengeksplorasi rupa atau bentuk dan karakter dari tokoh-tokoh dunia pewayangan.

Khususnya, Heri lebih suka menggambarkan sosok panakawan yang dalam jagat pewayangan. Tokoh tersebut mewakili rakyat jelata yang hidup dalam kesederhanaan. Selain itu, senantiasa mengikuti pihak yang benar, dan kritis terhadap perilaku penguasa.

Sepertinya Heri ingin mengatakan, bahwa peran seorang seniman tak ubahnya peran panakawan dalam dunia pewayangan. Yakni menghibur sekaligus menawarkan kritik terhadap lingkungan sekitarnya dan kekuasaan.

Konsistensi eksplorasi terhadap dunia wayang dalam karyanya mengantarkan Heri Dono mendapat penghargaan Unesco Prize untuk kategori Education Art pada tahun 2000.

Unsur Humor dalam Karya Heri Dono

Unsur humor merupakan ciri khas karya-karya Heri Dono. Dalam wawancara dengan seorang wartawan, Larry Polansky, usai menggelar karya instalasinya di kota kecil Harima, Jepang, Heri menjelaskan konsep humor dalam setiap karyanya. Menurutnya, seperti dalam seni teater tradisional Jawa ‘Ketoprak’, atau pentas lawak Srimulat, dan wayang, kehadiran pembantu yang lucu seperti panakawan sangat diperlukan.

Keberadaan mereka penting untuk menyampaikan kritik dengan cara yang lucu terhadap kelompok masyarakat yang lebih tinggi derajatnya.

Tema Kartun

Dalam banyak lukisannya, Heri Dono menampilkan deformasi liar dan fantasi bebas yang memunculkan karakter cerita wayang.

Pengetahuan mendalam tentang film kartun anak-anak, film animasi, dan komik, membuat karyanya selalu dipenuhi dengan karakter dari cerita fantastis yang tidak masuk akal.

The Secret Code of Heri Dono

Bagi seniman/perupa, studio adalah ruang pribadi yang menjadi laboratorium seni yang menunjukkan proses berkarya, pengembangan pengetahuan baru dan dokumentasi atas miniatur sejarah. Ketiadaan museum seni rupa di Indonesia menjadi kekhawatiran Dono. Sehingga memunculkan gagasan untuk menyelenggarakan program pameran “The Secret Code of Heri Dono“.

Sebuah program yang mencoba memaparkan kode rahasia Heri Dono dalam berproses karya sejak dari awal melalui penggalian arsip dokumen dan foto mulai tahun 1980-an. Sketsa dan catatan pribadi, sumber inspirasi dari buku-buku yang dibaca, juga pengaruh dari pemikiran seniman lain yang hadir secara nyata di ruang kerja pribadinya.

Museum mengacu pada tempat di mana hal-hal dan nilai-nilai yang diawetkan, dipelajari, dan dikomunikasikan yang bisa dipakai sebagai tanda untuk menafsirkan fakta yang tidak hadir pada museum.

Dengan demikian, museum bisa dipahami sebagai “tempat memori”. Gagasan inilah yang digunakan pijakan oleh Heri Dono sebagai pemahaman awal fungsi museum dalam konteks ruang, dalam membekukan pemikiran dan nilai.

Kutipan Kurator oleh Mikke Susanto

Kurator Mikke Susanto membagi karya-karya Heri dalam empat arena, yakni arena kehidupan di sekitar dirinya sendiri sebagai seniman, situs arkeologis baru, isu politik, dan catatan tentang alam.

Menurut Mikke, isu politik merupakan tema yang sejak lama digarap Heri Dono. Misalnya, ia mengangkat kembali tema lukisan legendaris “The Sumission of Diponegoro karya Nicolaas Pieneman. Puluhan tahun lalu, pelukis Raden Saleh telah membuat versi lain dari karya itu dengan judul “Penangkapan Pangeran Diponegoro“.

Dengan mengacu pada dua karya tersebut, Heri Dono membuat lukisan berjudul “Salah Tangkap Diponegoro (2007), dan kemudian “The Error of Pieneman’s Perspective“. Dalam dua karya itu, ia menampilkan figur-figur politisi era sekarang, mulai dari Soeharto, Susilo Bambang Yudhoyono, Gus Dur hingga Antasari Azhar.

Majalah Artlink di Australia mencatatnya sebagai salah satu perupa yang paling sering diundang ke biennale internasional. Ia bahkan disebut sebagai satu dari 100 perupa avant-garde dunia saat ini.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://archive.ivaa-online.org http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/heri-dono-1/page:4 http://youpainting.blogspot.com/2011/05/heri-dono-mengangkat-tradisi-dalam-seni.html?m=1
Comments
Loading...