Warning: unlink(/tmp/fa1af991f54a0c3995e92ca7ef317fde-QVRvZG.tmp): No such file or directory in /home/infoprima/public_html/lukisanku.id/wp-admin/includes/class-wp-filesystem-ftpext.php on line 158

Lukisan “Dialog Sunyi” Karya Dyan Anggraini

Dialog Sunyi - Dyan Anggraini
0 3.291

Lukisan “Dialog Sunyi” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Dyan Anggraini.

Dialog Sunyi – Dyan Anggraini
  • Pelukis : Dyan Anggraini
  • Judul : “Dialog Sunyi”
  • Tahun : 2002
  • Media : Ink on Canvas
  • Ukuran : 70 cm x 70 cm

Deskripsi Lukisan “Dialog Sunyi”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya realisme. Dengan teknik melukis menggunakan media tinta di atas kanvas. Lukisan Dyan terdiri dari lukisan yang dibuat dengan teknik cetak, seperti teknik cukil grafis, menyulam. Beberapa lukisannya menggambarkan tentang drama kehidupan perempuan dan sejumlah relief-relief yang dikombinasikan dengan  imajinasi Dyan terhadap narasi lirih perempuan.

Banyak lukisannya menggambarkan keterdiaman perempuan (mulutnya ditutup dengan kain). Namun dalam lukisan ini pelukis menggambarkan tiga figur yang mulutnya tertutup kain dengan mata seperti terbelalak dan terdapat kursi-kursi yang tergantung pada latar lukisan.

Latar Belakang

Dyan lahir di Kediri, Jawa Timur pada 2 Februari 1957. Ia dibesarkan oleh pengaruh pendidikan Taman Siswa, menyelesaikan pendidikan seninya di (Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia) STSRI “ASRI” Yogyakarta  tahun 1982. Dyan pernah menjadi Kepala Taman Budaya Yogyakarta (TBY), beliau adalah pegawai negeri di Dinas Kebudayaan Yogyakarta. Selama memimpin TBY ia sempat menjadi pemrakarsa lahirnya majalah Seni Budaya Mata Jendela, memfasilitasi lahirnya yayasan Biennale yang mengampu penyelenggaraan yang sudah berlangsung 28 tahun, membangun museum Kolong Anak Tangga, dan memprakarsai event tahunan Pasar Kangen Yogjakarta.

Tema Lukisan

Tema visual karya Dyan niscaya akan terus bergerak mengikuti hasrat kreativitasnya yang belum luruh, belum menghentikan langkah. Seperti misalnya drawing tentang potret diri cukup menggoda untuk dieksplorasi olehnya. Meskipun belum sangat dominan dan menjadi teman sentral atas karya-karyanya, namun itu seperti mengisyaratkan sebuah konsep yang personal. Dyan seperti hendak bercermin, mengaca diri, melakukan introspeksi atas apa yang telah dilakukannya selama puluhan tahun kehidupannya: kepada suami, anak-anak dan keluarga besarnya, kepada lembaga Taman Budaya Yogyakarta atau Dinas Kebudayaan Yogyakarta tempat dia mengabdi hingga puluhan tahun pula, juga kepada dirinya yang berposisi sebagai seniman dalam menemukan eksistensinya. Drawing-drawing potret diri itu seperti dijadikan perangkat untuk menemukan dan membenahi dirinya sebagai manusia yang (berhasrat) paripurna.

Topeng Pegawai Negeri Sipil

Dalam tinjauan visual, jika kita amati dengan seksama dari satu karya ke karya lainnya, Dyan nampaknya membubuhkan intensi yang berlebih pada bentuk dan citra topeng.

Dyan, dengan otoritas kreatifnya, menempatkan dunia gagasan di atas cecitraan topeng tersebut. Topeng, sekali lagi, masuk dalam posisi sebagai perangkat atau aparatus tanda penting untuk diisi oleh gagasan yang telah dikantongi Dyan. Maka yang terlahir di atas kanvas-kanvasnya adalah figur-figur manusia bertopeng dengan dinamika dan problematika kemanusiaan yang menggelisahkan sang perupa. Banyak problem sosial politik yang dijadikan pokok soal (subject matter) dengan segala komentar dan pemaknaan yang bisa ditangguk (ditanggap) oleh apresian.

Dyan menampilkan beberapa lukisan yang menggambarkan manusia-manusia bertopeng dengan kostum Korpri. Ini sebuah representasi yang menarik di balik kenyataan bahwa diri Dyan sendiri adalah seorang pegawai negeri sipil (PNS) yang tentu saja secara otomatis adalah anggota Korpri.

Dengan bingkai cara pandang yang khas Dyan, topeng-topeng yang lucu atau indah itu telah menyembulkan gejala pembacaan yang tidak lagi lucu dan indah, melainkan bisa jadi penuh kegetiran, ironi, dan kemunafikan. Karena kini topeng-topeng itu telah jauh melampaui batas-batas fisikalitasnya sendiri. Topeng itu telah bergerak mencari maknanya yang baru, yang membias dari sebelumnya.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://archive.ivaa-online.org/ http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/dyan-anggraini-1/page:2 http://kuss-indarto.blogspot.com/2013/02/?m=1
Comments
Loading...