Lukisan “Diptych: Nirwana (Heaven); Kelahiran Appollo (The Birth of Appollo)” Karya Jumaldi Alfi

Diptych - Nirwana (Heaven) - Kelahiran Appollo (The Birth of Appollo) - Jumaldi Alfi
0 7.664

Lukisan “Diptych: Nirwana (Heaven); Kelahiran Appollo (The Birth of Appollo)” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Jumaldi Alfi.

Diptych – Nirwana (Heaven) – Kelahiran Appollo (The Birth of Appollo) – Jumaldi Alfi
  • Pelukis : Jumaldi Alfi
  • Judul : “Diptych: Nirwana (Heaven); Kelahiran Appollo (The Birth of Appollo)”
  • Tahun : 2001
  • Media : Oil On Canvas
  • Ukuran : 125 cm x 150 cm

Deskripsi Lukisan “Diptych: Nirwana (Heaven); Kelahiran Appollo (The Birth of Appollo)”

Lukisan ini merupakan lukisan abstrak ekspresionis, pop art, modern dengan media menggunakan cat minyak di atas kanvas. Dalam lukisan ini, pelukis melukiskan dua gambar. Pada gambar pertama, Alfi melukiskan bentuk bunga teratai dengan latar awan putih. Dan pada gambar kedua, Alfi melukiskan kelahiran figur dewa Appollo yang sedang berbaring di atas bunga teratai dengan latar berwarna hijau. Menurut kisah mitologi Yunani kuno, dewa Appolo merupakan dewa pengobatan.

Arti Bunga Teratai sebagai Lambang Spiritual melambangkan Bodhi (Sansekerta untuk pencerahan). Murni melambangkan tubuh, pikiran dan jiwa, bersama dengan kesempurnaan spiritual dan perdamaian sifat seseorang. bunga teratai adalah salah satu dari beberapa bunga yang telah mempesona umat manusia dari zaman dahulu, dengan keindahannya yang eksotis dan misterius. Bunga lotus mengilhami pikiran manusia untuk mencapai kesempurnaan dalam kesengsaraan hidup.

Karakteristik Karya

Dalam setiap lukisannya, karya seni Alfi adalah usaha yang tulus dan meditatif, saat ia mencoba untuk menyampaikan kondisi umat manusia, sehingga mencapai penyerahan ketenangan yang langka, di tengah perjuangan kehidupan sehari-hari. 

Hasil apa yang merupakan tema menarik dari tema, mulai dari coretan pemikiran yang memetakan evolusi pikiran, hingga memberi warna yang menenangkan dan struktur solid untuk melambangkan kemunculan optimisme, kedamaian, dan kemampuan untuk bertahan hidup.

Sebuah karya yang bervariasi yang menggambarkan kesembuhan, perjalanan introspektif sejauh ini. Masing-masing epos waktu tersebut ternyata memiliki corak dan karakter yang sangat khas, yang pada akhirnya tidak hanya mengajak kita untuk memahami goresan apa yang tertuang dalam kanvas, namun juga memahami makna gugusan warna dan marka yang sengaja dan/atau tidak sengaja dituangkan dalam kanvas. 

Alfi selalu mencurahkan persoalan eksistensial, kultural, dan religiusitas ke dalam karya. Karyanya selalu terlihat misterius sekaligus intim dalam menyampaikan citra visual, dan dengan bebas dinarasikan kembali oleh para pencinta seni.

Lukisan Tema Papan Tulis

Pada pameran “ALFI Life/Art#101: Never Ending Lesson”, Alfi menampilkan sembilan lukisan dengan papan tulis sebagai subjek utama, serta sebuah instalasi berupa perahu kayu dengan sesosok tulang belulang diatasnya.

Melalui karyanya tersebut, penonton diajak untuk menyaksikan bagaimana Alfi menggunakan pengetahuannya dan proses belajar yang dialaminya dalam dunia seni rupa.

Kalimat yang ia tampilkan dalam lukisannya seringkali merupakan pinjaman dari pernyataan seniman yang menjadi panutan Alfi. Teks tersebut kemudian dipresentasikan seperti sisa-sisa tulisan di papan tulis dengan beberapa kata yang kabur atau terhapus.

Bermain-main dengan kalimat, Jumaldi bermaksud mengoreksi, menyindir, dan bahkan memprovokasi terhadap dunia seni rupa kontemporer saat ini. “Banyak orang yang lebih suka bicara soal harga daripada bicara soal konsep dan ide,” katanya.

Dari sembilan lukisan papan tulis (Blackboard Series) karya Afli, delapan di antaranya mengeksploitasi pernyataan-pernyataan perupa kontemporer kelas dunia. Selain Jean-Michel Basquiat, juga Joseph Beuys, Martin Kippenberger, Ed Ruscha, hingga lagu Pink Floyd. Semuanya diperlakukan dengan cara plesetan.

Bagi Alfi, papan tulis adalah simbolisasi keinginan belajar yang tiada berakhir. Itu sebabnya belakangan ini Alfi getol menampilkan papan tulis, meninggalkan objek-objek batu, tangga, tengkorak, potongan tangan, dan kaktus yang sudah menjadi ciri khas lukisannya selama ini.

Blackboard Series merupakan penggalan proses perjalanan Alfi sebagai perupa. Inilah yang disebutnya sebagai proses pembelajaran dan proses peremajaan. Sebab, selepas menggarap Blackboard Series ini, Alfi kembali pada subject matter lamanya yakni tengkorak.

Catatan Kuratorial

Menurut Enin Supriyatno (kurator dalam pameran tunggal Alfi yang berjudul “ALFI Life/Art#101: Never Ending Lesson”), Alfi memiliki dua ciri dalam karyanya.

Yang pertama yaitu dari penyajian konten. Alfi dinilai menumpuk berbagai unsur yang akan disajikannya, misalnya : tekstur, batu, coretan, warna, bercak, lansekap, serta teks. Dari hal tersebut, Alfi dinilai dalam berkarya memiliki keterkaitan kuat dengan masa lalunya.

Kemudian ciri yang kedua adalah masalah estetika, yaitu tentang bagaimana Alfi memperlakukan gagasannya mengenai lukisan.

Penghargaan

Alfi pernah mendapatkan beberapa penghargaan, antara lain “Karya Lukis Terbaik FSR ISI, Yogyakarta” (1998), “Finalis Indonesian Art Award V” (1998), dan “Finalis Indonesian Art Award X” (2003).

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source https://www.mutualart.com/ https://www.mutualart.com/Artist/Jumaldi-Alfi/BDDAB83DA311931B/Artworks https://www.goodreads.com/book/show/30340229-the-journey-of-indonesian-painting
Comments
Loading...