Lukisan “Dry in a Smoldering Grudge” Karya Andreas Widhagdo

Dry in a Smoldering Grudge - Andreas Widhagdo
0 2.249

Lukisan “Dry in a Smoldering Grudge” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Andreas Widhagdo.

Dry in a Smoldering Grudge – Andreas Widhagdo
  • Pelukis : Andreas Widhagdo
  • Judul : “Dry in a Smoldering Grudge”
  • Tahun :  –
  • Media : Mixed Media on Wood
  • Ukuran : 8.7 H x 11.8 W x 3.9 in

Deskripsi Lukisan “Dry in a Smoldering Grudge”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya pop art, fine art, abstrak, kontemporer. Dengan teknik melukis menggunakan media campuran di atas kayu papan. Dalam lukisan ini, pelukis ingin mengungkapkan pandangannya bahwa boneka dalam gaya lukisannya bisa menggambarkan objek manusia tanpa terikat bentuk wajah, etnis, ras dan kelas. Boneka juga berarti bahwa kita selalu memainkannya, tetapi jika sudah rusak atau sudah bosan kita membuangnya. Lukisan ini juga menggambarkan atmosfer bahwa manusia cenderung menerapkan hubungan sosial seperti boneka.
Oleh karena itu banyak dari kita tidak menghormati orang lain, sehingga kehilangan rasa toleransi di antara manusia.

Perjalanan Karier

Andreas Widhagdo lahir di Bojonegoro, 31 Oktober 1983. Ia merupakan seniman lukis Indonesia yang tergabung dalam seniman Garasi Seni Biasa Studio.

Karakteristik Karya

Andreas menghadirkan tokoh imajinatif komik dalam lukisannya. Teknik penggambaran ini dalam seni rupa kontemporer sering disebut dengan Lowbrow. Ia bisa berkarya di mana saja dan dalam bentuk apa saja.

Karyanya hadir dalam semangat liar yang pop, dengan menampilkan dimensi kedataran dan bagian demi bagian cerah-kontras meniadakan satu titik fokus utama atau satu pokok bercerita. Menghadapinya, kita digugah untuk membedah keriuhan familiaritas di antara unsur gambar anak, citra figuratif komik, atau juga seni jalanan.

Makna hewan-hewan itu adalah untuk memberikan unsur keprimitifan namun dengan taste kontemporer.

Pilihan pada gaya street art, graffiti, komik, mengacu pada kehidupan sub kultur yang berbicara tentang suara kebebasan, suara urban, kehidupan kota, budaya pop, kisah anak muda yang mencari identitas diri, tidak secara serta merta ia pilih. Gaya lukisan ini memang membuat banyak orang mengira bahwa ia memang masih muda – selain mengingatkan bahwa dorongan kebebasan itu tidak lepas dari dirinya.

Karya Andreas bisa jadi hadir sebagai semacam counternarrative atas kedataran arus utama seni rupa sendiri di tengah paparan budaya populer global—menjadi sikap perlawanan dan identifikasi dengan bersifat berbatas selagi juga tidak tertata.

Tema Lukisan

Andreas mulai melukis sisi gelap mayapada yang terkesan sanatic, sinis, bengis, marah, dan ironis. Dia terinspirasi dari ironi kehidupan manusia, hubungan manusia dengan sesama (ras, politik, sosial, agama, budaya), lingkungan, dan Tuhan.

karya itu bukanlah sebuah cerita tentang kekejaman – meski diinspirasikan oleh kritik sosial mengenai kekerasan yang bisa dilakukan oleh anak atau remaja- melainkan sesuatu yang lucu, atau bahkan memaksa kita untuk tertawa. Menertawakan diri sendiri.

Mempelajari dan mengenali karya-karyanya seolah mengenangkan kembali teori dunia nyata dan dunia mimpi yang pernah dibawa oleh Sigmund Freud. Psikoanalis itu menyatakan bahwa mimpi adalah pesan alam bawah sadar yang mencakup keinginan, ketakutan, aktivitas emosi, yang dapat mengungkapkan berbagai ketakutan, kekawatiran, dan kemarahan yang tidak disadari karena adanya represi.

Di dalam kanvas, semua hal itu tertuang. Ada gejolak untuk membebaskan diri, seolah banyak hal yang belum selesai pada dirinya. Keberuntungan sebagai seniman memberikan tempat untuk me-nyata-kan mimpi-mimpi dan kegelisahannya.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source https://www.saatchiart.com/ https://www.saatchiart.com/art/Drawing-Dry-in-a-smoldering-grudge/325218/2760731/view https://fineartamerica.com/profiles/1-andreas-widhagdo.html
Comments
Loading...