Lukisan “Dua Penari Jaipong” (Barli Sasmitawinata)

Dua Penari Jaipong - Barli Sasmitawinata
0 7.589

Lukisan “Dua Penari Jaipong” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Barli Sasmitawinata.

Dua Penari Jaipong – Barli Sasmitawinata
  • Pelukis : Barli Sasmitawinata
  • Judul : “Dua Penari Jaipong”
  • Tahun : 1997
  • Media : Charcoal and Oil on Canvas
  • Ukuran : 70 cm x 90 cm

Deskripsi Lukisan “Dua Penari Jaipong”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya realisme, abstrak, dan ekspresionisme. Dengan teknik melukis menggunakan cat minyak dan arang di atas kanvas.

Tari jaipong adalah tarian tradisional yang berasal dari Bandung Jawa Barat. Menurut catatan sejarah kebudayaan Indonesia tarian ini diciptakan oleh seorang seniman berdarah Sunda yakni Gugum Gumbira. Namun dari sumber lain disebutkan bahwa pencipta gerakan dalam tarian jaipongan adalah H Suanda dan Gugum Gumbira hanyalah salah satu tokoh yang mengenalkan tarian ini kepada masyarakat Bandung.

Jaipongan merupakan tarian dengan mengkolaborasikan berbagai macam gerakan seperti gerakan tari ketuk tilu, tari ronggeng, dan juga beberapa gerakan pencak silat yang juga sangat diminati oleh masyarakat setempat pada waktu itu.

Selain dikenal dengan sebutan jaipongan tarian ini juga merupakan kesenian tari yang berjenis tari pergaulan. Keunikan gerakan dalam sebuah pementasan tari ini kemudian mendongkrak keberadaan tari jaipong sebagai salah satu kesenian tradisional andalan dari Jawa Barat.

Karakteristik Karya

Barli Sasmitawinata adalah seorang maestro seni lukis realistik. Barli memulai belajar melukis di studio milik Jos Pluimentz, seorang pelukis asal Belgia yang tinggal di Bandung. Barli banyak belajar melukis alam, benda dan dia adalah satu-satunya murid pribumi di studio tersebut. Di studio itu Barli banyak belajar mengenal persyaratan melukis.

“Titik Sambung” Barli Sasmitawinata

Karena kiprah kepelukisannya yang sedemikian panjang, kritikus seni Jim Supangkat dalam bukunya “Titik Sambung”, menempatkan Barli Sasmitawinata sebagai ‘titik sambung’ dua gugus perkembangan seni lukis Indonesia: seni lukis masa kolonial dan seni lukis modern Indonesia.

Dijelaskan oleh Jim, di satu sisi Barli dapat dilihat sebagai pelukis yang meneruskan perkembangan seni lukis masa kolonial. Tetapi di sisi lain Barli merupakan bagian dari pertumbuhan seni lukis modern Indonesia yang menentang seni lukis masa kolonial itu sendiri.

Prinsip Melukis Anatomi

Barli adalah contoh pelukis dan guru yang mendapatkan pendidikan secara baik sejak usia remaja sampai kemudian belajar seni lukis ke Perancis hingga Belanda.

Di Eropa, Barli memperoleh banyak prinsip-prinsip melukis anatomi secara intensif. Pelajaran anatomi, untuk pelukis sangat mementingkan otot-otot yang ada di luar bukan otot yang di dalam. Pernah, selama dua tahun di Eropa, Barli setiap dua jam dalam sehari hanya menggambar nude (orang telanjang) saja, sesuatu yang tidak pernah dipersoalkan pantas atau tidak di sana. Sebab, jika untuk kepentingan akademis hal itu dianggap biasa.

Seni Abstrak Barli Sasmitawinata

Walaupun sebagai pelukis realisme, Barli mengaku cukup mengerti abstrak. Sebab, menurutnya seni memang abstrak. Seni adalah nilai. Setiap kali melihat karya yang realistik, Barli justru tertarik pada segi-segi abstraksinya. Seperti segi-segi penempatan komposisi yang abstrak, yang tidak bisa dijelaskan oleh pelukisnya sendiri.

Barli menyebutkan pula, pelukis yang menggambar realistik sesungguhnya sedang melukiskan meaning. Dicontohkannya lagi, jika melihat seorang kakek, maka ia akan tertarik pada umurnya, kemanusiaannya. Sehingga pastilah ia akan melukiskannya secara realistik, sebab soal umur tidak bisa dilukiskan dengan abstrak. Menggambarkan penderitaan manusia lebih bisa dilukiskan dengan cara realistik daripada secara abstrak.

Museum Barli

Museum Barli dibangun sebagai manifestasi kecintaan Barli pada seni lukis sekaligus bertujuan meningkatkan apresiasi seni bagi masyarakat Indonesia. Bisa dikatakan, Museum Barli adalah satu-satunya museum yang terus berupaya untuk mengedukasi masyarakat dalam hal seni rupa.

Elemen Goresan Garis Barli Sasmitawinata

Apabila kita menelisik seja­rah perkembangan perupa di Nu­­san­tara ini, Barli merupakan salah satu pelukis yang sejak awal ber­karya selalu konsisten me­ma­kai elemen ga­ris. Begitu me­li­hat karya-karyanya yang ada di hadapan mata, kita dapat lang­sung menebak sia­pa orang yang mem­buatnya.

Mu­lai dari tampilan garis yang di­namis dan selaras de­ngan ob­jek bahkan warnanya. Dia adalah Barli Sasmita­wi­nata, yang juga ge­mar melu­kiskan potret sesama pe­lukis.

Te­rkadang figur yang dijadikan ob­­jek dalam lukisan pastelnya ada­lah pelukis Affandi dan pelukis terkenal lainnya.

Ke­mahiran Barli dalam mengo­lah karakter ob­jek melalui po­tret sudah tak diragu­kan lagi. Ia dapat membuat ritme dalam goresan sekaligus menghadir­­kan karakter mimik wajah pada mo­del lukisannya.

Bahkan, ia sanggup meng­­­ha­dirkan kesan ruang tanpa latar hanya lewat dinamika goresan garis saja. Menurut­nya, melukis manusia tidak ha­nya menghadirkan kemiripan, tapi diperlukan juga standar ga­ris dan warna berkarakter.

Keteguhan garis dalam lukisan potret Barli memang mengun­dang decak kagum, ia sangat mengerti dalam menempat­kan garis se­iring posisinya. Dalam sekejap atau sekali tatap melihat mo­­delnya, ia sudah langsung bisa memindahkannya ke atas kertas dan ke bidang kan­vas. Ekspresi wajah itupun de­ngan sendiri­nya muncul, itu se­mua berkat keta­ja­man sensi­bilitas seorang Barli.

Media lukisan

Karya lukisan po­tret Barli ada yang dikelompokkan ke­pa­da gambar hitam putih do­mi­nan memakai “charcoal”.

Sebagian dengan cat mi­nyak, cat air, dan pastel. Di dalam lukisannya, Barli tetap me­nonjolkan garis se­ba­gai kontur dan juga penegas warnanya. Apa­pun yang terka­it dalam lukisan karya Barli, umum­nya selalu mengotak-atik po­sisi figur mulai dari duduk, ber­diri, hingga berjalan.

Lukisan Pastel Barli Tidak Ada Duanya

Selama enam puluh lima ta­hun berkarya sebagai pelukis, Barli me­mang teguh pada pendiriannya. Lukisan pastelnya bisa dija­dikan acuan dalam menghadir­kan karakter garis.

Karakter ga­ris pada lukisan pastel karya Barli adalah suatu ciri yang tidak ada duanya, apabila disandingkan dengan ele­minir garis.

Tepatlah jika apa yang dikata­kan Jim Supangkat, tidak ada pelukis In­donesia lain yang se­posisi de­ngan kegarangan ga­ris darinya. (Sumber: http://harian.analisadaily.com)

Kesimpulan Karya Barli Sasmitawinata

Mencermati karya-karya Barli dari periode awal sampai sekarang, terlihat dua pokok masalah yang selalu muncul. Pertama adalah bahasa realismenya, kedua menyangkut tema manusia yang seakan-akan tidak habis-habisnya untuk ditimba.

Lukisan-lukisan dengan dasar realisme itu mulai cenderung mengarah pada sapuan-sapuan goresan dan warna yang ekspresif. Kecenderungan pada pemakaian warna-warna kontras yang cerah membedakan Barli dengan pelukis-pelukis persagi lainnya.

Barli begitu banyak mengungkapkan manusia dalam lukisannya. Menurut penghayatannya, objek-objek manusia bisa menciptakan segala situasi dan karakter yang bersifat reflektif.

Dalam sosok manusia, kita bisa merasakan problematika kemiskinan, kebahagiaan, kejernihan anak-anak, optimisme generasi muda, kerentaan usia yang mulai menua, dan situasi lainnya.

Karena perhatian intensif dengan objek-objek tersebut, ia menjadi peka terhadap momen-momen kemanusiaan terutama pada masyarakat kecil.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://archive.ivaa-online.org/ http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/barli-sasmitawinata http://arsip.galeri-nasional.or.id/uploads/arsip/text/386/25029/389-MA1.pdf
Comments
Loading...