Lukisan “Dua Wajah” Karya Fajar Sidik

Dua Wajah - Fajar Sidik
0 121.227

Lukisan “Dua Wajah” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Fajar Sidik.

Dua Wajah – Fajar Sidik
  • Pelukis : Fajar Sidik
  • Judul : “Dua Wajah”
  • Tahun : 1979
  • Media : Oil on Canvas
  • Ukuran : 70 cm x 90 cm

Deskripsi Lukisan “Dua Wajah”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya realisme, abstrak, kubisme, kontemporer. Dengan teknik melukis menggunakan media cat minyak di atas kanvas. 

Setelah sebelumnya melukis realis dengan tema kehidupan rakyat, mulai 1961-an, Fajar Sidik mengalihkan konsentrasinya ke lukisan abstrak. Namun, kematangan abstrak ini baru dicapainya sekitar 1968. Pada tahun itu, menurut Sanento Yuliman, Fajar mulai membuang bentuk hewan, citraan-citraan makhluk hidup dalam bentuk-bentuknya – ia murni menuju pada bentuk-bentuk ruang dasar, seperti persegi panjang, bujur sangkar, lingkaran, segitiga, trapesium, belah ketupat, dan jajaran genjang.

Bentuk-bentuk tersebut disusun sedemikian rupa, nampak menyatu dengan latar belakang. Dalam hal ini, Fajar lebih banyak bermain dengan komposisi dan warna daripada dengan objek dan latar belakangnya. Bentuk itu disusun berwarna warni dan berulang-ulang. Dalam lukisannya, elemen garis sangat menonjol. Nampaknya, ia menggunakan beragam garis: lengkung, lurus, bergelombang, zigzag, dan sebagainya untuk membentuk ‘ruang imajiner’ baru – yang dibentuk dari permainan bidang-bidang geometri dasar itu, semacam ‘desain ekspresif’ yang pernah dikatakannya.

Dalam perjalanan kesenian Fajar Sidik, ada dua unsur kuat yang memberikan warna pengaruh. Unsur pertama adalah pemikiran-pemikiran Barat yang terbentuk lewat pendididkan formal dan suasana kultural dalam kehidupan masa kecil. Dan unsur kedua adalah pendidikan sanggar, yang memberikan dasar-dasar penguasaan teknik dan pemahaman atas sikap serta etos kerja seniman.

Perjalanan Karier

Fadjar Sidik lahir dari keluarga yang kental dengan kultur Islam. Ayahnya yaitu M. Sidik adalah seorang pengikut Muhammadiyah yang aktif, dan ibunya, yaitu Dewi Maryam adalah pengurus Aisiyah. Namun demikian, keluarga yang kental dengan kultur Islam ini kena imbas semangat nasionalisme dari tokoh-tokoh pergerakan nasional yang banyak lahir di daerahnya.

Fajar Sidik yang meninggal dunia pada 18 Januari 2004 di rumahnya di Yogyakarta, terbukti selama 40 tahun lebih telah mempertahankan keyakinan estetik abstraknya secara kuat. Ia telah menjadi agen perubahan dalam seni lukis modern sekaligus pelopor seni lukis abstrak di Indonesia.

Karakteristik Karya

Fajar sidik telah berjuang  sebagai seorang modernis dalam lingkungan seni lukis Yogyakarta yang kuat mengembangkan paradigma estetik kerakyatan.

Pemberontakan telah ia lakukan. Tapi bukan kepada Negara untuk merebut pemerintahan. Ia hanya memberontak kepada keseniannya, yaitu seni lukis, untuk mencapai purify of form (kemurnian bentuk).

Karya-karyanya telah bergeser dari pokok figuratif ke raut nirmana (penyusunan elemen-elemen visual seperti titik, garis, warna, ruang, dan tekstur menjadi satu kesatuan yang harmonis); dari ruang representasional (pictorial) ke bidang yang hanya mencacah bentuk (picturesque). Menurut Fajar, kehadiran seni lukisnya, sama saja dengan cap tangan manusia purba yang tertera di dinding gua 20 ribu tahun silam.

Pilihan Fajar Sidik terhadap lukisan abstrak, banyak dipengaruhi oleh masa perantauannya di Bali, yang dianggapnya hanya melukis ‘benda industri’, yang meskipun indah tak semestinya ditangkap sebagai objek representasi. Ia menganggapnya telah menipu dirinya sendiri, sehingga menciptakan objek-objek sendiri untuk keperluan ekspresi.

Ia kemudian mengembangkan corak lukisan abstrak yang khas yakni dengan menciptakan genre Dinamika Keruangan. Seri lukisan khasnya tersebut di dalamnya memuat tema citraan bermacam-macam, seperti ‘hanya’ menggambarkan bulatan-bulatan atau persegi tiada beraturan, atau sedikit bentuk yang mencitrakan hewan atau alam. Selain itu, ada juga kesan dekoratif dalam lukisannya yang seringkali terjadi karena susunan bentuk biomorfis (suatu bidang yang mempelajari tentang siklus kehidupan makhluk hidup) berwarna kontras yang ditata berirama di bidang kanvasnya.

Fajar menyebut lukisannya sebagai ‘desain ekspresif’, yakni suatu keinginan untuk mendamaikan antara abstraksi dan empati. Jejak empati Fajar terhadap alam kemudian melantunkan bentuk-bentuk yang bukan naturalistik, melainkan sejenis raut khayal yang hidup-bernapas atau biomorfik. Wacana abstraksinya lebih mengacu pada dorongan ke arah geometri dan melahirkan sejenis negasi atau ketakutan terhadap ruang (horror vacui).

Tema Lukisan

Kemudian mengenai judul-judul lukisan abstraknya, secara semantik, kata-kata dalam judul mempunyai koherensi yang kuat dengan karakter bentuk-bentuk karyanya. Seperti pada serial “Dinamika Keruangan”, “Interior”, “Fantasi Lurik”, “Metropol”, serta “Sangkala”, walaupun tidak memiliki muatan nilai-nilai literer atau sosial, namun tetap mencerminkan karakter-karakter visual yang mempunyai koherensi dengan prinsip-prinsip visual yang mengasosiasikan bentuk-bentuk pada serial judul-judul itu.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://archive.ivaa-online.org/ http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/fadjar-sidik-1 http://www.penebar.com/2012/01/maestro-lukis-indonesia-itu-bernama.html?m=1
Comments
Loading...