Lukisan “Exotic Memories No. 3” (I Wayan Suja)

Exotic Memories No. 3 - I Wayan Suja
0 2.673

Lukisan “Exotic Memories No. 3” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, I Wayan Suja.

Exotic Memories No. 3 – I Wayan Suja
  • Pelukis : I Wayan Suja
  • Judul : “Exotic Memories No. 3”
  • Tahun : 2009
  • Media : Oil On Canvas
  • Ukuran : 150 cm x 200 cm

Deskripsi Lukisan “Exotic Memories No. 3”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya abstrak, kontemporer dan realisme. Dengan teknik melukis menggunakan cat minyak di atas kanvas.

Latar Belakang

Wayan Suja mulai berkenalan dengan seni rupa (lukis) ketika dia memasuki Sekolah Menengah Seni Rupa SMSR tahun 1991, melalui bangku sekolah inilah dia mulai mengasah kemampuan skill rupanya dan berkenalan dengan teknik melukis modern. Ketertarikannya pada seni rupa semakin tumbuh dan menghantarkannya untuk memasuki pendidikan seni pada jenjang yang lebih tinggi. Setelah lulus dari sekolah menengah tahun 1995 Suja memutuskan untuk melanjutkan studinya pada Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI/ISI) Denpasar. Membawanya mulai berkenalan dengan seni lukis abstrak yang saat itu merebak di Bali hasil temuan seniman-seniman Sanggar Dewata Indonesia (SDI). 

Pelukis I Wayan Suja tumbuh dalam lingkungan masyarakat tradisional pedesaan. Ia turut merasa betapa tidak mudahnya terhindar dari kepungan kemajuan dunia modern. Persoalan identitas kemudian menjadi penting baginya. Tampak terasa dengan jelas pada karya-karyanya bagaimana benturan antara nilai-nilai lokal dengan adanya pengaruh globalisasi.

Hal ini kerap dinilai menjadi penyebab adanya pergeseran makna-makna luhur yang diwariskan para leluhur.

Perkembangan Karakteristik Karya

Sedari awal perkembangan karya-karyanya, Suja tidak sepenuhnya menyerap gaya seni abstrak yang sedang berkembang di Bali, ia memperkuat karakter figuratif dalam karyanya yang kuat merepresentasikan fenomena sosial. Karya Suja banyak dipengaruhi oleh pergolakan sosial politik yang terjadi pada tahun 1998 dan setelahnya yang berlanjut dengan pergantian kekuasaan. Tidak seperti seniman muda sejamannya sebagai mahasiswa, Suja tidak dapat menutup mata dengan pergolakan sosial yang terjadi di sekitarnya. Dalam karya “Atas Nama Kebenaran Apa?” menampilkan figur-figur terpiuh dengan berbagai ekspresi, menghadirkan kondisi chaos pasca pergantian kekuasaan rezim Orde Baru.  Warna-warna yang dipilihnya pekat, suram, gelap, dinominasi warna merah, kuning, hijau, biru, coklat yang tidak bright namun bernuansa kegelapan bahkan hitam. Dipadukan dengan lelehan, goresan kuas kasar, dan kadang bertekstur. Dalam beberapa karya Suja kerap membuat kolase dari potongan majalah, koran, yang disablon dan ia juga kerap membuat kolase berdimensi dari kotak kayu dan sebagainya.

Dalam komunitas, Suja yang sempat menjabat sebagai presiden Taxu di Klinik Seni Taxu Art Space tidak saja mengasah kepekaan kritikalnya dalam menanggapi kondisi sosial-budaya yang tengah terjadi di sekitarnya.

Sembari mengasah daya kritis dengan kecenderungan menampilkan representasi dari sisi estetik dalam karya-karya Suja dari tahun 2003 terjadi perubahan, dari abstraksi-figuratif (persoalan kontekstual yang ditampilkan dengan konstruksi visual yang lebih bersifat simbolik) menjadi lebih representasional (realis). Namun ia lebih memainkan tanda-tanda pada tataran konotatif dan denotatif. Pergerakannya ini sebenarnya bersifat coaccident terjadi tidak akibat disengajai untuk beralih gaya (bahasa rupa). Pergerakan ini terjadi mengiringi intensi Suja menampilkan persoalan kontekstual dalam karyanya. Jelas bahasa representasi yaitu realis menjadi pilihan, karena dengan bahasa realislah persoalan tersebut dapat segera tampil tanpa bungkus simbolik. Pergeseran ini dapat dimaknai sebagai sikap berkesenian Suja yang mulai secara eksplisit ia tampilkan.

Identitas Bali dalam Lukisan I Wayan Suja

Penerimaan arus utama SDI dalam awal karir Wayan Suja tidak membuatnya terlena dan malah berbalik. Daya kritis yang dipresentasikan dalam karya-karyanya memberi dasar baginya untuk lebih kritis melihat medan seni rupa Bali. 

Karya yang berjudul “Identitas Bali 2003” menampilkan sensitifnya persoalan identitas di Bali pasca Bom Kuta. Identitas Bali dan non Bali adalah persoalan yang sangat penting. Orang Bali tiba-tiba menjadi paranoid dengan identitas tertentu dari masyarakat pendatang yang menetap di Bali.

Dalam karya Suja secara sinikal (khas) menampilkan persoalan identitas tersebut. Berupa seorang pemuda Bali yang berpakaian adat, kamen, saput, udeng dan menyelip keris dipunggungnya dengan memakai kaca mata hitam. Didadanya tergantung plakat nama bertuliskan “Bali Asli”. Disampingya duduk seekor anjing hitam bertuliskan “Bali Campuran”, berlatarkan komposisi warna poleng (hitam-putih) tergantung sebuah plakat lagi yang bertuliskan “Di cari!!! Beridentitas Bali”. Dari pakaian yang dikenakan oleh sang laki-laki menunjuk pada sosok Pecalang, satuan adat sebagai penjaga ketentraman Bali.

Setelah peristiwa Bom Bali Pecalang sangat berperan dalam mengamankan Bali selain aparat keamanan. Satuan ketertiban adat ini dapat dibaca sebagai upaya protektif dan difensif-Bali dalam menghadapi serangan atas Bali. Kondisi ini bisa dimaknai sebagai bentuk reaksi simbolik, karena kalau dilihat dari kacamata keamanan jelas pengamanan versi pecalang tidaklah bisa dibilang memadai dari sisi pengaman yang dilaksanakannya. Reaksi ini oleh Degung Santikarma disebut sebagai “Siaga Budaya dan Budaya Siaga”. Dalam karya Suja menampilkan persoalan siaga budaya ini dengan menampilkan sosok pecalang berbadan tegap memakai kacamata dengan sebilah keris dibelakang punggung ditampilkan secara frontal.

Pengkristalan Karya I Wayan Suja

Pengalamannya dalam mengangkat persoalan besar dalam budaya Bali lambat laun mengkristal dan memberikan perspektif baru bagi perkembangan karya Suja selanjutnya. Dalam pameran kedua Klinik Seni Taxu tahun 2004 yang bertajuk “Rememoratin”, Suja menampilkan karya berjudul “Flattery of the little Clown”. Lukisan ini menampilkan  sosok anak kecil yang sedang terpesona dengan sebuah boneka yang tergantung bergerak-gerak di depannya (digantung terpisah di depan lukisan). Di sampingnya terdapat pas foto Suja Sendiri dari semenjak di SD hingga lulus S1. Pada bagian paling pinggir terdapat lobang-lobang yang berisi kaca cermin. Ekspresi si anak yang serasa menginginkan boneka, namun itu hanya sebatas keinginan semata. Karena boneka tersebut meskipun terlihat dekat namun ia dibatasi oleh dimensi waktu. Jika dikaitkan dengan pas foto diri yang ditampilkan di samping, hal ini bisa dibaca mungkin representasi obsesi sang seniman sendiri.

Namun terlepas dari tepat tidaknya pemaknaan itu, karya ini memberikan kesadaran baru bagi Suja dalam menyikapi persoalan sosial budaya yang tengah dia kritisi. Jika sebelumnya karya-karya Suja secara umum menampilkan narasi besar persoalan sosial politik bangsa pasca reformasi (karya-karyanya tahun 1998-2001), persoalan sosial budaya Bali pasca Bom Kuta (pada karya-karyanya tahun 2002-2003). Kini Suja mengalihkan perhatiannya pada persoalan, narasi kecil, persoalan diri sendiri dan orang Bali. Memposisikan dirinya dibalik kepungan arus modernisasi dan globalisasi.

Meskipun kemudian terjadi perubahan dalam kebijakan Taxu[1] untuk lebih memfokuskan pencarian estetik pada persoalan non kontekstual (formal) dalam presentasi karya-karya realis Taxu. Masa transisi ini dijalaninya dengan melahirkan karya yang ia beri judul “Aesthetic Line” tahun 2005. Lukisan tersebut menampilkan sebuah figur yang berada di sisi lukisan sedang berkacak pinggang melihat ke bawah, seperti sedang memikiran sesuatu. Karya ini berlatarkan warna merah yang bernuansa lelehan dan warna coklat/hitam. Lewat karya ini Suja sepertinya sedang mengevaluasi proses kreativitasnya, dan mencari jawaban mengenai kemana dan apa sesungguhnya yang akan dia tampilkan dalam karya-karyanya.

Karya Formal dengan Muatan Kontekstual

Namun Suja tidak sepenuhnya sepakat dengan keputusan untuk mengeliminir representasi persoalan kontekstual. Daya kritis terhadap persoalan sosial tidak bisa dia hilangkan begitu saja. Karya-karya yang dibuat pada tahun 2005 sampai pertengahan 2006 menyiratkan transisi dan pergulatan Suja antara penekanan aspek-aspek formal dan muatan kontekstual. Pergulatan itu dapat disimak dalam karya seri cocacola yang diberi judul, “Swear…! Aku Orang Bali” 2005. Karya ini menampilkan sosok anak kecil sedang meneguk minuman kaleng coca-cola dengan mamakai baju donal bebek. Ditambah dengan running texs ditengah-tengah lukisan yang bertuliskan swear..aku orang Bali. Sekilas karya ini cukup sederhana, hanya dengan menampilkan figur anak kecil yang sedang minum coca-cola, karena telah umum terjadi di masyarakat (makna denotasi). Namun jika ditinjau lebih dalam, karya ini berada dalam posisi tanda dengan makna konotasi.

Coca-cola adalah minuman yang telah mengglobal. Tokoh Donal bebek sebagai ikon Disney perusahan raksasa dalam bidang hiburan anak-anak adalah ikon-ikon yang berkonotasi luas. Bisa berbicara mengenai globalisasi, konsumerisme, dan bahkan dekolonialisasi dalam bentuk budaya. Suja dengan sadar mengambil ikon-ikon tersebut untuk merepresentasikan apa yang tengah menjadi persoalan sosial budaya Bali khususnya dan umumnya masyarakat dunia ketiga. Judul yang terasa bernada penegasan, justru memunculkan pertanyaan apa sesungguhnya identitas tersebut? Apakah ketika kita memakai atau menikmati produk-produk modern (Barat) identitas kita telah berubah? Atau sebaliknya apakah dengan memakai pakain adat Bali berarti seseorang itu tentunya orang Bali?

Transformasi yang tengah terjadi dalam diri dan terepresentasi dalam karya-karya adalah betapa sesungguhnya Suja mendapati persoalan budaya itu sangat berlapis-lapis. Sehingga tidak mungkin melihatnya hanya dengan kasat mata. Kedekatan Suja dengan realitas adat dan interaksi sosial yang telah menjadi kesehariannya seperti orang Bali pada umumnya, memberikannya cara pandang baru dalam melihat dan menanggapi persoalan yang tengah dihadapi oleh ia sendiri dan saudara-saudaranya di Bali.

Akhir yang Menjadi Awal

Transformasi yang terjadi menumbuhkan keyakinan Suja bahwa transformasi estetik tidaklah identik dengan semangat avant garde (menunjukkan perlawanan terhadap batas-batas apa yang diterima sebagai norma dalam suatu kebudayaan). Perbedaan pemahaman inilah yang kemudian menjadikan Suja memutuskan untuk keluar dan mengundurkan diri dari presiden Taxu, dan menapaki kreativitasnya sebagai seniman independen berbekal keyakinan yang dipegangnya. Suja memang sosok seniman yang tidak pernah lepas dari perbuatan kreatif. Tahun 2006 ketika berpameran bersama Klinik Seni Taxu di Cp Art Space Jakarta, Suja mengawali sebuah ekplorasi baru yang kemudian menghantarkannya pada kematangan teknik dan sensibilitas. Karyanya dalam seri Stretching Object berupa tampilan obyek yang terpiuh dari efek digital-photoshop.

Kehadiran Plastik dalam Karya Lukisan I Wayan Suja

Karya Suja yang berjudul Stretching object#2: Psst…Don’t tell anyone…! I’m Balinese too, 2005”, Suja menampilkan fragmen dirinya. Ia sedang mengacungkan tangan kewajah yang ditutupi oleh plastik kemasan Dunkin Donat. Karya ini kembali menampilkan transisi pengolahan estetik (fromal) dalan konstruksi karyanya, dengan persoalan konteks (identitas dan konsumerisme). Lewat seri karya Stretching object, Suja menemukan plastik sebagai ide yang selanjutnya semakin ditekuninya. Tahun 2007 secara mengejutkan Suja menampilkan belasan eksplorasi plastik dalam karya-karyanya.

Bagi I Wayan Suja, plastik merupakan salah satu aspek atau penanda dari sejarah peradaban modern dan merupakan sebuah persoalan yang kini banyak disesali sebagai salah satu faktor penting dalam proses kerusakan lingkungan. Bungkus plastik dinilainya sebagai cerminan pola hidup konsumtif yang melanda kehidupan masyarakat di seluruh dunia.

Suja menegaskan, kehadiran kedua elemen tersebut dalam karyanya, dapat dibaca sebagai metaphor dari kegelisahan terkait identitas kulturalnya dalam bayangan nilai-nilai baru peradaban modern yang sedang dirayakan bersama-sama sebagai identitas baru yang dianggap simbol “kemewahan” dalam gaya hidup. Sebuah realitas dari bagaimana identitas maupun nilai kultural masyarakat yang terdegradasi dan tersamarkan oleh citraan tanda-tanda visual kehidupan modern yang penuh warna dan ilusi.  

Catatan Kuratorial oleh Suwarno Wisetrotomo

Dalam pameran tunggal pertama I Wayan Suja yang bertajuk “Plush-tick”, menampilkan penggalian Suja pada persoalan teknis untuk merepresentasikan kehadiran plastik yang transparan yang tumpang tindih dengan figur-figur manusia: anak kecil, wanita, dan orang tua. Suwarno Wisetrotomo sebagai kurator pameran mengungkapkan bahwa “Wajah-wajah yang tersamar oleh plastik-plastik kemasan itu adalah wajah-wajah yang dalam posisi “Tak Terhindarkan”, atau “Apa Boleh Buat” (lihat karyanya seperti “Plastic Bag Exotica 3: Silent Face 01” (2007), Camouflage#1 (2007), Silent Face 02 (2007)). Atau karya objek tiga dimensional yang menghentak, seperti manekin dari bambu yang dianyam, bentuknya mengisyaratkan laki-laki dan perempuan,  mengenakan  busana  berbahan  plastik  kemasan.  Kita  seperti menyaksikan parade manusia yang tertikam oleh merek, oleh produk, oleh citra, yang (mungkin) merasa “ada karena belanja, ada karena merek, ada karena mengkonsumsi”. Juga eksperimennya melukis di atas plat yang ringsek, seperti mengisyaratkan iklan-iklan yang meringsekkan identitas manusia pada umumnya. Iklan yang merepresi secara laten terhadap selera dan  keyakinan siapapun.”.

Dalam pameran tunggal Suja, ia kembali menampilkan kemantapan keyakinannya. Karya-karyanya menampilkan kemajuan peggalian visual (kepekaan formal) yang diformulasikan dengan muatan kontekstual. Suja seraya membuktikan keyakinannya, bahwa transformasi ala Taxu bukanlah satu-satunya cara untuk eksis di medan seni kontemporer.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Sumber: http://ruangantarastudio.blogspot.co.id/2015/08/evolusi-visual-dalam-proses-kreatif.html

Source http://www.artnet.com http://www.artnet.com/WebServices/images/ll00153lldKzuGFga9Z82CfDrCWQFHPKcmxFD/wayan-suja-exotic-memories-no.3.jpg http://bali.tribunnews.com/2016/02/07/bungkus-plastik-itu-cerminan-pola-hidup-manusia-ini-buktinya
Comments
Loading...