Lukisan “Girls” Karya Chusin Setiadikara

Girls - Chusin Setiadikara
0 1.222

Lukisan “Girls” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Chusin Setiadikara

Girls – Chusin Setiadikara
  • Pelukis : Chusin Setiadikara
  • Judul : “Girls”
  • Tahun : 2011
  • Media : Mixed Media on Canvas
  • Ukuran : 180 x 200 cm

Deskripsi Lukisan “Girls”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya realisme. Dengan teknik melukis menggunakan media cat akrilik dan charcoal di atas kanvas.

Chusin Setiadikara terkenal dengan gaya lukisan realisnya dan pendekatan fotografis, yang artinya setiap model lukisan yang dibuatnya pertama kali dihasilkan melalui media foto dan baru dituangkan ke atas kanvas dengan menggunakan media charcoal serta cat minyak, hasilnya adalah suatu ciri khas Chusin dimana dalam beberapa lukisannya terasa seperti sebuah kolase, ia menggabungkan drawing charcoalnya dengan lukisan cat minyak, beberapa objek terkadang dijadikan satu seperti membawa pesan terselubung akan arti yang ingin di sampaikan.

Subjek Lukisan

Hampir dalam setiap lukisannya, Chusin sering menjadikan Pasar Kintamani yang berada di Bali menjadi subject matter lukisannya, setelah sebelumnya tinggal dan menetap di Bandung, pada tahun 1987 ia pindah dan kemudian menetap tinggal di Bali. Hal tersebut dilakukan karena ia merasa gelisah karena proses kreatif dirinya sebagai seorang pelukis tidak berjalan kemana-mana. Setelah pindah ke Bali, barulah ia kembali mengevaluasi dirinya sebagai seorang pelukis. Chusin tak sekadar pelukis realis. Ia masih setia dengan sketsa yang membangun objek-objek realis dan detil sebagai proses penyelesaiannya. Sekaligus ia menguasai teknik melukis secara realistik.

Teknik Lukisan

Kemampuan teknik draw­ing Chusin terbilang sangat tinggi ditambah daya ung­kap itu memang betul-be­tul dipersiap­kan­nya secara ma­tang dan cermat. Gaya ungkapnya mirip dengan konsep Dede Eri Su­pria dan Mustika yang sering kali menampilkan wajah figur secara realisme fotografis. Ke­harmonisan bentuk dan warna latar dibuat secara terperinci, se­olah-olah kita dapat lebur ikut merasakannya. Objek yang di­mun­­cul­kan­nya  apabila ki­ta meli­hat­nya merasakan atau paham se­mua yang dira­sakan oleh sang figur tadi.

Chusin biasanya melakukan observasi ke lapangan agar bisa merasakan dan mengha­ya­ti objek itu nantinya bisa menghadirkan sua­sana baru. Terkadang iamengata­kan tak mau terikat pada aliran tertentu, malah selalu meng­hin­darinya (melepaskan) kai­dah seni. Dia pun jarang me­mulai de­ngan sketsa dalam me­lukis, namun diakuinya sket­sa bisa menambah unsur lukisan semakin bermakna.

Baginya keberanian untuk melepaskan kaidah seni seka­ligus estetika itu justru mem­bu­atnya bisa memunculkan kon­sep  yang bermakna. Ia bahkan bisa memadukan bebe­rapa idiom yang lebih berbo­bot. Misal­nya lu­kisan “Pasar Kintamani” lahir karena secara emosional, ia per­nah menyaksikan pasar tradisional akan di gusur menjadi ba­ngunan semen. Secara artistik lukisan ini me­nunjukkan beragam kon­sep idiom tadi yang oleh seni­man Dede Eri Supria, jarang sekali dipertontonkan.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source https://outoftheboxindonesia.wordpress.com/ https://outoftheboxindonesia.wordpress.com/2011/03/27/chusin-setiadakara-chusins-realistic-painting-a-thesis/ https://outoftheboxindonesia.wordpress.com/2011/03/27/chusin-setiadakara-chusins-realistic-painting-a-thesis/
Comments
Loading...