Lukisan “Javanese Woman in Kebaya” Karya Sudarso #2

Javanese Woman in Kebaya - Sudarso #2
0 1.372

Lukisan “Javanese Woman in Kebaya” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Sudarso.

Javanese Woman in Kebaya – Sudarso #2
  • Pelukis : Sudarso
  • Judul : “Javanese Woman in Kebaya”
  • Tahun : 2002
  • Media : Oil on Canvas
  • Ukuran : 118 x 80 cm

Deskripsi Lukisan “Javanese Woman in Kebaya”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya realisme. Dengan teknik melukis menggunakan cat minyak di atas kanvas. Dalam lukisan ini, pelukis menggambarkan  potret seorang wanita desa sedang duduk mengenakan kebaya dan selendang biru di bahunya. Dengan latar belakang ruang kosong hijau dan pemandangan langit biru. Warna-warna yang digunakan dalam lukisannya senada antara satu dan yang lainnya, dengan paduan dan pengolahan warna yang sangat matang.

Latar Belakang

Sudarso adalah seorang pelukis otodidak yang pernah menjadi penjual susu di Bandung, saat sebelum dirinya menjadi seorang pelukis terkenal. Salah satu pelanggan susunya adalah pelukis Affandi Kosoema. Dari pertemuannya dengan Affandi itulah kemudian ia mulai mengenal dan kemudian berkarir dalam dunia seni lukis. Bersama Affandi, Hendra Gunawan, Barli Sasmitawinata, dan Wahdi Sumanta ia bergabung dalam Kelompok Lima (Group of Five) di Bandung.

Karakteristik Karya

Tentang seni lukisnya, Sudarso terkenal dalam Seni Lukis Jakarta dalam Sorotan. Sudarso sering melukis perempuan desa yang tampak sederhana dengan gambar pemandangan alam sebagai latar dengan gaya yang khas. Ia dianggap tepat dalam mengungkapkan psikologi wanita desa, sederhana, polos, dan wajar.

Kebanyakan lukisan bertema wanita karya Sudarso berpose sedang duduk. Penggambaran kaki dan tangan perempuan-perempuan dalam arti kualitatif juga sangat menonjol.

Affandi mengakui bahwa sampai saat ini, Sudarso merupakan pelukis Indonesia yang pandai menggambar kaki dan tangan. Beberapa karyanya adalah, Gajah UwongWanitaIbu dan Anak, dan Dik Kedah.

Objek Lukisan Sudarso

Meskipun Sudarso banyak melukis objek selain perempuan, akan tetapi ciri khas lukisan Sudarso adalah lukisan berobjek perempuan. Perempuan yang menjadi objek lukisannya adalah perempuan mengenakan pakaian tradisional Jawa yang merupakan tipikal dari karya-karya pelukis Yogyakarta yang mengusung estetika kerakyatan.

Teknik Lukisan Sudarso

Sudarso sa­ngat menguasai teori war­na, ben­tuk, komposisi, dan unsur-un­sur seni rupa lainnya. Se­perti hal­nya lu­kisan-lukisan realis, lu­kisan karyanya mengungkap­kan realitas ke­hidupan yang ada di sekitar pelukis.

Kesetiaan Sudarso melukiskan wanita desa memang luar biasa. Dia tak hanya mampu memvisualkan keluguan wanita desa yang bersahaja, tetapi juga busana yang dikenakannya. Busana kebaya pada lukisan wanita karya Sudarso tak sepenuhnya kain panjang (non formal = terlihat betis).

Melihat cara dan teknik Sudarso melukis wanita desa (kebaya setengah betis tadi), dia sangat paham detail sisi anatomi dan gestur. Dengan busana kain jarit yang tak mengenal wiru sekaligus cingkrang (separuh panjang), justru menonjolkan betis sosok wanita desa tanpa alas kaki. Wanita desa itu selalu duduk dengan gestur yang beragam, namun tetap berada dengan latar sunyi dan warna buram.

Jika pembaca teliti dan mengamati lukisan Sudarso terutama posisi duduknya, maka akan mudah dipahami bahwa wanita  yang menjadi objek pada lukisannya itu romantis, patuh, dan memiliki beberapa rahasia. Hal ini biasanya spontan tanpa dibuat-buat oleh sang perupa. Paling tidak Sudarso adalah maestro lukisan realisme di Indonesia, yang mampu menempatkan posisi wanita dari cara duduknya, berbusana kebaya serta tatapan wajah (gestur).

Pameran dan Kolektor Lukisan Sudarso

Keseriusan Sudarso agar tetap eksis dalam berkarya terutama melukis objek perempuan desa adalah hal unik, dan belum ada duanya. Walaupun dalam perjalanan karirnya Sudarso tidak sepopuler Affandi, Basoeki Abdullah, Hendra Gunawan, Wahdi, dan sebagainya. Namun ia telah menjadikan dirinya sebagai pelukis di lingkaran istana pada era Soekarno.

Sudarso dalam sejarah seni rupa Indonesia termasuk pelukis dalam lingkaran istana dan karyanya banyak  dikoleksi oleh Soekarno. Kiprah pameran dimulainya tahun 1951 seiring terbentuknya GPI (Gabungan Pelukis Indonesia). Tahun 1960 di Kedutaan Argentina di Jakarta, lalu pada tahun 1969, dia kembali berpameran di Balai Budaya.

Sudarso banyak mengadakan pameran tunggal di Indonesia maupun pameran bersama di luar negeri.

Akhir Hayat

Tepat pada 20 Juni 2006. Pelukis Sudarso menghembuskan nafas terakhirnya di Purwakarta, Jawa Barat. Almarhum di makamkan di Yogyakarta.

Beberapa karya lukisan perempuan desa karya Sudarso adalah aset sejarah seni rupa Nusantara, yang harus tetap dijaga keberadaannya sebagai bukti bahwa Sudarso adalah bagian penting dari perkembangan seni lukis di Indonesia.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia

Source https://www.mutualart.com https://www.mutualart.com/Artwork/Javanese-Woman-in-Kebaya/B758B3E47405C557 http://harian.analisadaily.com/mobile/seni/news/sudarso-di-balik-wanita-desa/1396/2014/01/26
Comments
Loading...