Lukisan “Just Imaginary Meeting” (Fauzie As’ad)

Just Imaginary Meeting - Fauzie As'ad
0 1.461

Lukisan Just Imaginary Meeting merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Fauzie As’ad.

Just Imaginary Meeting – Fauzie As’ad
  • Pelukis  : Fauzie As’ad
  • Judul : “Just Imaginary Meeting”
  • Ukuran  : 90 cm x 90 cm
  • Tahun  :  2010
  • Media : Acrylic On Canvas

Deskripsi Lukisan Just Imaginary Meeting

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya abstrak ekspresionisme. Teknik pengecatan lukisan menggunakan bahan akrilik di atas kanvas. Lukisan ini menggambarkan tentang pertemuan khayalan.

Makna Lukisan

Tegasnya, pikiran atau pengetahuan harus selalu ditempatkan dalam keutuhanya sebagai salah satu fenomena manusia untuk memanusiakan manusia. Pikiran bukanlah ego mandiri yang berada pada dirinya sendiri dan melayani kepentingan pikiran itu sendiri. Pikiran tidak dapat berpikir dari dalam dirinya sendiri, tetapi manusialah yang berpikir dengan pikirannya itu sendiri dalam keutuhan konteks kemanusiaannya.

Menurut Socrates, manusia, dengan pikiran atau pengetahuannya, seolah melangkah maju dari upaya menyingkap misteri satu menuju misteri-misteri lain, yang kian mekar, di dalam hidupnya. Manusia, dengan pikiran atau pengetahuannya, seola bergerak dari satu ketidaktahuan menuju ketidaktahuan baru dalam hidupnya. Kenyataan itulah yang membuat ilmu pengetahuan makin terus berkembang dalam tatanan filosofis, agar mampu memburu dan membunuh naga-naga ketidaktahuan dan kejahatan baru (kejahatan profesional) yang bertumbuh berbarengan dengan perkembangan pikiran, pengetahuan, dan keilmuan manusia.

Gonti Seauton, dalam hal ini, menunjukkan sebuah kepentingan kemanusiaan yang bersifat fundamental dalam hal memahami dan mengerjakan pikiran, yang merupakan salah satu ciri keberadaan yang khas manusia itu. Intinya pada analisis diri dan pemahaman diri untuk mencapai pengetahuan dan tingkah laku yang lebih baik. Manusia, melalui pengetahuannya itu, memperoleh kekuatan, tanggungjawab, kesadaran bathin, kematangan pemikiran atau intelektual, dan rasa percaya diri untuk membangun dirinya sebagai mahkluk beradab yang makin matang (dewasa), tahu diri, dan berendah hati.

Manusia, di samping membutuhkan kerendahan hati, juga membutuhkan kesabaran, ketekunan, kesabaran, dan keteguhan bathin untuk menegur dan mendidik diri. Ia butuh kedisiplinan, tanggung jawab, dan optimisme hidup di dalam mengejar pengetahuan atau kearifan dimaksud. Filsafat, karena itu, hendak menunjukkan bahwa manusia bukan hanya bertugas mengisi “ingin tahu”-nya dengan pikiran dan ketrampilan-ketrampilan teknologis (praktis operasional) yang sempit atau terbatas.

Justru sebaliknya, filsafat ingin melampauinya dan menempatkan perjuangan manusia yang berpengetahuan itu pada inti pergumulan dan tugas memanusiakan manusia sebagai makhluk beradab dan berbudaya di dalam keutuhan eksistensinya. Manusia, secara eksistensial bersifat “multi dimensi”, dan karenanya, pengembangan pikiran dan pengetahaunnya pun, hendaknya merupakan sebuah tugas eksistensial yang utuh dalam kepelbagaian dimensinya itu.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://sinsinfineart.com/fauzie-asad.html http://sinsinfineart.com/vlb_files/vlb_images_fauzieasad/fauzieasad_justimaginarymeeting_acryliconcanvas_90x90_2010.jpg http://kuliah.unpatti.ac.id/mod/page/view.php?id=9
Comments
Loading...