Lukisan “Lost in Fiction; Aku Cinta Padamu Tanah Airku” Karya Triyadi Guntur Wiratmo

Lost in Fiction; Aku Cinta Padamu Tanah Airku - Triyadi Guntur Wiratmo
0 6.446

Lukisan “Lost in Fiction; Aku Cinta Padamu Tanah Airku” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Triyadi Guntur Wiratmo.

Lost in Fiction; Aku Cinta Padamu Tanah Airku – Triyadi Guntur Wiratmo
  • Pelukis : Triyadi Guntur Wiratmo
  • Judul : “Lost in Fiction; Aku Cinta Padamu Tanah Airku”
  • Tahun : 2017
  • Media : Mixed Media on Canvas
  • Ukuran : 160 cm x 100 cm

Deskripsi Lukisan “Lost in Fiction; Aku Cinta Padamu Tanah Airku”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya realisme, kontemporer. Dengan teknik melukis menggunakan media campuran di atas kanvas. Dalam lukisan ini, pelukis menggambarkan galian tambang Freeport di papua yang sudah tergerus habis dan berdiri seorang pria yang wajahnya di gantikan dengan perangko berwajah Presiden Soekarno.

Lukisan-lukisan Guntur memiliki kecenderungan dengan kekuatan gambar (drawing) dan berusaha untuk membingkai semacam proses interaksi visual dengan pengamatnya dalam tema-tema yang ia kumpulkan dari berbagai peristiwa hidup yang secara umum berkaitan dengan pengalaman dan pemahaman tentang sejarah.

Pesan visualnya yang bersifat ikonik (berbentuk gambaran yang realistik) tak hanya lebih cepat menyampaikan maksud, tetapi juga sekaligus bersifat lebih terbuka untuk ditafsirkan secara aktif.

Tema Lukisan

Triyadi menampilkan karya yang sarat dengan latar belakang sejarah. Menurutnya, latar belakang sejarah akan membantu masyarakat dalam memahami sejarah dari berbagai aspek melalui lukisan.

Dalam karya-karyanya, Guntur memang kerap menyematkan gambar wajah yang terbingkai dalam sebuah prangko, dihubungkan dengan ilustrasi yang ia gambar dari awal di atas kanvas. Ia memang pernah terlibat dalam perancangan ilustrasi prangko Indonesia dengan PT. Pos Indonesia, 2003.

Teknik Perangko dan Teknik Jahit

Karya-karya Guntur dikelompokan ke dalam dua teknik yang berbeda yakni teknik perangko dan teknik rajut yang memang keduanya merupakan ciri khas Guntur.

Selain teknik, satu hal yang membedakan Triyadi dari seniman-seniman lain adalah ketertarikannya pada elemen sejarah.

Elemen sejarah itu kemudian dikemasnya dengan teknik yang berbeda-beda, namun tetap dengan satu tujuan yakni mengajak penikmat karyanya untuk berkomunikasi dengan tafsir sejarah yang tersirat dalam karya-karyanya. Bagi Triyadi tafsir terhadap sejarah adalah salah satu hal yang tak pernah berhenti. Kemunculan berbagai sudut pandang, fakta, serta teori akan memperkaya kita untuk memaknai sejarah yang kita tahu.

Dalam karya-karya Triyadi kita bisa melihat bahwa memahami sejarah seringkali tak cukup hanya dengan ilmu pengetahuan, tapi juga diperlukan imajinasi.

Triyadi menyebutkan bahwa perangko sebenarnya adalah duta budaya, jadi orang-orang yang wajahnya kemudian menghiasi perangko tak lain merupakan wakil budaya dari zaman dan konteks masing-masing. Selain itu perangko juga menjadi tribut dari profesi yang sampan dijalani Triyadi sebelumnya, yakni sebagai ilustrator untuk PT. Pos Indonesia, produsen perangko di Tanah Air.

Tak segan pula Triyadi memasukan unsur ironi dalam karya-karyanya. Di mana ia sengaja memasukan tokoh tertentu di latar yang kontras.

Untuk karya yang menggunakan teknik menjahit, salah satu yang istimewa adalah keberadaan sastrawan Chairil Anwar dengan kutipan dari puisinya yang berjudul Perjanjian dengan Bung Karno

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source https://indoartnow.com/ https://indoartnow.com/artists/triyadi-guntur-wiratmo https://www.harpersbazaar.co.id/articles/read/4/2017/3795/Memahami-Sejarah-Lewat-Karya-Triyadi-Guntur-Wiratmo
Comments
Loading...