Lukisan “Lukisan Kaligrafi 3-22” Karya Rastika

Lukisan Kaligrafi 3-22 - Rastika
0 5.281

Lukisan “Lukisan Kaligrafi 3-22” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Rastika.

Lukisan Kaligrafi 3-22 – Rastika
  • Pelukis : Rastika
  • Judul : “Lukisan Kaligrafi 3-22”
  • Tahun : 1975
  • Media : Oil on Glass
  • Ukuran : 60 cm x 40 cm

Deskripsi Lukisan “Lukisan Kaligrafi 3-22”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya dekoratif, tradisional. Dengan teknik melukis menggunakan media cat minyak di atas kaca. Karya-karya Rastika mengangkat tema seputar cerita rakyat, kisah pewayangan, situasi keseharian masyarakat Cirebon, dan simbol-simbol agung daerah itu, seperti Buroq (burung berkepala manusia). Pada dasarnya, tema karya-karya Rastika terbagi pada darat, langit, dan laut.

Karakteristik Karya

Rastika adalah seorang pelukis dari Desa Gegesik Kulon, Kecamatan Gegesik, Cirebon. Selain melukis diatas kaca, Rastika juga mahir dalam sungging dan tatah wayang kulit serta wayang golek cepak. Ia pun sangat pandai menabuh gamelan dan ikut bergabung dalam satu kelompok pertunjukan wayang kulit di desanya. Membuat sebuah galeri kecil didepan rumahnya, di Gegesik Kulon, Gegesik, Cirebon, Jawa Barat yang melahirkan karya-karya yang unik dalam khasanah seni lukis Indonesia.

Pertumbuhan seni lukisan kaca kini terasa cukup lambat karena selain aneh, juga jarang orang yang bisa melakukannya. Barulah pada awal abad ke-17, seni ini muncul lagi dan akhirnya pada abad ke-19 mengalami pertumbuhan yang bagus.

Lukisan kaca berkembang pada saat agama Islam masuk ke Pulau Jawa. Pada zaman pemerintahan Panembahan Ratu di Cirebon, lukisan kaca sangat terkenal sebagai media dakwah Islam yang berupa lukisan kaca kaligrafi dan berupa lukisan kaca wayang, lalu terpengaruh juga dengan gaya China.

Lukisan Rastika bergaya dekoratif Klasik, tentu dengan tingkat kesulitan yang tinggi karena lukisan kaca Cirebon dilukis dengan teknik melukis terbalik, padat gradasi warna dan harmonisasi nuansa dekoratif serta menampilkan ornamen atau ragam hias motif mega mendung dan wadasan yang kita kenal sebagai motif batik Cirebon.

Lukisan-lukisannya banyak dimiliki para kolektor antara lain Karna Tanding, Begawan Mintaraga, Anoman Obong, Aji Candrabirawa, Bima Suci, dan Kumbakarna Gugur. Salah satu lukisannya diberi nama Citra Indonesia terpampang di Museum Indonesia TMII. Karya-karya Rastika kini juga bisa dilihat di Museum Wayang, Jakarta.

Narasi lukisan Rastika umumnya merupakan suatu penggambaran antara baik dan buruk, hukuman dan kejahatan, angkara dan samadi, dalam pola dan motif yang berasal dari kisah-kisah legenda dan pewayangan, dengan motif campuran antara Jawa-Hindu, Islam dan China yang telah bertransformasi.

Teknik Lukisan

Teknik lukisan kaca tradisional terbilang rumit. Awalnya gambar dilukis dalam bentuk sketsa di kanvas, lalu ditempel di kaca dan diproses kembali gradasi pewarnaanya di kaca, dalam pewarnaan yang menggunakan cat merek kuda terbang.  Komposisinya biasa berupa 50% merah, 25% hijau dan biru, dan 25% warna lain, hitam sebagai warna dasar, putih dan emas warna terakhir. Setelah dirasa sempurna, lukisan diberi bedak/pupur untuk menjaga kelembapan lalu dibingkai. Sedangkan dalam lukisan kaca tiga dimensi, sketsanya dibagi tiga – depan, tengah, dan belakang, kemudian tiga gambar disatukan dan di setiap kaca terdapat ruang pemisah.

Sanggar Lukisan

Di tahun 1987, Rastika sempat membangun sanggar melukis dan kesenian sekitar 200 meter ditempat ia bermukim, Kampung Gegesik Kulon, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Dana pembangunan sanggar tersebut ia peroleh dari uluran tangan para donator yang diprakarsai pengusaha Martha Tilaar. Hingga kini, sanggar itu masih berdiri, namun bangunannya telah dimakan usia.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://archive.ivaa-online.org/ http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/rastika https://m2indonesia.com/tokoh/sastrawan/rastika.htm
Comments
Loading...