Lukisan “Mask Dancer, Bali” (Affandi Koesoema)

Mask Dancer, Bali - Affandi Koesoema
0 2.830

Lukisan Mask Dancer, Bali merupakan salah satu tema karya perupa seni lukis Indonesia, Affandi Koesoema.

Mask Dancer, Bali – Affandi Koesoema
  • Pelukis : Affandi Koesoema
  • Judul : “Mask Dancer, Bali”
  • Tahun : 1970
  • Media : Oil On Canvas
  • Ukuran : 111 cm x 139 cm

Deskripsi Lukisan Mask Dancer, Bali

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya abstraksionisme, ekspresionisme, romantisme. Dengan teknik melukis menggunakan cat minyak di atas kanvas.

Imajinasi abstrak yang total merupakan pegangan kreasi dalam lukisan ini, yang kemudian terjelma dalam susunan warna yang jernih. Dengan aksentuasi.

Dalam bahasa visual, semua bentuk yang dihadirkan pelukis dapat dibaca dengan berbagai tingkatan penafsiran.

Lukisan ini menggambarkan seorang penari Topeng Bali.

Tari Topeng adalah tarian yang penarinya mengenakan topeng. Keberadaan topeng dalam masyarakat Bali berkaitan erat dengan upacara keagamaan Hindu, karena kesenian luluh dalam agama dan masyarakat. Tari Topeng Bali adalah sebuah tradisi yang kental dengan nuansa ritual magis, umumnya yang ditampilkan di tengah masyarakat adalah seni yang disakralkan. Tuah dari topeng yang merepresentasikan dewa-dewa dipercaya mampu menganugrahkan ketenteraman dan keselamatan.

Lukisan ini dibuat karena kecintaan Affandi terhadap budaya Indonesia.

Makna Lukisan Secara Global

Dasar Penciptaan Karya

Lukisan karyanya banyak mengungkapkan kondisi sosial dan lingkungan alam, dan kerap menyertakan bentuk matahari sebagai objek.

Telah diketahui luas bahwa lukisan karya Affandi bukan sekedar mengekspresikan objek yang ada di alam, tetapi lebih jauh dari itu yakni sampai pada taraf mencari makna.

Landasan berpikir seperti ini ditandai dari fisik lukisannya. Pertama dari sisi garapannya yang memperlihatkan beberapa teknik, gaya dan penggambaran objek pelukisan. Kedua dari sudut ‘pesan’ ada kalanya ia melukis peristiwa atau objek di sekelilingnya, tetapi pada saat lain Affandi melukiskan dirinya sendiri.

Kesemuanya demi memuaskan hasratnya melukis. Kronologi penciptaannya, objek sebagai pencetus ekspresi artistiknya selalu melalui tahap observasi. Kemudian objek dipelajari secara mendalam karena dalam melukis ia memerlukan empati.

Dirinya seolah-olah menyatu dengan objek yang menjadi motif lukisannya. Bahkan terhadap masalah penderitaan, empatinya telah mengalami perluasan makna menjadi sikap humanisme. Jadi bukan hanya penderitaan manusia dan binatang, tetapi juga ‘penderitaan’ benda-benda.

Azas seperti ini menjadi obsesi daya kreatifnya, menyebabkan dia kerap melukis dengan suasana yang akrab dengan penderitaan.

Julukan kepada Affandi

Kelebihan dan keistimewaan Affandi dalam berkarya menyebabkan dirinya dinugerahi berbagai sebutan atau julukan. Misalnya saja sebagai pelukis Ekspresionisme Baru Indonesia. Ada pula yang menyebutnya Grand Maestro, kemudian ‘sang empu’ seni lukis Indonesia. Tentu saja dengan reputasi internasional.

Humanisme

Konsistensi pada humanisme merupakan titik tolak penciptaan dan perjuangannya dalam melukis, dan tentu saja ekspresi emosi yang tercurah disertai dengan eksperimen. Indikasi ini terlihat dari visualisasi karya-karyanya yang terdiri dari berbagai teknik dan objek pelukisan

Affandi termasuk seniman yang harus melukis dengan objek nyata dihadapannya, oleh karena itu objeknya harus akrab dengannya. Kondisi sosial, lingkungan alam, keluarga, sampai pada wajahnya sendiri merupakan situasi lingkungan kesehariannya.

Penguasaannya terhadap anatomi tubuh manusia secara akademis dinilai berhasil, karena Affandi mendalami teknik melukis para master dunia seperti Rembrandt, Rubens, Leonardo Da Vinci, atau para pelukis naturalisme-realisme lainnya yang terkenal hanya melalui karya reproduksi dalam buku.

Bagi Affandi, melukis bukan berdasarkan pikiran melainkan pada naluri. Tidak meniru dari apa yang tersaji oleh alam, tetapi menyaringnya secara intuitif sampai hanya pada esensinya saja.

Goresan sederhananya membentuk ketepatan yang meyakinkan sehingga garis-garis itu seolah menunjukkan cermin kepribadiannya. Lukisannya menjadi paduan emosi dan intuisi karena dimensi penciptaannya dikendalikan oleh sikap, instingtif, dan rasa yang fluktuatif sehingga karyanya menjadi temperamental.

Pada periode terakhir dari perjalanan ekspresinya Affandi tidak lagi memperlihatkan garis-garis emosif yang menggetarkan, ruang semakin kosong dan transparan. Ungkapan ekspresi yang liar telah berganti pada renungan.

Misalnya pada lukisan hampir terbenam, atau potret diri tak tercapai, namun karena tetap mempertahankan keyakinannya untuk terus melukis telah menjadi acuan seni lukisnya yang menegaskan bahwa alam dalam interpretasinya mengandung realitas yang dihadapinya.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://archive.ivaa-online.org/img/artworks http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/affandi-1/page:12 https://media.neliti.com/media/publications/77329-ID-bagaimana-cara-mengamati-lukisan-karya-a.pdf
Comments
Loading...