Lukisan “Menjadi Arang” Karya Gatot Pujiarto

Menjadi Arang - Gatot Pujiarto
0 5.512

Lukisan “Menjadi Arang” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Gatot Pujiarto.

Menjadi Arang – Gatot Pujiarto
  • Pelukis : Gatot Pujiarto
  • Judul : “Menjadi Arang”
  • Tahun : 2017
  • Media : Mixed Media
  • Ukuran : 150 cm x 200 cm

Deskripsi Lukisan “Menjadi Arang”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya abstrak, realisme. Dengan teknik melukis menggunakan media campuran.

Latar Belakang

Bagi seorang Gatot Pujiarto, seniman lukis asal kota Malang – Jawa Timur, menciptakan sebuah lukisan tidak hanya menggunakan kanvas dan cat tetapi juga dapat memanfaatkan potongan kain, benang serta potongan sisa lainnya. Karya Gatot sering di kenal sebagai ‘’Lukisan Permadani”.

Teknik dan Karakteristik Karya

karya Gatot Pujiarto cenderung kearah pemakaian warna objek dan background gelap atau suram dan terkesan ekspresif, sehingga dapat melahirkan berbagai pemaknaan. Membaca karya-karya Gatot Pujiarto, ibarat memasuki lebatnya hutan yang dilebati dengan segala jenis pepohonan. Kita tak hanya dihadapkan pada satu perkara, melainkan banyak perkara dalam konteks kekaryaan Gatot Pujiarto yang terangkum dalam setiap karyanya. Gatot  tak hanya menghadirkan persoalan sajian visual semata, namun juga keberagaman medium serta tema-tema karya.

Karya-karyanya banyak terinspirasi dari berbagai peristiwa-peristiwa tidak biasa bahkan berasal dari kejadian-kejadian yang tidak terduga. Karya lukisnya juga diciptakan dari pengalaman-pengalaman pribadinya yang dikumpulkan.

Visualisasi Karya

Sajian visual yang cenderung ekspresif  menjadi kekuatan yang tersendiri. Gatot Pujiarto adalah salah satu perupa yang tersendiri, sebab ia secara khusus keluar dari kecenderungan melukis corak realistik, dimana corak realistik ini cenderung marak di Jawa Timur. Meski ia pada awal-awal prosesnya juga sempat belajar dengan tekun hal ikhwal corak realistik, namun hal ini tak membuatnya tertarik dan berhenti disitu. Sesekali, teknis pencahayaan serta cara membuat volume  pada obyek-obyek yang diangkatnya ke kanvas muncul di sana, kendati coretan-coretan kuas, tempelan warna kertas serta jalinan perca sekilas menenggelamkan adanya kecenderungan tersebut.

Kegemarannya membaca karya-karya seniman ekpresif seperti Van Gogh, Otto Dix, serta Chaim Soutine juga telah membawanya pada pelbagai kemungkinan visual yang secara menerus ia ekplorasi. Kemungkinan visual yang begitu jamak ini hanya bisa kita lihat, jika kita melihat karya-karya Gatot  dari awal. Eksplorasi dari teknis coretan dengan kuas, palet, tube serta pelbagai kecenderungan pilihan warna cukup kaya. Warna-warna biru, hitam, merah tua yang mengarah pada warna gelap hadir pada karya-karya awalnya, kemudian pada berikutnya juga mulai banyak memasukkan warna-warna putih.

Pergeseran corak yang juga mencolok adalah, Gatot membiarkan bagian-bagian latar dengan warna flat dan kosong. Ia seperti ingin memberikan ruang dan tak lagi menjejalkan sapuan-sapuannya hingga kanvas tidak meninggalkan ruangan kosong sama sekali. Menjejalkan pelbagai sapuan serta aksen pada kanvasnya memanglah berhasil, terutama untuk tema-tema yang menyajikan cerita-cerita horor kehidupan.

Cerita-cerita horor kehidupan yang meneror cukup mengena pada saat dihadirkan dengan muatan citra yang berjejal di dalam kanvasnya. Teror visual yang muncul dari pengolahan teknis, serta penguasaan bidang, sama kuatnya dengan teror yang muncul dari cerita-cerita horor kehidupan. Terlebih karya-karyanya memang naratif, namun tema yang naratif itu tidak lantas hadir seperti pamflet yang vulgar. Meski naratif, kekuatan metaforisnya perlu diperhitungkan sebab kekuatan itulah yang menuntun untuk sampai pada cerita-cerita yang ia kisahkan.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source https://indoartnow.com/ https://indoartnow.com/artists/gatot-pudjiarto https://syarifshadow.blogspot.com/2012/10/catatan-pameran-seni-rup-gatot-pujiarto.html
Comments
Loading...