Lukisan “Offering (018)” (I Nyoman Gunarsa)

Offering (018) - I Nyoman Gunarsa
0 2.212

Lukisan “Offering (018)” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, I Nyoman Gunarsa.

Offering (018) – I Nyoman Gunarsa
  • Pelukis : I Nyoman Gunarsa
  • Judul : “Offering (018)”
  • Tahun : 2005
  • Media : Watercolor on Paper
  • Ukuran : 76 cm x 56.5 cm

Deskripsi Lukisan “Offering (018)”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya ekspresionisme. Dengan teknik melukis menggunakan cat air di atas kertas.

Lukisan ini menggambarkan dua wanita sedang membawa persembahan di atas kepala mereka dengan latar dua ekor babi dan pura.

Karakteristik Karya

I Nyoman Gunarsa melahirkan gaya yang mampu menjadi penanda perkembangan seni rupa modern Bali, sekaligus di Yogyakarta. Gunarsa secara total menawarkan keterampilan teknik melukis ekspresif dekoratif dalam lukisan-lukisannya. Perubahan ini terjadi hanya pada tataran visual, sedangkan tema-temanya tetap, yakni kebudayaan Bali.

Karya lukisan Gunarsa didasari oleh cerita rakyat Bali, dan legenda Hindu Dharma. Hal tersebut yang membuat gaya melukisnya berbeda dari yang lain. Karya-karyanya berdasarkan eksplorasinya dari kesenian Bali, seperti tarian tradisional, musik tradisional, upacara keagaman, dan keanekaragaman lingkungan yang mempengaruhi banyak seniman yang berasal dari Bali dan Indonesia.

Nilai keunikan atau keindahan dalam karya Gunarsa mungkin sulit ditemukan keberadaan titiknya, melainkan didominasi oleh unsur kebebasan dan keberanian dalam melukis. Keberanian dalam melukis adalah salah satu pemberontakan yang kreatif. Ketika keberanian muncul, maka akan timbul sebuah keunikan dengan sendirinya.

Makna Objek Tarian dalam Lukisan Nyoman Gunarsa

Banyak lukisan Nyoman Gunarsa yang mengeksplorasi keindahan lekuk tarian tradisi yang dinamis, rancak, dan berirama. Gerak tari itu sangat pelik, tetapi menarik.

Bagi Gunarsa, menuangkan bentuk tarian seperti, gerak lentik jemari, hentakan kaki, lirikan mata, dan bunyi alat musik melalui sapuan cat ke dalam kanvas merupakan sebuah tantangan. Pameran tunggalnya yang bertajuk “Opera Khayangan” yang diadakan di Semarang, merupakan bentuk pengendapan jiwanya dalam menggarap perpaduan gerak tari dan alat musik modern. Seluruh karyanya tidak hanya mengeksplorasi tarian tradisi dan kegiatan sang penari. Ia juga memasukkan unsur alat musik modern ke dalam lukisan, seperti biola, flute, dan simbol sebagai pendukung.

Menurut Gunarsa, hal yang modern sifatnya hanya untuk memperkaya khazanah budaya lokal bukan untuk menggeser identitasnya. Nyoman mempertegas keindahan gerak tari dalam karyanya dengan torehan warna-warna cerah. Kelihaiannya dalam menampilkan sisi detail juga terlihat dari mimik penari serta pernak-pernik yang dibawakan dalam tarian.

I Nyoman Gunarsa seolah ingin mengambil ruh tarian dan memanifestasikannya ke dalam karya dua dimensi tanpa berusaha mengaburkan esensi budayanya. Seniman jebolan ISI Yogyakarta tahun 1976 ini mengakui, dua tahun terakhir sebelum “Opera Khayangan” merupakan fase pascamoksa, sebagai bentuk kebebasan berekspresi. Nyoman pernah melewati periode akademis, yang dilaluinya dengan mendalami teori-teori melukis dan sejarah seni rupa. Kemudian, periode Arringgit, yang dihabiskannya untuk melukis gerakan-gerakan tari nan dinamis. Dan, periode moksa, yang merupakan fase permenungan bagi Nyoman. Pada periode pascamoksa inilah, Nyoman mengalirkan ekspresi tanpa coba dibatasi. Tak ayal, seluruh karya yang dipamerkannya hanya selesai dalam waktu sekitar satu tahun. “Saya kerjakan ketika saya sedang mood,” ucap Nyoman Gunarsa sambil tersenyum lebar. Sejak tahun 1952, salah satu maestro seni rupa Indonesia ini telah mengenal dan belajar dari pelukis Eropa seperti Rudolf Bonnet, Le Mayeur, dan Don Antonio Blanco, yang sempat tinggal dan menetap di Bali. Hal ini untuk memperkaya penguasaan seninya. (Sumber: https://properti.kompas.com)

Garis Lukisan Gunarsa

Gunarsa memaksimalkan kemampuan dan kekuatan menggarisnya. Oleh karena itu jika dinikmati olah garis karyanya akan terasa bahwa garis Gunarsa memang memberi karakter khas. Tidak salah bila ia sering berkata, “Garis saya adalah nyanyian, warna saya adalah tarian”.

Garis-garis lukisan  Gunarsa memunculkan dinamika tersendiri dibandingkan dengan garis Affandi. Garis-garis tebal dan patah-patah Gunarsa yang mirip dengan Fadjar Sidik pun, ketika membuat sketsa bertema Bali, menjadi lebih simpel dan memiliki nuansa dan “gerakan” yang aktif. Ahli seni rupa Indonesia, almarhum Prof. Soedarso Sp, pernah menulis bahwa goresan-goresan Gunarsa yang lancar dan kena memberikan penjelasan kepada kita bahwa bukannya tidak beralasan kehadirannya sebagai salah seorang penganut Affandi yang baik. (Sumber: http://biennalejogja.org)

Meninggalnya Sang Maestro

Keluarga Besar permuseuman kembali berduka atas berpulangnya Sang Maestro Nyoman Gunarsa pada Minggu, 10 September 2017 lalu. Selama hidupnya, selain sebagai seniman lukis penuh talenta, Beliau dikenal intens merawat, melestarikan dan mengembangkan seni budaya, baik di Bali maupun Nusantara.

Nyoman Gunarsa dikenal sebagai seniman lukis bertangan emas. Goresan kuasnya di atas kanvas bagaikan menari mengikuti gerak figur yang diciptakannya. Pada tahun 1970 dia mendirikan Sanggar Dewata Indonesia, sebuah komunitas seni yang masih bertahan hingga kini. Kiprahnya sebagai seniman telah mengantarkannya berpameran ke berbagai negara, seperti Malaysia, Australia, Belanda, Jepang, Singapura, Perancis, Amerika Serikat dan sebagainya. Dia meraih Penghargaan Seni Pratisara Affandi Adi Karya pada tahun 1976, Penghargaan dalam Biennale III Jakarta (1978), Biennale IV Jakarta (1980), dan Lempad Prize tahun 1980. Pada tahun 1994, Nyoman Gunarsa menerima Anugerah Budaya Dharma Kusuma dari Pemerintah Provinsi Bali dan Satyalancana Kebudayaan dari Presiden Indonesia tahun 2003.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://gallery.komaneka.com/ http://gallery.komaneka.com/artis.php?ArtistID=25 http://asosiasimuseumindonesia.org/artikel/12-kabar-museum/639-obituari-nyoman-gunarsa.html
Comments
Loading...