Lukisan “Kecak Dance” (Otto Djaya)

Kecak Dance - Otto Djaya
0 9.924

Lukisan “Kecak Dance” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Otto Djaya.

Kecak Dance – Otto Djaya
  • Pelukis : Otto Djaya
  • Judul : “Kecak Dance”
  • Tahun : 1979
  • Media : Oil on Canvas
  • Ukuran : 80 cm x 100 cm

Deskripsi Lukisan “Kecak Dance”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya naratif, humor dan saekastik. Dengan teknik melukis menggunakan cat minyak di atas kanvas. Dalam lukisan ini, pelukis menggambarkan tarian kecak dari Bali.

Kecak (pelafalan: /‘ke.tʃak/, secara kasar “KEH-chahk”, pengejaan alternatif: KetjakKetjack), adalah pertunjukan tarian seni khas Bali yang lebih utama menceritakan mengenai Ramayana dan dimainkan terutama oleh laki-laki. Tarian ini dipertunjukkan oleh banyak (puluhan atau lebih) penari laki-laki yang duduk berbaris melingkar dan dengan irama tertentu menyerukan “cak” dan mengangkat kedua lengan, menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu Ramamelawan Rahwana.

Karakteristik Karya

Bukan sesuatu yang mengherankan jika lukisan Otto sangat beragam dalam hal tema. Otto juga banyak menampilkan lukisan bernuansa religi, seni tradisi, mitos, dan sindiran politik. Lukisan-lukisan bernuansa religi terlihat dalam karya-karyanya yang menghadirkan sosok Dewi Kwan Im. Yang beraroma mitos, sangat jelas terlihat di karyanya yang melukiskan Ratu Pantai Selatan. Seni tradisi pun tak kalah kaya. Otto menghadirkan beragam bentuk seni, mulai dari kuda lumping, tari kecak, pencak silat, penari kipas, reog ponorogo, dan penari jaipong ke dalam kanvas.

Humor dan Sarkastik

Lukisan-lukisan Otto terlihat unik, karena ia mengekspresikannya dengan gaya melukisnya yang khas, yakni naif dan berwarna-warni. Warna-warna yang digunakan Otto terbilang sangat progresif untuk pelukis yang hidup di masanya. Selain itu, ia melukis karyanya dengan cara yang sarkastis dan penuh humor.

Lukisan-lukisan Otto banyak menampilkan nilai kenangan dan konteks persoalan sosial-budaya yang bersifat lokal dan keseharian, seperti penggambaran akan pasar, warung, para pedagang asongan, perayaan perkawinan, pertunjukan kesenian tradisi, perjalanan dengan kendaraan bermotor, sepeda, kereta kuda dan lainnya.

Yang menarik untuk diamati adalah, ada pula lukisan Otto yang menelanjangi( mengolok-olok dengan sinis) situasi politik dan sosial negeri ini dalam lukisannya.

Seperti lukisan Otto berjudul “Dialog di dalam Kamar” yang dibuat pada 1998. Dalam lukisan tersebut, Otto menggambar seorang pria berjas dan berdasi, dengan peci di kepalanya, sedang berduaan bersama perempuan seksi yang memakai dalaman merah muda dan berkain merah di atas tempat tidur. Perempuan tersebut tidur dengan posisi miring, sedangkan si pria duduk manis sembari memelototi wajah perempuan. Menurut Fandy Hutari (Penulis dan peneliti sejarah. Berminat pada kajian sejarah hiburan, terutama film dan teater masa kolonial), ini semacam sindiran Otto terhadap sikap pejabat atau pengusaha kita yang suka “mojok”.

Ada pula lukisan Otto berjudul “Bos dan Sekretaris” yang ia buat pada tahun yang sama. Dalam lukisan tersebut, Otto melukis seorang pria berdasi yang duduk di atas kursi mengisap cerutu, sembari memangku seorang perempuan seksi. Di sebelahnya, ada dua perempuan lain. Apakah ini sindiran untuk para bos perusahaan? Hanya Otto yang tahu persis.

Gejolak politik masa reformasi juga tak lepas dari tangan sang maestro. Dalam lukisannya berjudul “Perang terhadap Korupsi” yang dibuat pada 1999, Otto menggambarkan rakyat yang membawa senjata tajam, mengejar orang-orang berwajah tikus. Di dalam rombongan rakyat itu, ada Petruk di barisan paling depan.

Tokoh Pewayangan Dalam Karya Otto Djaya

Dengan selera humornya, ia juga kerap menyisipkan tokoh dunia pewayangan atau punakawan, seperti Petruk dan Gareng. Unsur komedi ini dapat dikatakan semacam sindiran yang ingin ia sampaikan terhadap kondisi sosial saat itu.

Tokoh pewayangan lain yang dihadirkan Otto adalah Arjuna. Misalnya saja lukisan berjudul “Arjuna dan Tujuh Bidadari”, “Arjuna Tapa”, dan “Arjuna Bertapa”. Soekarno yang lantang berpidato disaksikan rakyat juga tak lepas dari tangan dingin Otto. Pada awal terbentuknya negara ini, disebutkan dalam buku Inge, Otto memang rajin mengikuti Bung Karno yang berpidato keliling Indonesia. Salah satu karyanya berjudul “Pidato Presiden Soekarno” yang ia buat pada 1963.

Lukisan “Bersepeda Motor”

Tokoh Petruk dan Gareng dibuat sangat mirip dengan kehidupan orang-orang dalam keseharian. Semisal, dalam lukisan berjudul “Bersepeda Motor” yang dibuat pada tahun 2000.

Lukisan yang digoreskan mantan tentara pada masa revolusi itu bercerita tentang Petruk yang sedang mengendarai motor memboncengi perempuan seksi. Di belakang Petruk, ada Gareng yang juga bersepeda motor memboncengi seorang pria. Di sekitar mereka, ada orang-orang yang juga bersepeda motor.

Lukisan “Lomba Tarik Tambang”

Ada pula lukisan berjudul “Lomba Tarik Tambang” yang dibuat pada tahun 1997. Dalam lukisan ini, Otto menampilkan Petruk, Gareng, dan seorang dewi─mungkin Shinta, sedang beradu tarik tambang dengan para raksasa─tiga tokoh jahat dalam pewayangan. Sedangkan Bagong menjadi jurinya. Ada pula Gatot Kaca dan beberapa tokoh wayang yang menyaksikannya.

Lukisan “Petruk Jadi Raja”

Lukisan yang menghadirkan tokoh Punakawan, yang banyak menyita perhatian adalah “Petruk Jadi Raja”. Lukisan berukuran besar ini menampilkan Petruk di atas singgasana emas, diangkat empat orang dan diiringi rakyat. Terlihat pula Gareng dalam iring-iringan itu.

Dalam cerita pewayangan, lakon Petruk Jadi Raja adalah sebuah sindiran: Jika sesuatu diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya. Petruk tak memiliki watak sebagai pemimpin yang baik. Jika ia memimpin, maka akan terjadi kekacauan dan kehancuran. Selain itu, ada pula lukisan Petruk dan Gareng yang menolong korban banjir, bermain kuda lumping, meminum jamu, dan sebagainya.

Karakter Petruk dan Gareng

Lantas, kenapa Petruk dan Gareng? Otto dikenal sebagai pelukis yang menarik budaya Jawa ke dalam lukisannya. Dalam buku The World of Otto Djaya (1916-2002) yang ditulis Inge-Marie Hoist disebutkan, dalam imajinasi Otto Punakawan adalah dewa-dewa yang turun dari kayangan. Punakawan, dalam pertunjukan wayang, kerap muncul sebagai tokoh yang ceplas-ceplos. Mereka sering kali menertawakan dan membuat guyonan yang menyingkap bebalnya lingkungan aristokrat.

Catatan Kuratorial

Menurut Inge, Otto tak menampilkan Semar karena ia memproyeksikan dirinya sendiri sebagai figur bapak, yakni Semar sendiri. Ada pula informasi yang mengatakan, Otto menginisiasikan dirinya sebagai Petruk dalam lukisannya.

Pelukis yang pada 1947 hingga 1950 tinggal di Belanda itu, mengisahkan Petruk dan Gareng sesuai karakternya. Gareng adalah tokoh Punakawan yang memiliki kecerdasan. Ia rasional dan tak emosional. Sedangkan Petruk merupakan orang yang sembrono, dan jarang menggunakan nalarnya. Keduanya dilukiskan Otto sesuai karakternya. Punakawan ini muncul dalam lukisan Otto pada 1960-an.

Menurut Inge, Otto merupakan seniman nonkonformis. Ia tak pernah mengikuti arus tren seni manapun dan memiliki gaya estetika dan reflektifnya sendiri. Banyak yang bilang, Otto bukan hanya pelukis, tapi ia juga seorang pendongeng.

Inspirasinya dalam melukis didapat dari membaca koran, menonton televisi, dan kehidupan yang dilihat serta dialaminya sehari-hari. Maya dan Asoka, dua anak Otto, mengatakan ayah mereka pasti ikut pergi ke pasar setiap kali ada kesempatan. Mereka juga mengatakan, saat inspirasi tak datang, Otto akan menggalinya dari apa saja yang terkenang di memorinya.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source https://www.mutualart.com https://www.mutualart.com/Artist/Otto-Djaya/842805E88EC524FB/Artworks https://www.minumkopi.com/merayakan-seabad-otto-djaya/
Comments
Loading...