Lukisan “Panggung Salimah” Karya Ipeh Nur

Panggung Salimah - Ipeh Nur
0 139

Lukisan “Panggung Salimah” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Ipeh Nur.

Panggung Salimah – Ipeh Nur
  • Pelukis : Ipeh Nur
  • Judul : “Panggung Salimah”
  • Tahun : 2016
  • Media : Pen on Paper
  • Ukuran : 35 mm x 50 mm

Deskripsi Lukisan “Panggung Salimah”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya pop art, kontemporer. Dengan teknik melukis menggunakan media pulpen di atas kertas. Karya-karya Ipeh biasanya berhubungan dengan pengalaman pribadi, seperti kecemasan, ketakutan, sinisme, skeptisisme, tentang pengalaman hidupnya sendiri atau hanya menanggapi masalah yang terjadi di sekitarnya.

Karakteristik Karya

Ipeh atau Nur Hanifah merupakan seniman muda yang berkarya dan tinggal di Yogyakarta. Ia lulus dari Jurusan Seni Murni, dengan minat utama Seni Grafis, ISI Yogyakarta di tahun 2016. Dalam kekaryaannya, Ipeh banyak mengeksplorasi kehidupan pribadinya, kolonialisme, dan sejarah – misalnya saja karya seri terakhirnya yang banyak diinspirasi oleh Pulau Banda dan seri lain yang berjudul Salimah.

Sebagian besar karya Ipeh adalah ilustrasi hitam dan putih di atas kertas dan beberapa karyanya menggunakan teknik sablon, etsa, mural, dan juga membuat patung dari recin.

Ipeh membuat gambar/pola sendiri seperti motif stilisasi pohon pala, figur Jp coen, budak, perahu yang membawa budak dari Jawa, tangan yang dirantai putus (anti perbudakan), kapal Belanda yang khas dengan layar-layarnya. Batik di-display seperti beber yang biasanya bergambar wayang dengan kisah pertarungan. Beber adalah kain yang dibentangkan dengan dua tongkat. Selain itu beber juga bisa diartikan mengurai, membeberkan.

Borderless

Ipeh menggambarkan negosiasi antara adat Jawa dengan narasi agama Islam di atas kulit kambing. Perkawinan dua entitas ini melahirkan guratan warna yang saling melengkapi, namun di sisi lain–layaknya akulturasi–juga menghilangkan esensi dari masing-masing pandangan.

Ipeh Nur melihat bahwa modifikasi busana pengantin Jawa Muslim terbentuk karena jilbab tetap ingin digunakan sebagai bentuk kepatuhan terhadap agama sekaligus manjaga kepatuhan terhadap adat istiadat. Seperti pada Paes Solo Putri, pada awalnya kebaya memang dibuat dengan bagian dada yang terbuka. Saat terjadi akulturasi dengan budaya muslim, kebaya ditambah penggunaan manset atau kebaya dengan kerah leher panjang dan bunga di samping telinga agar tetap menutupi aurat.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://archive.ivaa-online.org/ http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/ipeh-nur https://gudeg.net/pameran/6043/pameran-salimah-by-ipeh-nur.html
Comments
Loading...