Lukisan “Pedagang Mangga” (Hendra Gunawan)

Pedagang Mangga - Hendra Gunawan
0 5.500

Lukisan “Pedagang Mangga merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Hendra Gunawan.

Pedagang Mangga – Hendra Gunawan
  • Pelukis : Hendra Gunawan
  • Judul : “Pedagang Mangga”
  • Tahun : 1974
  • Media : Oil on Canvas
  • Ukuran : 106 cm x 147 cm

Deskripsi Lukisan “Pedagang Mangga”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya realisme, ekspresionisme. Dengan teknik melukis menggunakan cat minyak di atas kanvas.

Karakteristik Karya

Hendra Gunawan adalah seorang seniman Indonesia yang berusaha mencari identitas Indonesia melalui unsur rupa tradisional, hanya untuk kemudian menemukan identitas dirinya. Dengan talenta sebagai seorang pelukis senior dan memiliki karakter karya lukisan yang khas, menjadikan namanya masuk dalam daftar Pelukis Maestro Legendaris ternama Indonesia.

Karakter lukisan Hendra sangat berani dengan ekspresi goresan cat tebal, dan ekspresi warna kontras apa adanya, sehingga karya lukisanya banyak dikoleksi oleh para kolektor baik di dalam maupun di luar negeri.

Perjalanan aliran lukisan karya Hendra Gunawan pada awalnya adalah realisme yang melukiskan tema-tema tentang perjuangan sebelum kemerdekaan, namun setelah era kemerdekaan, karya-karya lukisannya bermetamorfosa kedalam aliran lukisan ekspresionisme, tema-tema lukisanya tentang sisi-sisi kehidupan masyarakat pedesaan.

Baginya antara melukis dan berjuang sama pentingnya. Pengalamannya di front perjuangan banyak memberi inspirasi baginya. Dari sinilah lahir karya-karya lukisan Hendra yang revolusioner.

Penggayaan dalam Lukisan Hendra Gunawan

Untuk merumuskan suatu gaya yang baku dari lukisan Hendra Gunawan, seorang pengamat akan mengalami kesulitan. Hal ini lantaran perubahan dan perkembangan visual karyanya dari masa ke masa. Perpindahan geografis yang terjadi selama masa hidupnya telah mempertemukan Hendra dengan berbagai kondisi dan budaya masyarakat yang beragam.

Jika kita melihat sekilas karya-karya lukisan Hendra Gunawan secara kronologis, tampak dua kecenderungan besar dalam penggambaran, yaitu: penggambaran di masa revolusi atau perjuangan (1940-an hingga 1950-an), dan penggambaran karya setelah masa perang (dan saat berada dalam tahanan) yang lebih berwarna.

Tema Revolusi

Tema revolusi dan perjuangan mendominasi karya-karya seniman di masa itu karena situasi dan kondisi perang yang tidak mungkin untuk diabaikan. Hendra pada saat itu pun terlibat langsung dengan peperangan saat tergabung dalam pelukis front (1945).

Penggambaran di masa perang cenderung untuk menggunakan warna-warna tanah (coklat, hitam, merah, abu, oranye) sehingga menghasilkan suasana yang kelam dan berat seperti pada karya Laskar (1947), Jual Beli (1948), Belajar Melukis (1948), dan Potret Seorang Prajurit (1950).

Hal ini berbeda dengan masa setelah tahun 1960-an, saat ia berada di dalam penjara Kebon Waru dan setelah keluar. Hendra mulai meningkatkan intensitas warna untuk menghasilkan suasana yang lebih cerah seperti yang terlihat di lukisan Pulang Mancing (1960), Mencuci (1960), dan Wanita (1970).

Komposisi dan Perspektif dalam Lukisan

Seperti halnya warna, persoalan komposisi dan perspektif dalam lukisan Hendra Gunawan pun sangat bernuansa ketimuran. Layaknya komposisi lukisan tradisional Cina ataupun relief candi, banyak lukisan Hendra Gunawan yang tidak memiliki perspektif tunggal layaknya sudut pandang lukisan naturalis barat.

Penggambaran seperti ini dapat diamati pada lukisan Pohon Beringin (1964), Antri Mandi (1970), dan Bunga Muara (1979). Penggambaran latar belakang dan sapuan kuas banyak kemiripan dengan lukisan tradisional Cina seperti pada Antri Mandi (1970), Dua Wanita sedang Makan (1971), dan Panen Padi I (1974).

Cara pandang naturalis-perspektif merupakan cara melihat layaknya mata atau kamera dimana waktu seakan-akan berhenti. Cara pandang ini berkembang dalam seni rupa barat sejak abad 15 di Italia. Mengingat bahwa lukisan Hendra Gunawan merupakan sebuah karya seni rupa modern, maka sudut pandang penggambaran yang ketimuran dan tradisional menjadikannya karya yang istimewa.

Karakter Wayang

Karya-karya Hendra yang dibuat sejak tahun 1970-an menggambarkan figur secara lebih terdistorsi (lukisan objek dengan teknik melebih-lebihkan dan menonjolkan bagian bentuk benda yang ingin di fokuskan) layaknya penggambaran wayang.

Bentuk-bentuk wayang purwa, baik wayang kulit maupun wayang golek adalah perwujudan bentuk sosok manusia yang telah digayakan (stilasi).

Akibat penggayaan tersebut, penggambaran pada wayang berbeda dengan penggambaran manusia sebenarnya, karena banyak proposi tubuh yang terdistorsi.

Jika diperhatikan dengan seksama, penggambaran sejumlah figur dalam lukisan Hendra Gunawan memiliki gestur yang tidak wajar.

Sikap kepala mendongak memberi kesan adanya tarikan ke depan. Leher digambarkan memanjang layaknya tampilan dari samping (tidak terhalang dagu), bagian bahu dan dada digambarkan layaknya tampilan dari depan, dan hampir semua penggambaran kaki ditampilkan layaknya tampilan atas.

Penggambaran “aneka tampak” seperti ini adalah ciri dari penggambaran wayang.

Teknik Ngiseni

Teknik ngiseni banyak kita jumpai di karya-karya Hendra setelah masa revolusi dan peperangan. Ngiseni (isen = isi; ngiseni = mengisi), maksudnya mengisi bidang kosong, baik bidang yang terbentuk oleh ragam hias pokok, maupun bidang kosong antar ragam hias.

Teknik ini tidak hanya kita jumpai di gambar pakaian atau kain (batik), tapi juga banyak terdapat di dalam penggambaran betis, kaki, tangan, dahan pohon, dan ikan dalam objek lukisan.

Hendra memiliki kecenderungan untuk mengisi kekosongan pada betis dan kaki dari figur yang ia gambarkan dengan pola meliuk-liuk atau pun titik-titik. Jika dikombinasikan dengan warna yang kuat, pola tersebut menghasilkan karakter gambar yang sangat ekspresif, seperti pada lukisan Keluarga Nelayan (1975), Kritikus, Suwiryo (1979), dan Urbanite (1980). (Sumber: gerakgeraksenirupa.wordpress.com)

Pelukis Lukisan Ukuran Besar

Hendra dikenal gemar melukis dengan ukuran besar, ia pernah melukis Pangeran Cornel dan Arjuna menyusui anaknya, keduanya berukuran 400 x 200 cm.

Lukisan Pengantin Revolusi, disebut-sebut sebagai karya dengan ukuran kanvas yang besar, tematik yang menarik dan warna yang menggugah semangat juang. Nuansa kerakyatan menjadi fokus dalam pemaparan lukisannya.

Tetap Berkarya dalam Penjara

Keberpihakannya pada rakyat membuatnya harus mendekam di penjara selama 13 tahun antara tahun 1965-1978, karena ia tercatat sebagai salah seorang tokoh Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA).

Ketika dipenjara, ia masih terus melukis dengan warna-warna yang natural dengan menggunakan kanvas berukuran besar. Semua itu diperolehnya dari begitu seringnya ia belajar dari ikan, baik warnanya maupun karakter ikan yang tidak mengenal diam.

Tema Ikan Dalam Lukisan Hendra Gunawan

Ikan baginya merupakan sumber yang tidak ada habisnya. Dari ikanlah ia dapat melihat warna alami yang sesungguhnya. Sebelum ia meninggal, karya lukisnya tentang tenggelamnya kapal Tampomas membuatnya terinspirasi. Hanya saja ia menggambarkan potret diri yang diserbu ikan-ikan.

Ternyata, potret tersebut menjadi wujud terima kasih kepada ikan-ikan yang menjadi sumber inspirasi bagi sang pelukis. Sayangnya lukisan tersebut tidak rampung dan diberi judul “Terima Kasih Kembali Protein“. Karya lukisan ini merupakan lukisan terakhir Hendra Gunawan sebelum tutup usia.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://archive.ivaa-online.org/ http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/hendra-gunawan https://id.m.wikipedia.org/wiki/Hendra_Gunawan_(pelukis)
Comments
Loading...