Lukisan “Penari Kecak Bali” Karya Maria Tjui

Penari Kecak Bali - Maria Tjui
0 1.235

Lukisan “Penari Kecak Bali” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Maria Tjui.

Penari Kecak Bali – Maria Tjui
  • Pelukis : Maria Tjui
  • Judul : “Penari Kecak Bali”
  • Tahun : 1977
  • Media : Oil on Canvas
  • Ukuran : 50 x 60 cm

Deskripsi Lukisan “Penari Kecak Bali”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya  impresionisme, ekspresionisme, dan naturalisme. Dengan teknik melukis menggunakan cat minyak di atas kanvas. Dalam lukisan ini, pelukis menggambarkan figur-figur penari Tari Kecak. 

Tari Kecak adalah jenis tarian Bali yang paling unik karena tidak diiringi oleh alat music atau gamelan, melainkan diriingi dengan paduan suara oleh sekolompok penarilaki-laki yang berjumlah ± 70 orang.Tari kecak berasal dari tarian sacral yang sering disebut tari Sang Hyang yaitu tarian yang dipertunjukan hanya untuk waktu-waktu tertentu pada saat upacara keagamaan. Pada tari ang Sang Hyang, penari yang sedang kemasukan roh akan berkomunikasi dengan Para Dewa atau para leluhur yang telah disucikan, melalui media  para penari tersebut para leluluhur dan para Dewa akan menyampaikan sabdanya. Pada saat kemasukan roh atau kerasukan, para penari sering melakukan tindakan-tindakan yang diluar hal yang biasanya mereka lakukan, seperti melakukan gerakan-gerakan yang sangat berbahaya ataupun mengeluarkan suara-suara yang tidak pernah mereka gunakan sebelumnya. (uluwatukecakdance)

Dalam setiap lukisannya ia bukan hanya sekedar menumpuk-numpukkan cat, tapi ia juga mampu memberikan ruh pada objek lukisannya. Guratan garis, plototan tube cat, dan pulasan kuas dalam kanvasnya selalu sejalan dengan ide, pikiran, dan dinamika gerakan tangan sang perupa.

Karakteristik Karya

Maria Tjui, dikenal sebagai pelukis alam (naturalis) dan mempunyai ciri khas tersendiri pada karya lukisannya, yakni pada keberaniannya akan warna.

Dengan berbagai media pada kanvas, ia memotret setiap objek yang dilihat dan dirasakan. Ia tak membatasi jenis objek yang akan dilukis. Apa pun yang dinilainya menarik, ia akan mengekspresikannya melalui lukisan. Selain itu ia kerap pula memperlihatkan cita rasa “kerakyatan” dalam beberapa karyanya lukisannya. Gaya impresionis dan ekspresionisnya pun terlihat cocok dengan karakter dirinya.

Teknik Melukis Maria Tjui

Maria Tjuipelukis satu ini identik dengan pendahulunya soal gaya impresionis seperti guratan garis, plototan tube cat, dan pulasan kuas. Kemahiran Maria Tjui membuat lukisan dengan langsung meletakkan cat ke atas kanvas, mirip dengan teknik yang digunakan Affandi Koesoema, sang guru yang di kaguminya. Sebagian teknik melukis Maria Tjui memang mirip dengan Affandi, namun sesungguhnya ia mempunyai karakter tersendiri.

Uniknya teknik lukisan Maria ini pernah menyabet gelar tiga kali Best Executive Award Asean (1997, 2001, dan 2006). Gaya melukis dengan menggunakan tube langsung memang harus sejalan dengan ide, pikiran, dan dinamika gerakan tangan si pelukisnya. Sebelumnya Maria Tjui telah menguasai seluk-beluk teknik melukis konvensional dengan memakai objek secara langsung.

Tema Lukisan Maria Tjui

Tema lukisan Maria Tjui kebanyakan tentang bunga matahari, rumah ibadah, rumah adat, pasar, dan masyarakat kecil. Guratan lukisan Maria Tjui memang khas gaya Affandi.

Sama seperti penerus Affandi lainnya yaitu Kartika Affandi, Men Sagan, Toro, JB. Iwan Sulistyo, dan B. Rosar. Pelukis bernama asli Tjui Mauw ini sempat belajar patung di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta tahun 1961-1963. Ia pernah bermukim di Desa Peliatan Ubud, Bali, dan mendirikan Sanggar Purnama.

Lukisan berjudul “Bunga Matahari” dan “Sun Flower”, dibuat dengan tiga warna (kuning, hijau, dan coklat). Seakan terlihat hidup, terlebih karena pulasan dari tube itu. Sama juga seperti lukisan dengan judul “Bunga Wijayakusuma” dan “Bunga Sakura”. Ia bukan hanya sekedar menumpuk-numpukkan cat, tapi ia mampu memberikan ruh pada objek lukisannya. Ada ratusan versi lukisan dengan tema bunga matahari telah ia lukis.

Bukan karena saat pembeli (kolektor) memesan lukisan dengan tema bunga matahari, tetapi murni karena pikiran Maria yang menuntunnya. Inspirasi itu banyak diserapnya dari lingkungan tempat ia bermukim di daerah Cisarua, Bogor.

Baginya bunga matahari bagaikan magnet yang selalu menarik perasaannya (hasrat) untuk dilukiskan. Termasuk tentang kehidupan religius di Bali,  misalnya “Pura di Tanah Lot Bali”, “Upacara Candi”, dan “Odalan Bali” serta “Cap Go Meh”.

Orang-orang yang berlalu lalang di keramaian, tak luput dari sasaran kuasnya dan dilukiskan dengan judul “Pasar Buah”. Pengalamannya yang panjang ketika ia berkeliling Eropa juga banyak melahirkan lukisan tentang “Gereja Katedral” dan “Klenteng”. Para pengguna jasa angkutan tradisional terekam pada “Andong Yogyakarta”.

Angkutan massal menjadi sasaran pulasan cat tube Maria Tjui dalam “Becak-becak” yang mangkal di bawah pohon beringin.

Hibah Lukisan

Lukisan Maria Tjui tak terpengaruh oleh situasi politik, artinya fenomena hiruk-pikuk itu sama sekali tidak ada. Menurutnya, fenomena politik hanya esensi. Sekedar dirasakan dalam jiwanya saja, tak perlu merembet ke dalam lukisan yang tercipta selama bertahun-tahun itu.

Beberapa lukisannya ia hibahkan untuk mengisi ruang museum yang ada di atas tanah seluas 1.200 meter di Nusa Dua Bali. Ini merupakan bukti bahwa Maria Tjui mempunyai kenangan khusus di Pulau Dewata ini, karena lebih dari 25 tahun ia menyatu dalam atmosfir seni budaya Bali. Salah satu mimpinya adalah ada figur wanita yang akan menjadi penerus perjuangan Maria Tjui.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source https://www.mutualart.com https://www.mutualart.com/Artwork/Penari-Kecak-Bali/96B71E936AD180F9 http://harian.analisadaily.com/mobile/seni/news/pulasan-cat-tube/186564/2015/11/08
Comments
Loading...