Lukisan “Pencitraan Asia Heroes II” Karya Galam Zulkifli

Pencitraan Asia Heroes II - Galam Zulkifli
0 4.557

Lukisan “Pencitraan Asia Heroes II” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Galam Zulkifli.

Pencitraan Asia Heroes II – Galam Zulkifli
  • Pelukis : Galam Zulkifli
  • Judul : “Pencitraan Asia Heroes II”
  • Tahun : 2005
  • Media : Mixed Media on Canvas
  • Ukuran : 150 cm x 200 cm

Deskripsi Lukisan “Pencitraan Asia Heroes II”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya pop surealisme. Dengan teknik melukis menggunakan media campuran di atas kanvas. Dalam pewarnaan dan pengambilan objek, Galam mengambil unsur-unsur seni lukis dari Pop-Art. Kebanyakan objek yang ia lukiskan adalah wajah, karena menurutnya setiap orang memiliki wajah dengan karakternya sendiri yang berbeda satu sama lain. Karya lukis Galam sendiri lebih banyak bercerita tentang realita dalam kehidupan yang dipadatkan dalam satu harmoni. Galam menemukan sebuah keasyikan dalam mengapresiasikan sebuah kritik sosial. Karya Galam tidak menyajikan solusi atas sesuatu, tapi menggambarkan sesuatu lalu memberikan semacam kesadaran tentang realitas, kepada orang-orang yang menikmati lukisan. Dalam lukisan ini pelukis menggambarkan tokoh Benyamin S. Benyamin Sueb (lahir di Batavia5 Maret 1939 – meninggal di Jakarta5 September 1995 pada umur 56 tahun) adalah pemeranpelawaksutradara dan penyanyi Indonesia. Benyamin menghasilkan lebih dari 75 album musik dan 53 judul film.

Perjalanan Karier

Galam Zulkifli lahir pada 14 Januari 1971 di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Galam sempat menjalani pendidikan seni di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Yogyakarta pada tahun 1989, namun tidak sampai selesai. Ilmu seninya kemudian lebih banyak diperoleh secara otodidak. Karyanya pernah terpilih sebagai salah satu dari 5 karya terbaik dalam kompetisi Indonesian Art Awrads, 1998. Yang terbaru, lukisannya yang berjudul “Teater Pembebasan” (2003) terpilih menjadi salah satu karya yang mewakili Indonesia dalam ajang ASEAN Art Awards 2004.

Karakteristik Karya

Semua karya lukis yang dihasilkan Galam dianggap memiliki nilai sama, tidak ada yang paling masterpiece ataupun paling buruk.

Galam Zulkifli lebih banyak menggambar wajah. Tantangannya lebih banyak dalam aspek teknis. Orang kembar sekalipun, pasti memiliki perbedaan pada wajahnya walau tidak begitu dominan. Bagi Galam Zulkifli wajah juga menjadi tanda atau pintu masuk untuk melihat pribadi seseorang.

Tema Lukisan

Dalam berkarya, Galam memiliki proses dan konsep sendiri. Karyanya terdiri atas tiga tema utama: kelahiran, perkawinan, dan kematian.  Kemudian dari ketiga tema tersebut, dikembangkan dalam 33 seri, dan tiap seri terdiri dari 33 karya. Beberapa seri tersebut antara lain adalah seri mesin, seri ilusi, seri magic, seri pencitraan, dan seri iluminasi. Berbagai seri tersebut kebanyakan menggunakan wajah sebagai objek utama. Eksplorasi yang dilakukan Galam lebih terfokus pada sisi teknis pengerjaan. Menurut Rain Rosidi, kurator “Mempertimbangkan Perjanjian“, karya yang dihasilkan Galam seolah-olah merupakan gambaran dari memori Galam terhadap sesuatu. Dalam pameran tersebut, Galam menunjukan karyanya dalam “seri tanda-tanda”, dalam hal ini merupakan reintrepetasi terhadap teks dalam Kitab Perjanjian Lama. Galam kemudian dianggap mengangkat teks tersebut dalam konteks masa sekarang. Dengan begitu, Galam dapat menyampaikan pesan yang ada melalui tanda-tanda, yang tidak hanya dipahami dalam konteks ruang dan waktu.

Teknik Pop Art

Menurut Galam Zulkifli, saat ini orang menggemari lagi karya lukis Pop-Art karena punya kesan minimalis, dinamis, dan sportif. Menariknya, Pop-Art merupakan refleksi atas realitas. Dahulu orang yang ikonik atau bisa menjadi tokoh adalah kalangan bangsawan dan aristokrat (bentuk pemerintahan di mana kekuasaan berada di tangan kelompok kecil, yang mendapat keistimewaan, atau kelas yang berkuasa). Zaman bergeser dan orang biasa dalam Pop-Art bisa menjadi tokoh. Misalnya dalam bidang musik, desain, dan arsitektur. Dalam Pop-art orang-orang biasa itu tiba-tiba bisa menjadi populer dan banyak pengikutnya. Teknik dalam Pop-Art bicara hal-hal yang keren dan instan. Juga digunakan untuk menghasilkan karya dalam jumlah yang banyak. Galam Zulkifli merasa gaya atau aliran dalam lukisannya tidak menggunakan konsep Pop-Art. Tapi, mengambil unsur-unsur dari Pop-Art, misalnya pewarnaan dan tokoh-tokoh yang populer.

Galam Zulkifli mencari konteks atau relevansinya dengan kondisi yang ada saat ini ketika melukis. Galam Zulkifli tertarik pada yang muncul dalam media sosial atau sesuatu yang viral. 

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://archive.ivaa-online.org/ http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/galam-zulkifli-1/page:2 http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/galam-zulkifli-1
Comments
Loading...