Lukisan “Portrait of A Lady” Karya Jeihan Sukmantoro

Portrait of A Lady - Jeihan Sukmantoro
0 5.875

Lukisan “Portrait of A Lady” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Jeihan Sukmantoro.

Portrait of A Lady – Jeihan Sukmantoro
  • Pelukis : Jeihan Sukmantoro
  • Judul : “Portrait of A Lady”
  • Tahun : 1982
  • Media : Oil on Canvas
  • Ukuran : 112 cm x 75 cm

Deskripsi Lukisan “Portrait of A Lady”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya ekspresionisme, figuratif. Dengan teknik melukis menggunakan cat minyak di atas kanvas.

Dalam lukisan ini, pelukis menampilkan seorang wanita yang digambarkan dengan ciri khas mata hitam sedang duduk termenung seperti sedang menunggu sesuatu dan posisi tangan menyilang di pangkuannya. Ia mengenakan pakaian putih  dengan bagian latar belakang polos. Sehingga tidak memberi ruang untuk membentuk suatu cerita atau narasi. Keseluruhan objek lukisan menunjukan adanya posisi yang merupakan potret saja. Warna menjadi lebih sederhana, hanya memakai 2 warna primer saja.

Karakteristik Karya

Jeihan adalah salah seorang eksponen terkuat seni lukis Indonesia. Karya-karyanya yang ekspresif telah berhasil memadukan alam mistik Timur dan alam pikir analitik Barat.

Baginya, meditasi merupakan bagian penting dalam melukis. Lukisan sosok manusia selalu ditampilkannya dengan mata gelap penuh misteri dan lepas dari dimensi ruang dan waktu. Soal anatomi sering tidak begitu penting baginya dalam mengejar esensi. Karyanya amat digemari para kritikus dan kolektor. Ia bahkan punya agen di Amerika, Australia dan Eropa.

Berlatar belakang pendidikan ITB, telah memotivasi Jeihan pada sikap pribadi yang amat konsisten dan disiplin dalam mendedikasikan hidupnya pada bidang seni khususnya seni lukisan. Terbukti dengan karya-karya lukisan bernilai seni tinggi yang memiliki makna filosofis dalam, yang tergali dari setiap imajinasinya.

Model Wanita Dalam Lukisan Jeihan Sukmantoro

Jeihan Sukmantoro merupakan salah satu maestro lukis Indonesia yang telah malang melintang membubuhkan goresannya di dunia seni lukis. Bila melihat lukisan-lukisannya, Jeihan Sukmantoro tampaknya sangat tertarik untuk melukis wanita yang kerap mendominasi lukisannya.

Perihal ketertarikannya untuk melukis wanita, Jeihan Sukmantoro menjelaskan, “Wanita itu memiliki keunikan tersendiri: misterius dan penuh karakter. Keharmonisan itu adalah misteri, oleh karena itulah wanita selalu menjadi daya magnet bagi saya untuk menggali karakter berbeda yang dipancarkan tiap wanita”.

Ciri Khas “Mata Hitam” dalam Lukisan Jeihan Sukmantoro

Teknik melukisnya berkarakter figuratif dengan mata hitam dan warna datar sederhana. Ciri khas objek lukisannya dapat diidentifikasi dengan ‘mata hitam’ atau ‘mata cekung’. Karyanya yang diam menceritakan aura meditatif.

Tidak sedikit yang menafsirkan bahwa mata sepenuhnya dicat hitam pada lukisan Jeihan ini melambangkan kegelapan misteri di jalan manusia. Dia memadukan aura mistik timur dan mistik barat ke lukisannya.

Menurut Jeihan sebenarnya manusia itu tidak tahu apa-apa, dan selalu bertanya-tanya. Jeihan menampilkan wajah-wajah beku, dingin, mata yang diliputi rahasia, gelap, kelam bagaikan secercah mandala hitam. Sosok tersebut adalah berasal dari hatinya, karena lukisan bagi Jeihan adalah lantun diri yang utuh untuk segala keadaan yang datang kedalam kehidupannya. Sebagai “bahasa” nya tentang duka, ria ataupun kecewa.

Hal ini dilakukan Jeihan dari tahun ke tahun. Figur yang diciptakan Jeihan dengan mata kosong melompong, terbuat karena memori, yang dinamakan kenangan, harapan, atau kesepian.

Menurut kurator seni bernama Mikke Susanto, “Mata hitamnya sering dinisbatkan sebagai simbol ikonik dengan beragam arti. Bahkan bagi Jeihan, ia mendapatkan sebuah visi, bahwa mata hitam baginya adalah sebuah realitas masa depan.”

Dia menemukan ciri khasnya itu pada tahun 1963 semasa berkuliah di ITB. Masa itu dianggap sebagai saat tersulit dalam hidupnya. Ciri khas lainnya adalah penggunaan dua warna dalam latar yang berbeda di lukisannya.

Lukisan Satrio Piningit

Jeihan secara khusus membuat lukisan yang diberi judul “Satrio Piningit.

Lukisan “Satrio Piningit” ini dipamerkan bersama 44 lukisan karya Jehan lainnya dalam pameran tunggalnya bertajuk Refleksi & Re-Imaji Indonesia. Pameran ini diselenggarakan pada 26 Juni – 5 Juli 2014 di Museum Nasional, Jakarta Pusat.

Lukisan Satrio Piningit itu dikerjakannya pada awal Juni 2014 di studionya di Padasuka Bandung, Jawa Barat. Proses teknis pembuatan lukisan ini sekitar 30 menit.

Jeihan menyatakan tidak memihak salah satu calon presiden. Bagi dia, Satrio Piningit bukanlah berwujud secara fisik, melainkan sebuah esensi. Esensi Indonesia yang paling penting adalah kebinekaan.

Lukisan tersebut berfigur dua orang dalam personifikasi khas hitam, tinggi, berpasangan, melakukan perjalanan dengan ditemani angin. Karyanya ini berkisah mengenai sosok dan karakter gabungan antara realitas pikir dan realitas spiritual.

Arti Warna dan Kehidupan Bagi Jeihan Sukmantoro

Jeihan menggunakan warna-warna terang tapi tidak cerah, melainkan menambahkan sesuatu nilai berat. Hal itu adalah karena warna, bagi Jeihan, adalah unsur pendukung bagi apa yang hendak dilukiskannya. Dalam kreasinya itu, Jeihan selalu menjenguk hikmah dari segala kejadian. Kembali lagi ia merujuk bahwa manusia beriman mengakui keberadaan Allah, Sang Pencipta.

Bagi Jeihan, hidup ini adalah untuk dijalani, menggelinding terus, mengalir dan berujung tak henti dalam maya. Melukis, bagi Jeihan adalah amalan yang ingin disampaikannya, dan diharapkannya sebagai syiar.

Jeihan menuturkan bahwa, “Pengantar terbaik adalah Iman diri sendiri. Mengapa tak pilih yang terbaik. Kenalilan diri anda lewat lukisan saya, atau sebaliknya.”

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source https://www.mutualart.com/ https://www.mutualart.com/Artist/Jeihan-Sukmantoro/A71C4476E332D04E/Artworks https://id.m.wikipedia.org/wiki/Jeihan_Sukmantoro
Comments
Loading...