Lukisan “PRO-EKSISTENSI” (Abenk Alter)

PRO-EKSISTENSI - Abenk Alter
0 2.552

Lukisan PRO-EKSISTENSI merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Abenk Alter.

PRO-EKSISTENSI – Abenk Alter
  • Pelukis : Abenk Alter
  • Judul : PRO-EKSISTENSI
  • Tahun : 2017
  • Media : Acrylic on Canvas
  • Ukuran : 200 cm x 200 cm

Deskripsi Lukisan PRO-EKSISTENSI

Lukisan ini merupakan lukisan dengan metode fastline dengan teknik melukis menggunakan cat akrilik di atas kanvas. Dalam lukisan ini terlihat beberapa komposisi garis dan warna membentuk tubuh manusia.

Makna Lukisan Secara Global

Nama Abenk Alter di seni visual terbilang baru. Meski proses menggambar sudah dilakoni sejak dini, pria yang bernama lengkap Rizki Rizaldi Ranadireks itu sudah mulai melukis. Bahkan di sela-sela kesibukan sebagai seorang musisi, dia sudah melukis.

Mulai akhir 2016 ia sudah mulai mengikuti pameran-pameran kolektif. Di awal berkarya, lukisan yang menggunakan metode ‘fastline’ ditambah dengan karakter menjadi ciri khas awal.

Setiap seniman mempunyai cara maupun teknik tersendiri dalam berkarya. Sama halnya dengan Abenk Alter yang menamakan metode menciptakan sebuah lukisan dengan ‘fastline’. Selain metode ‘fastline’, imajinatif dan ekspresionis menjadi ciri khas lainnya dari karya Abenk.

Abenk menggunakan medium lampu ultra violet untuk mendapatkan efek dramatis di seluruh ruangan. ‘Fastline’ yang terlihat seperti doodles terpecah-pecah itu menarik pengunjung untuk berpose.

Fastline atau garis cepat menjadi dasar dari lukisan-lukisan Abenk. Jika disimak lebih mendalam, di permukaan atas kanvas terdapat beragam bentuk random, garis tak tentu arah, dan ada beberapa yang terdiri seperti sebuah karakter. Dahulu fastline dibiarkan Abenk tanpa warna, baru dibuatkan karakter di atas ‘fastline’.

Kini ‘fastline’ berubah menjadi karakter itu sendiri. Menurut Abenk, dia mendapatkan ide tersebut ketika masih menempuh pendidikan magister dan belajar buku-buku sufi maupun Filsafat Timur.

Sebelumnya fastline dan karakter Abenk pisahkah. Ia mewarnai karakter dan mendiamkan fastline. Keduanya awalnya menjadi entitas yang berbeda, tapi kemudian ia buat menjadi satu.

Namun, warna-warna yang dipakai Abenk masih sama seperti sebelumnya. Yakni, kuning, hijau, biru, dan merah yang diidentikkan dengan api. Warna-warna tersebut cukup mempengaruhi tone-tone pada lukisannya.

Buku sufi karya Hazrat Inayat Khan diakui Abenk mempengaruhi beberapa karya lukisannya. Karena perspektif vibrasi, ia menemukan alasan untuk menggabungkan antara penggunaan fastline dan karakter-karakter yang ada.

Perspektif dari sufi tersebut menjadikan ada penggabungan antara keduanya yang mengatakan semua yang termanifestasi di dunia fisik lahir dari vibrasi. Fastline untuk vibrasi tersebut yang akhirnya menciptakan untuk makro kosmos-nya. (Sumber : detikHOT di RUCI Art Space).

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source https://indoartnow.com/ https://indoartnow.com/uploads/artwork/image/22404/artwork-1489122939.jpg https://m.detik.com/hot/spotlight/3766020/metode-melukis-fastline-cara-abenk-alter-buat-sebuah-lukisan
Comments
Loading...