Warning: unlink(/tmp/fa1af991f54a0c3995e92ca7ef317fde-ZmHA4d.tmp): No such file or directory in /home/infoprima/public_html/lukisanku.id/wp-admin/includes/class-wp-filesystem-ftpext.php on line 158

Lukisan “Punakawan and the Five Pandawa” Karya Soedibio

Punakawan and the Five Pandawa - Soedibio
0 2.423

Lukisan “Punakawan and the Five Pandawa” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Soedibio.

Punakawan and the Five Pandawa – Soedibio
  • Pelukis : Soedibio
  • Judul : “Punakawan and the Five Pandawa”
  • Tahun :  1973
  • Media : Oil on Canvas
  • Ukuran : 150 cm x 100 cm

Deskripsi Lukisan “Punakawan and the Five Pandawa”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya surerealisme, dekoratif. Dengan teknik melukis menggunakan cat minyak di atas kanvas. Dalam lukisan ini, pelukis menggambarkan sosok Punakawan dan Pandawa Lima.

Diantara tokoh-tokoh wayang kulit ada tokoh yang disebut Punakawan. Punakawan adalah karakter yang khas dalam wayang Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya mengindikasikan bermacam-macam peran, seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritisi sosial, badut bahkan sumber kebenaran, dan kebijakan. Dalam wayang Jawa karakte r punakawan terdiri atas Semar, Gareng, Bagong, dan Petruk. Dalam wayang Bali karakter punakawan terdiri atas Malen dan Merdah (abdi dari Pandawa) dan Delem dan Sangut (abdi dari Kurawa).

Punakawan itu berasal dari kata-kata Puna dan Kawan. Puna berarti susah; sedangkan kawan berarti kanca, teman atau saudara. Jadi arti Punakawan itu juga bisa diterjemahkan teman/saudara di kala susah.

Ada penafsiran lain dari kata-kata Punakawan. Puna bisa juga disebut Pana yang berarti terang, sedangkan kawan berarti teman atau saudara. Jadi penafsiran lain dari arti kata Punakawan adalah teman atau saudara yang mengajak ke jalan yang terang.

Sementara, Pandawa Lima merupakan tokoh yang tidak dapat dipisahkan dengan kisah Mahabarata, karena Pandawa Lima merupakan tokoh sentralnya bersama dengan Kurawa. Pandawa lima adalah sebutan lima bersaudara, putra dari Pandu Dewanata yakni Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa.

Perjalanan Karier

Belajar melukis dilakoninya secara otodidak. Semasa hidup, Soedibio aktif di berbagai organisasi kesenian, diantaranya pada tahun 1940 bergabung menjadi anggota PERSAGI (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) di Jakarta, lalu pada tahun 1946 ikut mendirikan Seniman Indonesia Muda (SIM) di Madiun, Jawa Timur. Kemudian pada tahun 1967 ia menjadi anggota Sanggar Puring di Surabaya, Jawa Timur, serta pada tahun 1970 menjadi anggota Himpunan Budaya Surakarta (HBS) di Solo, Jawa Tengah. Ia juga pernah bekerja bersama Trisno Sumardjo di Jawatan Kereta Api (1942) di kota asalnya, Madiun, Jawa Timur. Pada jamannya, ia di kenal sebagai satu-satunya pelukis potret, yang sanggup membuat potret orang tanpa model. Lukisan tentang pengalamannya di tahanan Belanda di Yogyakarta pada tahun 1949 adalah salah satu bukti kemahirannya tersebut.

Karakteristik Karya

Lukisan-lukisan Soedibio menggunakan warna-warna berat, seperti coklat dan kuning ochre. Teknik pewarnaannya juga masih ada yang menggunakan teknik sungging. Teknik sungging maksudnya membuat tingkatkan warna dengan menambahkan warna teen, toon, atau shadow. Teen itu mencampur warna lain dengan warna putih. Toon itu mencampur dengan warna hitam. Shadow itu mencampur dengan warna abu abu. Dalam membuat bentuk atau figur wayang purwa, Soedibio masih menggunakan kaidah umum rupa wayang purwa. Soedibio menvisualisasikan wayang purwa dengan gaya dekoratifnya.

Tema Lukisan Soedibio

Selain melukis potret orang, Soedibio juga mahir melukis pemandangan alam. Rumah-rumah orang di desa dan pohon nyiur berkipas-kipas, daun bersatu dalam satu ayunan tenang dengan galengan-galengan sawah di sekitarnya, di gambarkan secara tepat dan detail olehnya. Keunikan lain yang dimilikinya dan membedakan dirinya dengan pelukis lain adalah, ia selalu membuat perubahan pada gaya lukisannya yang berubah dengan drastis sesuai kisah hidupnya. Lukisannya pada zaman revolusi bernuansa kelam dan menunjukkan kekerasan. Kemudian setelah sempat menghilang selama 15 tahun dari dunia seni rupa karena persoalan pribadi, ia akhirnya kembali lagi, namun dengan gaya lukisan yang lebih lembut.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://archive.ivaa-online.org/ http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/soedibio http://muklisinartfbsunnes.blogspot.com/2015/12/kritik-seni-keseluruhan.html
Comments
Loading...