Lukisan “Sanghyang 06” Karya Otty Widasari

Sanghyang 06 - Otty Widasari
0 6.647

Lukisan “Sanghyang 06” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Otty Widasari.

Sanghyang 06 – Otty Widasari
  • Pelukis : Otty Widasari
  • Judul : “Sanghyang 06
  • Tahun : 2016
  • Media : Watercolor on Paper
  • Ukuran : 200 cm x 150 cm

Deskripsi Lukisan “Sanghyang 06”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya kontemporer, ekspresionisme. Dengan teknik melukis menggunakan media cat air di atas kertas.

Perjalanan Karir

Otty Widasari (lahir 12 September 1973 di Balikpapan, Kalimantan Timur) merupakan salah satu seniman, kurator, penulis, sutradara film, dan salah satu pendiri Forum Lenteng, sebuah kolektif di Jakarta yang berfokus pada seni, media, dan kajian sosial budaya. Otty juga terlibat menjadi Direktur Program Pendidikan

Berbasis Komunitas, akumassa, dan pemimpin redaksi www.akumassa.org. Pada tahun 1992-1995 sempat menjadi mahasiswi Jurusan Jurnalistik di Institusi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, namun tidak di selesaikannya, kemudian pada tahun 2011 ia melanjutkan studinya Program S1 Jurusan Seni Murni di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan menyelesaikannya pada tahun 2013.

Karakteristik Lukisan

Lukisan-lukisan Otty bersumber dari adegan-adegan film yang dibuat pemerintah kolonial Belanda tentang beberapa lokasi di Indonesia. Ada tujuh daerah di masa kolonial yang di capture Otty dari “gambar idoep” Belanda.

Tema Lukisan

Landscape Banjarmasin

Lukisan-lukisan Otty memotret suasana kota dan pasar di “Banjarmasin”. Ada penjual yang menawarkan dagangan, anak-anak yang bermain, hingga arakan gajah.

Lamalera

Lukisan ini menangkap momen ketika musim perburuan paus. Tampak nelayan-nelayan Lamalera yang menyandang tombak, mendayung, atau mengarungi lautan hingga berpose di samping hasil buruan.

Jakarta

Lukisan ini menampilkan keriaan di Waterlooplein atau Lapangan Banteng seperti orang-orang yang bermain sepakbola. Juga ada lukisan di pelabuhan Tanjung Priok ketika bule-bule datang dengan kapal.

Landscape Balikpapan

Lukisan ini bercerita tentang orang Eropa dan keluarganya yang bekerja di penyulingan minyak di “Balikpapan”. Ada suasana kedatangan dengan kapal yang bersandar di teluk, ada bagian ketika mereka liburan. Tapi tertangkap pula wajah datar pekerja lokal dan penduduk setempat seakan tak bisa berbuat banyak menyaksikan tamu-tamu asing yang hendak menjarah hasil bumi mereka.

Toraja

Adegan-adegan yang sendu tapi sekaligus meriah bisa dipaparkan Otty dalam sebelas lukisan tentang Toraja. Ilustrasi bagian ini khusus menyoroti upacara pemakaman tradisional dengan barisan pelayat, kerbau untuk persembahan, dan iring-iringan jenazah.

Landscape Magelang

Otty memberi dominasi warna-warna gelap untuk tema lukisan “Jati”. Ini daerah di sekitar Magelang yang menjadi lokasi pembangunan rel kereta api. Dalam suasana gelap–seakan dalam hutan yang gelap, atau malam, atau metafor akan suramnya pembangunan di masa penjajahan—para blandong menghabisi hutan, menghasilkan log-log kayu dan mengangkutnya dengan lori.

Suku Asmat

Lukisan ini menjadi rekaman antropologis dari suku di Papua tersebut pada periode 1948-1952. Aktivitas dan identitas etnis mereka terekspose dengan jelas. Namun seperti halnya karya-karya tentang masa kolonial, adegan dalam ilustrasi tentang Asmat juga menangkap wajah dan gestur mereka yang sadar kamera.

Catatan Kuratorial

Kurator Manshur Rizki menyebut Otty sanggup merebut kembali harta yang dicuri oleh pihak kolonial yakni kontruksi mereka atas respon kita terhadap teknologi dan hal-hal baru beserta akses dan pengetahuannya—dan membingkainya dalam sebuah seni kontemporer.

Karya-karya Otty bisa menjadi sarana menunjukkan bagaimana mekanisme dan sistem produksi media (massa) bekerja.

Yang menarik justru pilihan tema Otty yang secara tidak langsung mampu menghadirkan karakter-karakter masa lalu. Bagaimana orang lokal bersikap canggung, bahkan terganggu, pada kamera, sementara orang Barat menganggap sebagai momen pengabadian, narsisme, dan kepongahan–semacam selfie di hari-hari ini.

Karakter-karakter masa lalu itu seolah menatap kita dan bertanya tentang sejauh mana relasi kita dengan teknologi kamera hari ini, di masa peradaban selfie ini.

Dan Otty menawarkan itu dengan bahasa gambar yang bersahaja. Jika saja ia lebih berani melepas kata-kata dan sepenuhnya memasrahkan pada bahasa gambar–pada segala detail lokasi, identitas kultural, simbol-simbol pada suatu masa dan suatu tempat, ketimbang membubuhkan teks semacam caption bak foto jurnalistik—karya-karya ini dapat semakin intim menatap kita.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source https://indoartnow.com/ https://indoartnow.com/artists/otty-widasari https://arifkoes.wordpress.com/2015/09/25/tatapan-dari-masa-silam/
Comments
Loading...