Lukisan “Save the Monkey” (Deny Pribadi)

Save the Monkey - Deny Pribadi
0 1.369

Lukisan Save the Monkey merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Deny Pribadi.

Save the Monkey – Deny Pribadi
  • Pelukis : Deny Pribadi
  • Judul : “Save the Monkey”
  • Tahun :
  • Media : Acrylic on Paper
  • Ukuran : 23.6 H x 17.7 W x 0 in

Deskripsi Lukisan Save the Monkey

Lukisan ini merupakan lukisan cartoon dengan gaya figutative, modern dan street art. Dengan teknik melukis menggunakan cat akrilik di atas kertas. Dalam lukisan ini pelukis menggambarkan himbauan untuk menyelamatkan makhluk di bumi ini, mereka adalah teman kita, mari kita jaga mereka.

Makna Lukisan Secara Global

Deny Pribadi merupakan salah satu pelukis Indonesia yang menghadirkan perpaduan unik antara gaya lukisan abstrak dan figuratif.

Dia melukis dengan emosi dalam gaya spontan, yang mencerminkan perasaan senangnya. Karakter dan simbol yang ia gali dalam karyanya berasal dari keragaman imajinasinya. Lukisan-lukisannya menggambarkan kisah manusia sebagai predator dan keserakahan kita selalu ingin mendominasi, menjajah dan berkelahi – semua hanya untuk bersenang-senang.

Suguhan Karya

Seni lukis memang secara historis mendominasi perkembangan sejarah seni rupa modern (Barat). Bisa dibilang, sejarah seni rupa modern (Barat) adalah sejarah seni lukis, sekalipun seni patung, grafis juga berkembang. Seni lukis tetap menduduki isu terheboh. Sekian banyak aliran-aliran seni rupa modern didasarkan atas fakta ontologis berupa seni lukis. Ia menjadi objek kajian utama dan kehadirannya dimaknai berulang-ulang. Atau orang memproduksi wacana dalam rangka menciptakan karya dan kehadiran mereka pada akhirnya akan menciptakan perbedaan (difference).

Kata kunci tiap karya seni dalam konteks ini sesungguhnya bertolak antara hubungan karya, wacana (discourse) dan perbedaan. Tiga kata kunci ini menurut Derrida membentuk konfigurasi triadik. Karya dibentuk oleh wacana untuk menciptakan perbedaan. Atau karya merangsang pembentukan wacana untuk kemudian menciptakan perbedaan.

Karya tersebut pada awalnya dipahami sebagai proses individual, ada dalam wilayah interior yang paling intim, tertutup, bahkan dianggap memiliki aurora spiritualitas. Dengan ini, kemudian karya dimaknai sebagai suatu entitas yang auroratik, milik individu, karena itu bersifat tunggal, tak bisa di-copy oleh siapa pun.

Sebaliknya, kini sebuah karya berada dalam ruang terbuka, eksterior dan profan. Karena itu menciptakan karya dengan semena-mena ditafsir secara bebas, bahkan cenderung manipulatif. Karya seni yang sesungguhnya ”biasa” dianggap ”luar biasa” atau sebaliknya. Seniman yang pandir bisa dianggap brilian atau sebaliknya. Di sinilah terbuka peluang untuk bermain dengan berbagai pola permainan tafsir untuk mendudukkan karya seni tertentu menjadi karya ikonik, kanonik dan seolah-olah penting dalam sejarah.

Berbeda dengan seniman lukis lainnya seperti Auly Kastari dengan bidang besar mengajak kita untuk merenungkan sebuah paradoks zaman ini, yaitu antara kecucian dan kejujuran harus berhadapan dengan kekerasan. Atau Atie Krisna menyodorkan nostalgia tentang kebermaknaan suatu benda bernama ”ceret” sebagai simbol jejak keuletan kerja dan keberlangsungan kehidupan. Disini, Deny Pribadi banyak mengungkap soal interogasi masyarakat zaman ini yang sering menjajakan perilaku kekerasan, dominasi dan arogansi.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Sumber : http://www.galerisemarang.com/exdetails.php?ex=68

Source https://www.saatchiart.com/ https://www.saatchiart.com/art/Painting-save-the-monkey/400102/1529812/view http://www.greatbanyanart.com/artist-details.php?artistID=169
Comments
Loading...