Lukisan “Sebelum Hujan Datang” Karya Yunizar

Sebelum Hujan Datang - Yunizar
0 1.338

Lukisan “Sebelum Hujan Datang” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Yunizar

Sebelum Hujan Datang – Yunizar
  • Pelukis : Yunizar
  • Judul : “Sebelum Hujan Datang”
  • Tahun : 2003
  • Media : Acrylic on Canvas
  • Ukuran : 76 cm x 64 cm

Deskripsi Lukisan “Sebelum Hujan Datang”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya abstrak, kontemporer. Dengan teknik melukis menggunakan cat akrilik di atas kanvas. Lukisan ini dipamerkan pada pameran “Object(ify)”, di Nadi Gallery, Jakarta, tahun 1994. [Dok. Nadi Galeri]

Karakteristik Karya

Yunizar (1971) adalah seorang seniman terkemuka Indonesia. Ia lahir di Talawi, Sumatera Barat, Indonesia. Dia lulus pada 1999 dengan gelar di bidang Seni Rupa dari ISI, Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, sekolah kebanggaan nasional dan jantung progresif art-keputusan di Indonesia. Kreativitas dan perubahan adalah garis depan agenda sekolah dan ini jelas dalam etos kerja Yunizar itu. 

Yunizar dikenal sebagai perupa yang mengeksplorasi figur manusia dengan garis-garis sederhana pada karya lukisnya. Ia adalah seorang pelukis yang karya-karyanya dapat dijelaskan oleh upaya untuk memajukan keasyikannya untuk gaya “Still Life“. Botol, pot-kaktus, apel dan elemen lainnya yang dicat sendiri-sendiri, dan kemudian direproduksi dalam garis disederhanakan, akhirnya mengalikan eksponensial sebagai elemen yang sangat kecil di atas kanvas yang luas, seperti berdesakan pemandangan dua dimensi tersedak kemampuan reproduksi sendiri. 

Di lain waktu ia melenyapkan multiplisitas ini, menggusur dengan tokoh tunggal, atau kepala, tersenyum, cacat dan dikonsumsi oleh rasa keterasingan atau pengasingan. Dalam serangkaian khas coretan (marks), garis dan tanda-tanda yang digunakan sebagai ucapan panik. Obfuscating dan tidak pernah menyatakan segala bentuk niat. Namun, rasa narasi disimpan tersisa di pinggiran frame, yang abadi dalam ketegangan cemas. Salah satu seniman yang paling dinamis baru Indonesia, Yunizar menarik dari warisan yang kaya untuk membuat gambar yang membangkitkan kenangan mimpi dan mitos serta duniawi.

Warna dalam Lukisan Yunizar

Warna-warna Yunizar mencerminkan lingkungannya di Indonesia dan tetap menjadi tema konstan dalam karya-karyanya. 

Warna dalam palet terkendali kuning, cokelat dan hijau disandingkan dengan keinginan masyarakat untuk semua hal-hal yang baru dan cerah. Ini mengisyaratkan keinginannya untuk mendekonstruksi gagasan penonton yang ingin menikmati keindahan, dan bagaimana itu terdiri. Untuk Yunizar, keindahan dalam seni datang melalui komposisi kompleks dan memperkenalkan dengan cara yang berbeda. 

Yunizar lebih memilih untuk bermain dengan ruang kosong, lukisannya membawa gaya abstrak tanda tangannya dengan fokus pada tekstur yang mengundang pengunjung untuk menjangkau untuk merasakan. Dia memahami dan memanipulasi material, bekerja terutama dalam akrilik dan pensil, berseni membangun volume dan anti-irama dengan sapuan kuas dan pengaturan sebagainya tayangan melalui kontras dan garis, bentuk, dan warna.

Tema Bunga dalam Lukisan Yunizar

Lukisan dengan tema “Bunga” karya  Yunizar adalah bunga yang membuat orang menjadi bertanya-tanya, mengapa pelukis ini melukis bunga tak ubahnya dengan bunga di buku gambar anak TK atau SD? Naif dan tidak mewakili logika visual bunga sebagaimana bunga sebagai bagian dari alam.

Tak ada apa pun di kelopak-kelopak bunga itu, embun, sisa air hujan, semut, kupu-kupu, bahkan juga gerak angin yang membuat kelopak bunga itu bergerak atau jatuh. Warna bunga-bunga itu pun aneh. Ia hanya mempunyai satu warna seperti batang dan rantingnya, bahkan juga seperti warna pot tempat ia tegak tumbuh.

Akan tetapi, itulah bunga-bunga Yunizar. Lukisan bunga yang hadir itu seolah bukan untuk menyatakan dirinya. Bahwa ia hadir untuk melayani hasrat orang banyak demi keperluan menatap realitas bunga yang diulang ke atas kanvas. Kanvas Yunizar adalah dunia asing bagi hasrat-hasrat semacam itu. Dunia yang menolak setiap objek untuk dihadirkan sebagaimana mestinya seperti yang selalu dilayani oleh kerja fotografi atau oleh gaya ungkap realisme dalam seni lukis. Tampaknya, sebagai pelukis, Yunizar tidak menugaskan dirinya untuk menjadi pelayan bagi hasrat-hasrat semacam itu.

Di atas kanvasnya, Yunizar memperlakukan bunga bukanlah dengan keindahan yang berfokus pada imajinasi demi memperbesar aksentuasi kelembutan. Ia menghadirkan bunga jauh dari niatan merepresentasikan berbagai kesadaran yang sering kali menjadi umum. Sebutlah, cinta, keindahan alam, atau sesuatu yang lalu menjadi metafora, idiom, dan simbol yang mengelebatkan berbagai gagasan kesadaran.

Bunga Yunizar seolah hadir dan dihadirkan begitu saja. Ia tumbuh dan lahir dari gerak atau sensibilitas intuisi pelukis yang tak ubahnya dengan kanak-kanak. Ekplorasi bentuk terkesan amat sederhana dan seragam, meniru bunga matahari yang umumnya terlihat dalam gambar kanak-kanak. Bulatan yang dilingkupi oleh kelopak yang bergelombang ritmis. Begitu pula dengan jalinan ranting yang nyaris tanpa liuk atau kelokan yang rumit.

Teknik pewarnaan Yunizar pada bunganya ini terkesan lepas, tetapi tetap terasa amat memperhitungkan kepatuhannya pada bentuk objek, tanpa ada sedikit pun lelehan yang mengambar di bidang kanvas. Akan tetapi, menariknya itu tetap memperlihatkan pulasan yang spontan. Tekstur pulasannya pada volume objek tampak tebal dan spontan.

Catatan Kuratorial

Bunga sebagai objek fisikal adalah ruang pengalaman yang dihadirkan Yunizar bukan lagi sebagai representasi dari alam. Melainkan representasi dari bentuk bunga itu sendiri sebagaimana ia menampak dari alam bawah sadar seorang pelukis.

Bunga-bunga Yunizar adalah bunga yang tidak tumbuh dari alam, tetapi dari suatu cara pandang perihal bagaimana alam itu dipandang. Alam yang bukan lagi menjadi subjek otonom sebagaimana kodratnya. Bunga-bunga Yunizar, di satu sisi, juga bisa dipandang sebagai kehadiran objek fisikal alam yang lahir bukan dari suatu bangun persepsi yang berkorespondensi dengan realitas (alam), melainkan dari rasa personal itu sendiri.

Namun, kritikus Tony Godfrey melihat seri lukisan bunga Yunizar hadir dengan struktur sekuat pohon, semacam peringatan betapa bertenaga dan gigihnya alam. Alih-alih bunga itu dipandang sebagai medium pencurahan pikiran yang lirikal, ia adalah sesuatu yang dihadirkan secara arsitektur dan lebih mementingkan perasaan tertentu. Bunga-bunga Yunizar tidaklah sedang menghadirkan warna dan bentuk bunga, tetapi sesuatu yang abadi.

Dalam pandangannya, jika mencoba membaca gambaran tersebut sebagai citra barang-barang di dunia nyata, bunga-bunga itu menyerupai rangkaian bunga studio yang berskala kecil. Mereka adalah gambaran yang agung atau rangkaian bunga yang sangat tidak agung. Lalu, apakah Yunizar melukis mereka dari kehidupan? Tony Golfrey meragukannya karena bunga-bunga Yunizar itu lebih mirip denah untuk rangkaian bunga.

Kurator Aminudin TH Siregar memandang bunga-bunga Yunizar dengan pertautannya pada apa yang ia sebut sebagai “neurotisme” dan hubungannya dengan sejarah seni rupa Indonesia. Neurotisme sebagai aspek telah lama ada, tetapi nyaris tak pernah dibaca di tengah dominannya orang melihat kubu formalisme Bandung dan realisme Yogyakarta. Kubu ini diwakili oleh Nashar, Oesman Efendie, dan Trisno Sumardjo. Inilah yang menjadi genealogis estetika Yunizar.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://archive.ivaa-online.org http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/yunizar http://galeri-lukisan-indonesia.blogspot.com/2013/03/yunizar-1971.html
Comments
Loading...