Lukisan “Seed and Broom” Karya Firman Djamil

Seed and Broom - Firman Djamil
0 2.116

Lukisan “Seed and Broom” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Firman Djamil.

Seed and Broom – Firman Djamil
  • Pelukis : Firman Djamil
  • Judul : “Seed and Broom”
  • Tahun : 2005
  • Media : Pen on Paper
  • Ukuran : 60 cm x 42 cm

Deskripsi Lukisan “Seed and Broom”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya realisme. Dengan teknik melukis menggunakan media pulpen di atas kertas. Karya-karya Firman Djamil memiliki kecenderungan untuk mengekspos dan mendekonstruksi cara melukis maupun gaya yang ditampilkan. Melepaskan diri dari kenyataan dan lebih menggandalkan memori, emosi, dan imajinasi, namun tetap terarah.

Lebih jauh, mengamati karya-karya sketsa dan drawing Firman Djamil sama saja dengan merangkai kepingan-kepingan besar seni rupa Sulawesi Selatan. Menelusuri ratusan sketsa dan drawing Firman Djamil tak hanya menampilkan sejarah perjalanan berkarya beliau. Tapi lebih dari itu, melalui karya-karya ini, kita bisa mengumpulkan potongan-potongan seni rupa yang mungkin tak sempat tercatat dalam perjalanan seni rupa di wilayah ini.

Karakteristik Karya

Firman Djamil Lahir di Bone, Sulawesi Selatan,  5 Februari 1964. Di tahun 1988, Firman lulus dari Fakultas Seni Rupa IKIP Ujung Pandang. Firman kemudian melanjutkan pendidikannya di program master di ISI Yogyakarta. Karya Firman umumnya berupa patung dan instalasi dengan tema utama berupa lingkungan. Selain itu Firman juga menghasilkan karya berupa lukisan yang yang bersifat konstekstual. Seperti misalnya Firman melukis tentang nilai-nilai filsafat dari naskah kuno La Galigo.

Fase Lukisan

Dalam karya-karyanya, kita bisa melakukan napak tilas bagaimana seorang Firman Djamil memulai perjalanan berkeseniannya. Meski pernah menjalani pendidikan formal di IKIP Ujung pandang, sesungguhnya bakat Firman Djamil sudah mulai terlihat sejak kecil.

Fase Awal

Karya-karya sketsa Firman Djamil sangat beragam, mulai dari masa ketika beliau menjalani perkuliahan di Jurusan Pendidikan Seni Rupa IKIP Ujung Pandang (sekarang UNM Makassar). Juga masa-masa beliau mengelola pasar seni di kawasan benteng Somba Opu, masa mengajar di perbatasan Toraja–Mamasa, hingga sketsa-sketsa dekade awal tahun 2000-an.

Pada fase pertengahan dekade ’80-an. Dalam karya-karya ini, kita bisa melihat seorang Firman Djamil berlatih menguasai kemampuan dasar seni rupa seperti garis, bentuk, anatomi, gesture, gelap terang, warna, dan lain-lain.

Kita akan melihat karya-karya Firman Djamil yang ringan dan tak berupaya menyampaikan makna yang terlalu rumit untuk dipahami. Bisa jadi karena karya-karya ini hanya berupa sketsa. Tujuannya untuk mengisi waktu, latihan menggambar, atau sebagai dasar untuk membuat karya yang lain.

Tak mengherankan pada karya yang dideskripsikan di awal, seorang Firman Djamil menunjukkan kemampuan melukis yang handal meskipun masih menjalani pendidikan di sekolah menengah.

Konsep I La Galigo

Firman Djamil memperlakukan I La Galigo sebagai sumber insiprasi karyanya. Sureq Galigo, atau Galigo, atau disebut juga La Galigo adalah sebuah epik mitos penciptaan dari peradaban Bugis di Sulawesi Selatan (sekarang bagian dari Republik Indonesia) yang ditulis di antara abad ke-13 dan ke-15 dalam bentuk puisi bahasa Bugis kuno, ditulis dalam huruf Lontara kuno Bugis. Dunia dalam seni lukis Firman Djamil adalah jagat yang berlapis tiga: dunia atas, dunia tengah (Ale Lino), dan dunia bawah (Peretiwi). Tiga semesta itu diberi tempat yang sama. Tiga lapis saling terkait, bertaut satu dengan yang lain dalam sebuah peristiwa dan konteks.

Dalam drawingnya seperti Key HoleOne and Seven, atau Liver Oscollation, akan kita temui gambar yang memiliki niat yang sama. Kalangan penentu kebijakan dan pemodal menjadi mahluk penganggu: tikus yang mengerat, anjing yang mengendus dan menjilat, nyamuk penghisap darah, atau kucing yang licik. Pola ini awam dipakai karikaturis di terbitan harian, mingguan, atau berkala. Sementara orang-orang yang berada di dunia bawah seperti dalam Noh atau Bottle Conference diserupakan dengan binatang laut semisal ubur-ubur, kuda laut, penyu, atau kura-kura, atau ulat; mahluk tak memiliki daya, remeh, lambat, lembek, terlindas, dan sering tak terlihat.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://archive.ivaa-online.org/ http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/firman-djamil/page:4 https://gosulsel.com/2015/11/07/berkenalan-dengan-firman-djamil-sebuah-catatan-kuratorial/
Comments
Loading...