Lukisan “Selamanya Malam Minggu” Karya Budi Kustarto

Selamanya Malam Minggu - Budi Kustarto
0 1.236

Lukisan “Selamanya Malam Minggu” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Budi Kustarto.

Selamanya Malam Minggu – Budi Kustarto
  • Pelukis : Budi Kustarto
  • Judul : “Selamanya Malam Minggu”
  • Tahun : 2004
  • Media : Mixed Media on Canvas
  • Ukuran : 145 cm x 120 cm

Deskripsi Lukisan “Selamanya Malam Minggu”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya kontemporer dan self-portrait. Dengan teknik melukis menggunakan media campuran di atas kanvas.

Lukisan-lukisan Budi Kustarto memang menunjukkan gambaran tentang dirinya sendiri, —nampak seperti lukisan self-portrait. Namun perhatian Budi bukan terutama karena soal potret-diri; bagi dia, justru lebih pada urusan menimbang, meneruskan, lalu mengubah masalah karakter pematungan yang telah dikerjakannya ke dalam bentuk lukisan.

Budi menggunakan citra diri di kanvas sebagai preferensi, menggunakan efek visual yang kuat untuk mengisyaratkan perubahan masalah politik dan sosial. Mewakili keinginan dan alam, harmoni dan konsep lingkungan hijau dengan gaya yang cerah dan asing, motif energik dan warna yang melepaskan energi artistik.

Secara umum, gambaran tubuh pada bidang kanvas yang dikerjakan Budi dinyatakan dalam dua karakter, jadi semacam: gambaran tubuh yang tengah berada dalam ruang positif, serta dalam ruang negatif. Tapi soal karakter positif dan negatif tentang ‘tubuh dan ruang’ di sana juga mengalami perubahan, tak sama persis, berlaku seperti dalam proses pematungan.

Karakter Warna Dalam Lukisan Budi Kustarto

Pada seluruh karya-karyanya itu, Budi Kustarto memanfaatkan karakter warna yang bersifat monokromatik: hijau. Hijau, di sini, tak hanya berlaku sebagai warna. Atau setidaknya, Budi hendak menyatakan intensitas suatu warna bisa untuk melampaui pengertiannya sebagai suatu simbol tertentu. Demikian lah, warna ‘hijau’ kemudian disebut telah menunjukkan ‘suatu arti’ tertentu. Digunakannya karakter warna monokromatik pada gambaran figur secara realistik dalam lukisan (atau karya patung) Budi juga bukan dimaksudkan sebagai usaha untuk menarik batas yang membedakannya dengan realitas atau pengalaman kita sehari-hari. ‘Warna hijau’ itu justru bermakna tidak dengan cara merumuskannya sebagai suatu arti tertentu.

Pada kanvas, memang nampak berbagai pose tubuh yang lebih ‘kaya’ dibanding bentuk gesture tubuh yang dicetaknya dalam karya patung. Budi tetap memperagakan masalah pernyataan pose tubuh ini sebagai karakter gesture yang bersifat politis (political), baik sebagai patung maupun lukisan.

Dalam hal ini, Budi memang seperti tengah memperhitungkan adanya hukum keseimbangan yang berlaku atas sikap gestural tubuh tadi. Dengan cara demikian, Budi seperti ingin menyatakan semacam pembedaan. Soal tubuh-tubuh yang digambarnya itu tak dimaksudkan ‘hanya’ sebagai gambar yang menempel pada sebuah bidang datar. Budi lebih ingin menunjukkan bahwa: bidang kanvas itu justru adalah semacam situasi ruang ilusif yang berlaku sebagai lokasi tempat ia meletakkan (menempatkan) berbagai gambaran dirinya. Dibayangkan, gambaran itu berlaku ibarat sebuah patung yang berupaya mencapai karakternya yang me-ruang. Dengan cara seperti itu lah, kita akan sampai pada persoalan bagaimana pose tubuh-tubuh itu membentuk relasi dengan ‘ruang’ (bidang gambar, bidang kanvas) yang membatasinya.

Kesimpulan

Karya-karya Budi Kustarto secara jelas menunjukkan persoalan ‘batas’ tentang dan dalam penggambaran (figur, tubuh) diri (nya). Perkara batas itu jadi cara penyampaian tentang gambaran terbatasnya posisi dan keadaan subyek individual terhadap nilai universal dalam kenyataannya secara keseluruhan (in its comprehensiveness). Dari keadaan seperti itu pula, kita bisa belajar untuk bersikap dalam menghadapi hasil usaha Budi Kustarto melalui karya-karyanya. Patung-patung atau lukisan-lukisan Budi memang tak dihasratkan memenuhi artinya secara penuh. Sebaliknya, karya-karya itu hadir dalam ‘ketidak menyeluruhan’nya; berlaku sebagai suatu ‘text’ (bacaan). Ini tentu bukan soal keraguan, atau memilih menjadi ragu-ragu; masalahnya adalah soal merayakan cara penundaan makna untuk alasan proses penghayatan. Dalam hal ini, masalah daya kreativitas (kita); tak hanya untuk merasa bebas, tapi juga menjadikan diri jadi mawas. Mawas diri adalah introspeksi, berkaca, dan bercermin. Selain sikap lebih berhati-hati dalam bertindak, mawas diri artinya adalah ketika seseorang bercermin terhadap semua tindakan yang dapat berakibat buruk atau menimbulkan adanya sebuah penyesalan di akhir.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://archive.ivaa-online.org/ http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/budi-kustarto/page:1 http://archive.ivaa-online.org/files/uploads/texts/Pengantar%20Kuratorial%20Pameran%20Tunggal%20Budi%20Kustarto%20%5C"Hetero%20:%20Green%5C".pdf
Comments
Loading...