Lukisan “Self Portrait 5” (S. Soedjojono)

Self Portrait 5 - S. Soedjojono
0 8.821

Lukisan “Self Portrait 5” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, S. Soedjojono.

Self Portrait 5 – S. Soedjojono
  • Pelukis : S. Soedjojono
  • Judul : “Self Portrait 5”
  • Tahun : 1970
  • Media : Oil on Canvas
  • Ukuran : 62 cm x 73 cm

Deskripsi Lukisan “Self Portrait 5”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya realisme dan ekspresionisme. Dengan teknik melukis menggunakan cat minyak di atas kanvas. Gambar dicuplik dari koleksi Perpustakaan IVAA: “Visible Soul, S. Sudjojono”, Amir Sidharta, 2006.  Dalam lukisan ini pelukis menggambarkan potret dirinya.

Karakteristik Karya

Sindoedarsono Soedjojono merupakan pelukis legendaris di Indonesia. Selain sebagai pelukis, ia juga dikenal sebagai kritikus seni rupa pertama di Indonesia. Dengan diawali oleh Trisno Soemardjo, Sudjojono dijuluki sebagai Bapak Seni Rupa Indonesia Modern. Julukan ini diberikan kepadanya karena Sudjojono adalah seniman pertama Indonesia yang memperkenalkan modernitas seni rupa Indonesia dengan konteks kondisi faktual bangsa Indonesia. Ia biasa menulis namanya dengan “S. Sudjojono”.

Lukisannya memiliki karakter Goresan ekspresif dan sedikit bertekstur, goresan dan sapuan bagai dituang begitu saja ke dalam kanvas. Pada periode sebelum kemerdekaan, karya lukisan S. Sudjojono banyak bertema tentang semangat perjuangan rakyat Indonesia dalam mengusir penjajahan Belanda, namun setelah jaman kemerdekaan, kemudian karya lukisannya banyak bertema tentang pemandangan alam, bunga, aktifitas kehidupan masyarakat, dan cerita budaya.

Sudjojono Menentang Gaya Mooi-Indie

Bagi Soedjojono, ada latar belakang kesadaran sosial, politik di balik penentangannya akan gaya Mooi-Indie, yaitu kontradiksi dari ungkapan pelukis Mooi-Indie dengan keadaan masyarakat yang umumnya menderita. Pelukis Mooi-Indie hanya tertarik pada keindahan-keindahan alam dan tidak pernah tertarik dengan keadaan sesungguhnya, seperti penderitaan para petani dan kehidupan orang-orang kampung.

Sudjojono menganjurkan realisme sebagai pendekatan dalam seni lukis, sebab menurutnya ini lebih real sebagaimana perjuangan rakyat yang real. Menurut Sudjojono, rakyat lebih mengerti lukisan dengan gaya realisme daripada aliran-aliran yang lain.

Jiwa Ketok

Sudjojono memahami kesenian sebagai jiwa ketok (jiwa yang nampak). Kesenian bagi Sudjojono ialah jiwa seniman yang terlihat. Karya seni merupakan gambaran jiwa seniman, sekalipun materi yang direproduksi ialah tiruan dari kenyataan. Hal ini dapat terjadi karena menurut Sudjojono, jiwa bukanlah suatu kamar klise yang menangkap kenyataan sebagaimana adanya. Sudjojono memberi ilustrasi tentang proses kreatif yang berangkat dari penglihatan, ditangkap jiwa lalu dimanifestasikan dalam gambar atau lukisan.

Sudjojono menyatakan kebesaran karya seni tidak tergantung sederhana atau tidaknya materi yang diangkat sebagai subjek, tetapi dari jiwa si seniman itu sendiri. Oleh karena itu, subjek dalam karya seninya diangkat dari hal-hal sederhana yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Kebenaran Lebih Unggul dari Keindahan

Sudjojono membuka tulisan berjudul “Kebenaran Nomor Satu, Baru Kebagusan”. Kebenaran yang dimaksud di sini ialah kesesuaian dengan realitas, merepresentasikan state of affair yang berada secara aktual di dunia atau merepresentasikan objek yang berada secara apa adanya yang merupakan representasi asli dari objek tersebut.

Kebagusan yang dimaksud Sudjojono ialah keindahan. Sudjojono menyatakan bahwa kebagusan tidak dicari di jaman kuno, Majapahit atau Mataram, atau dari sudut pandang si turis (Sudjojono, 2000: 6). Sudjojono juga tidak menyarankan untuk membuang semua pengaruh rasa dari Barat. Ia menyarankan untuk mempelajari teknik dari Barat yang bagus, untuk kemudian membangun rasa Indonesia yang cocok dengan jaman (Sudjojono, 2000: 16—7). Pencarian identitas dalam seni lukis, menurut Sudjojono, juga dapat dilakukan dengan mempelajari kehidupan rakyat jelata di kampung-kampung dan desa-desa.

Seni yang Muncul dari Kehidupan Sehari-hari

Sudjojono menolak seni lukis yang lahir dari kebutuhan di luar lingkungan bangsa Indonesia, umpamanya dari turis-turis atau orang-orang Belanda yang sudah pensiun. Seni lukis, bagi Sudjojono, harus muncul dari dalam hidup kita sehari-hari.

Sudjojono juga melukis gunung, bukit, jalan, tetapi ia memotret dari sudut yang berbeda. Tidak sekedar hafalan triade gunung, jalan, dan pohon kelapa. Sudjojono berusaha menggambarkan kesadaran akan alam Indonesia, bebas dari cara umum sesuai citarasa turisme di jaman Sudjojono. Seumpama dalam pemandangan tersebut terdapat menara listrik atau hal-hal lain yang menganggu pemandangan yang indah, Sudjojono tetap menggambarkannya.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://archive.ivaa-online.org http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/s-sudjojono/page:6 https://indoprogress.com/2013/09/konsep-konsep-seni-s-sudjojono/
Comments
Loading...