Lukisan “Sensitif” Karya Saftari 2

Sensitif - Saftari 2
0 1.263

Lukisan “Sensitif” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Saftari

Sensitif – Saftari 2
  • Pelukis : Saftari
  • Judul : “Sensitif”
  • Tahun : 2007
  • Media : Acrylic on Canvas
  • Ukuran : 280 cm x 180 cm

Deskripsi Lukisan “Sensitif”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya dekoratif. Dengan teknik melukis menggunakan media cat akrilik di atas kanvas.

Daun Sebagai Objek Lukisan

Karya Lukisan Saftari banyak melukiskan tema lingkungan. Ia memang pelukis yang konsisten. Sejak tahun 1998 hingga 2007, ia mengeksplorasi daun sebagai objek karya. Baginya, daun memiliki metafora yang kaya.

Di belahan dunia yang mengalami empat musim, daun menjadi kunci penanda musim. Musim gugur disebut demikian lantaran daun-daun berguguran. Musim semi disebut demikian ketika daun-daun muda bertumbuhan dari pori-pori batang setelah dibekukan salju di musim salju.

Daun juga adalah penanda sebuah lingkungan sehat atau rusak. Daun yang terbakar, daun yang kering kerontang, batang-batang meranggas tanpa daun, adalah sebagian penggambaran Saftari bagaimana lingkungan dieksploitasi oleh manusia.

Hingga dalam sebuah karyanya muncul objek lain bernama mesin ketik. Tampak dalam kanvas itu daun-daun gugur di sekitaran mesin ketik tua di mana kertas-kertasnya terbakar. 

Bagi Saftari, masuknya mesin ketik di lansekap kanvasnya bukan seperti kerja seorang seniman-filsuf, namun seoarang seniman pemikir. Bagi seniman-pemikir, ide dulu baru tindakan. Saftari rupa-rupanya jauh dari tipe itu.

Teknik Lukisan

Karya Saftari menunjukkan pengendapan yang cukup dalam ketika membincangkan keheningan alam. Warna blok hijau, merah berikut garis-garis horizontal atau vertikal, kemudian dikombinasikan dengan objek benda semacam batu, serumpun dedaunan, ranting, batu, telah memberi narasi tentang keseimbangan alam.

Atau bulir-bulir air yang membentuk ritme melodious. Perupa ini seolah memberi “garis identifikasi” sebagai anak Minangkabau yang menyatu dengan alam lewat slogan ideologisnya: Alam takambang jadi guru. Saftari bagai memberi penyadaran bahwa alam terbentang bisa dijadikan guru kehidupan.

Terlihat kemampuan teknis yang kian piawai. Ini merupakan bagian penting dari upaya Saftari untuk memberi fokus lebih dalam terhadap kecenderungan sebelumnya. Perkembangan ini muncul karena persentuhan emosi yang intensif. Pertukaran gagasan mampu memberi nafas baru dalam mengelola energi kreatif pelukis.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://archive.ivaa-online.org http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/saftari-1/page:2 https://radiobuku.com/2011/03/saftari-membaca-itu-sehat-bagi-seniman-tapi-lebih-sehat-lagi-kalau-bekerja/
Comments
Loading...