Lukisan “Seri Kertas Remas 4 Badut” (I Nyoman Erawan)

Seri Kertas Remas 4 Badut - I Nyoman Erawan
0 3.228

Lukisan “Seri Kertas Remas 4 Badut” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, I Nyoman Erawan.

Seri Kertas Remas 4 Badut – I Nyoman Erawan
  • Pelukis : I Nyoman Erawan
  • Judul : “Seri Kertas Remas 4 Badut”
  • Tahun : 2011
  • Media : Mixed Media On Canvas
  • Ukuran : 185 cm x 135 cm

Deskripsi Lukisan “Seri Kertas Remas 4 Badut”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya abstrak. Dengan teknik melukis menggunakan media campuran di atas kanvas.

Karakteristik Karya

I Nyoman Erawan merupakan salah satu generasi seniman Bali yang berkecimpung di ranah senirupa Yogyakarta. Erawan adalah seniman yang kental dengan ungkapan penjiwaan dirinya terhadap situasi kehidupan. Karyanya mengisyaratkan adanya kesadaran reflektif terhadap pengalaman, peristiwa, dan pendalaman atau perenungan. Seniman kelahiran Banjar Dlodtangluk, Sukawati, Bali ini dikenal sebagai perupa yang mengekspresikan obsesinya dengan menggali nilai-nilai tradisi Hindu dan kultur Bali. Erawan hidup secara komunal di lingkungan Banjar yang bergelimang tradisi. Oleh karena itu ia memiliki energi pemahaman tentang tradisi berfikir dan bekerja ala Bali.

Dengan gaya hidup yang bersahaja dan tak pernah ingkar dari kegiatan yang berbau adat, ia dapat melahirkan karya-karya instalasi yang kerap liar, nakal, dan bebas.

Objek Telanjang dalam Lukisan I Nyoman Erawan

Dalam pameran tunggal Erawan tahun 2015, ia menyuguhkan karya dengan objek telanjang dalam lukisannya. Lukisan telanjang menurut Erawan adalah salah satu wujud bahwa dalam ketelanjangan tersebut termuat nilai-nilai moral. Tubuh dalam selubung kesadaran jiwa mendambakan nilai-nilai keutamaan dan keluhuran.

Erawan mengemukakan bahwa tubuh merupakan gambaran “jiwatman” atau badan yang terhubung dengan jiwa yang sedang berusaha menyatakan realisasi dirinya sebagai “atman”. Sebagai jiwa yang diciptakan dari percikan sinar kuasa Sang Pencipta.

Bagi Erawan citra tubuh diri pada lukisan-lukisan telanjangnya sekaligus merepresentasikan pengertian tentang keadaan tubuh manusia dalam sikap takzim di hadapan jagad raya.

Erawan menjelaskan bahwa kitab Upanishad telah menunjukkan di mana, atau bagaimana, sejatinya jiwa bersemayam dalam tubuh diri manusia. Ia adalah jiwa yang paling sempurna (purusa), paling kecil, namun menguasai pengetahuan, yang bersembunyi dalam hati dan pikiran, mereka yang mengetahuinya menjadi abadi.

Jiwa yang sempurna adalah “jiwatman” yang menyadari keadaannya sebagai atman, sehingga makna terdalam dari pengertian moksa adalah pembebasan jiwa dari hukum ketetapan phunarbhawa (reinkarnasi) untuk selama-lamanya. Dengan demikian jiwa kembali menempati tempat asal dan tujuannya yang sejati dan abadi. Guna meraih keselamatan moksa seseorang dituntut mencari dan menegakkan jalan keselamatan dalam kehidupannya.

Upaya itu dapat dilakukan dengan mensucikan jiwa dari ikatan perbuatan (karma) dan tipuan maya yang mengandung sifat sebagai kegelapan (awidya).

Erawan berharap lewat karya kanvasya, ia mampu menyadarkan umat manusia untuk mampu menyucikan diri dalam menjalani kehidupan.

I Nyoman Erawan dan Karyanya yang Melintasi Batas

Dalam pameran tunggalnya “Shadow Dance 3” di Bentara Budaya Bali, Erawan menghadirkan ruang diskusi yang menarik. Tidak hanya karena karya-karya yang dihadirkannya sarat dengan kreasi dan ekspresi, tetapi juga lantaran Erawan hadir di luar bidangnya sebagai seorang perupa, yakni dengan menampilkan seni pertunjukan.

Erawan menyuguhkan karya rupa dua dimensi yang sekaligus menjadi sebentuk karya tiga dimensi. Sebab, Erawan menggabungkan teknik melukis dengan teknik mengukir atau menatah (memahat).

Catatan Kuratorial Rizki A Zaelani

Rizki A Zaelani, kurator Erawan dalam pameran tunggal “Shadow Dance 3”, menyebutkan dalam katalog pameran bahwa Erawan menampilkan lukisan yang tidak hanya menggali kemungkinan teknik kerja melukis yang telah umum, seperti sapuan, cipratan, torehan, sobekan, atau lelehan. Tetapi juga menggabungkannya dengan kemungkinan teknik kerja lain yang sangat inspiratif, yaitu teknik tatahan (pahatan) yang biasa digunakan dalam tradisi seni ukir Bali. Dalam karyanya berjudul ”Shadow Dance #4”, Erawan menempelkan kertas dan resin pada kanvas dan juga menatahnya hingga tembus dan berlubang sehingga menghasilkan imaji dekoratif pada karya rupanya tersebut.

Apresiasi Karya oleh Hardiman

Menurut seniman yang juga dosen seni rupa di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Hardiman, Erawan adalah sosok seniman yang tidak percaya pada batas-batas. Karya-karya Erawan masih kental dengan napas tradisi seni rupa Bali, tetapi sekaligus kuat dengan modernisme. ”Pada karya Erawan terasa modernismenya karena ada pengaturan komposisi dan ruang, tetapi saat bersamaan dihadirkan pula napas tradisi Bali,” ujar Hardiman. Pada lukisan ataupun instalasi yang ditampilkan Erawan tidak tampak gambaran figur atau obyek, atau mengutip pernyataan Rizki, tampil sebagai lukisan abstrak non-figuratif. Dalam karya ”Shadow Dance #3”, Erawan menorehkan garis-garis dan cipratan cat pada media yang hablur yang kemudian dilekatkan pada kanvas.

Apresiasi Karya oleh Warih Wisatsana

Kehadiran Erawan yang melintasi batas bidang seni menimbulkan pertanyaan, siapakah Erawan? Warih Wisatsana, penyair sekaligus Koordinator Bentara Budaya Bali menyebut Erawan adalah kreator multitalenta. Erawan menghadirkan karya yang melintas batas. ”Perupa I Nyoman Erawan memang seniman ”penggelisah,” tulis Warih dalam pengantar katalog pameran tunggal Nyoman Erawan yang bertajuk ”Shadow Dance 3”.

Sebagai perupa, Erawan menampilkan karya rupa tidak hanya dinikmati sebagai ragam visual dua dimensi, tetapi juga ragam visual tiga dimensi. Karya Erawan banyak mendapat penghargaan, di antaranya Lempad Prize for Painting dari Sanggar Dewata Indonesia pada 1992, The Philip Morris Group of Companies Indonesia Art Award pada 1994, dan termasuk dalam jajaran 15 perupa terbaik menurut jajak pendapat 11 pengamat Seni Rupa Indonesia pada 1996. Warih Wisatsana mengungkapkan, Erawan adalah sosok seniman yang memiliki ketetapan hati, atau konsistensi, sehingga selalu mengupayakan penemuan baru sekaligus berupaya menghindari pengulangan karya.

Pameran tunggal ”Shadow Dance 3” juga untuk membuktikan upaya Erawan yang terus-menerus mengkritisi kenyataan di luar dirinya dan di dalam dirinya.

Esensi Pameran dan Pementasan bagi I Nyoman Erawan

Erawan menyatakan, persembahannya melalui pameran dan pementasan merupakan upayanya memberikan daya kreatif dan energi kepada seni di luar seni rupa sekaligus upayanya membuka ruang diskusi seni. ”Saya ingin melepaskan sekat-sekat dalam seni,” ujar Erawan dikutip dari https://www.pressreader.com.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Sumber: http://www.beritasatu.com/budaya/65978-lukisan-telanjang-andalan-nyoman-erawan

Source https://indoartnow.com https://indoartnow.com/artists/nyoman-erawan https://id.m.wikipedia.org/wiki/I_Nyoman_Erawan
Comments
Loading...