Lukisan “Setelah Malam” (I Wayan Sujana Suklu)

Setelah Malam - I Wayan Sujana Suklu
0 5.929

Lukisan Setelah Malam merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, I Wayan Sujana Suklu.

Setelah Malam – I Wayan Sujana Suklu
  • Pelukis : I Wayan Sujana Suklu
  • Judul : “Setelah Malam”
  • Tahun : 2010
  • Media : Charcoal On Canvas
  • Ukuran : 90 cm x 90 cm

Deskripsi Lukisan Setelah Malam

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya abstrak. Dengan teknik melukis menggunakan media arang di atas kanvas.

Karakteristik Karya

Karya Lukisan I Wayan Sujana Suklu berkarakteristik dominan. Kemurnian dan keterasingan di Bali membuatnya canggung dan artifisial untuk mencangkokkan analisis eksogen atau kerangka filosofis ke dalamnya. Tinjauan sempurna atas karyanya mungkin tidak termasuk nama selain Suklu, Bali dan petani. Karya Suklu merupakan contoh hidup yang langka dari konsep keaslian Heidegger.

Karya Suklu banyak berupa mozaik-mozaik tumpang tindih, membentuk pemandangan garis yang tak beraturan. Namun pasti itu adalah susunan garis yang mencirikan secara emperik sebuah gesture tubuh. Ada ambigu dan absurd bentuk yang memberi nuansa puitika yang dapat mengingatkan sesuatu. Ada minat untuk menelusuri suasana tropis yang memancarkan genangan cahaya kehidupan yang sudah lewat, sekaligus meraba layer kehidupan masa depan yang mungkin bisa di baca dari pemandangan visual tersebut. Paling tidak kembalinya ingatan masa lalu tersebut telah memicu energi kreatif saat ini, mempengaruhi setiap gagasan dan eksplorasi.

Subconscious

Drawing imaginative yang sering Suklu lakukan memberi pengalaman menarik dalam mewujudkannya. Ada kejutan-kejutan tak terduga muncul dari visual-visual yang hadir tersebut, saat tangan bergerak diatas kertas maka ayunan carcoal akan mengalir liar menuruti kehendak hati. Dan berhenti disaat sudah lengkap, berhenti disaat dirasa cukup, berhenti disaat situasi menghendaki, absurd memang. Kesadaran dan prasadar mencoba bercakap-cakap dalam ruang esensialnya, moment seperti ini sungguh menggairahkan bagi Suklu. Ia merasa seperti bercakap-cakap dengan alam semesta.

Ingatan Suklu tentang gesture tubuh seseorang dipicu oleh ruang waktu kini, dimana ia melihat gerak-gerik tubuh seseorang. Begitu juga sebaliknya, menyaksikan beragam gesture tubuh saat ini membangunkan ingatan-ingatan yang dulu pernah terpahami secara mendalam yang mengendap di alam bawah sadar. Begitulah gambaran kerja sirkulasi rupa yang dikendalikan cita rasa saling mendekap untuk mencuat kepermukaan menjadi visual, sementara tangan, carcoal, dan kertas hanyalah alat bagi kehendak prasadar.

Dasar Penciptaan Objek Wanita Pada Karya Lukisan Suklu

Dikarenakan Suklu adalah seorang laki-laki, maka perempuan bagi Suklu adalah misteri, ada banyak hal tersembunyi yang tak terpahami, kehendaknya kadang tak terduga. Hal tersebut memberi gairah dan energi untuk mencoba memasukinya, walau hanya sebatas mengamati, kemudian mengurai dengan garis-garis dan ruang yang tak terduga pula.

Namun ada hal berbeda, objek perempuan yang muncul hari ini dengan objek perempuan yang pernah ia garap pada periode di akhir tahun 90-an. Sekarang ini perempuan hadir dalam visual karyanya lebih banyak berupa tumpukan garis-garis membentuk labirin bentuk, sedangkan pada periode tahun 90-an bentuk-bentuk perempuan lebih kepada simbolik dan imajinatif.

Drawing On Novel

Karya-karya Suklu berangkat dari pertemuan kreatifnya dengan sekian buku novel dan karya sastra lainnya. Buku-buku tersebut bukan saja mengundang minatnya untuk membaca, melainkan juga terbukti memicunya berkarya.

Fiksi rupa Suklu (drawing), pada kegiatan berikutnya diekspresikan dalam karya dua atau tiga dimensi lainnya berwujud patung, lukisan, fashion, arsitek, musik, performing, dan juga seni instalasi.

Menurut budayawan I Wayan Dibia. Ia menyebut karya Drawing on Novel Suklu sebagai salah satu bentuk seni multirupa, yakni produk kolektif yang melibatkan partisipasi banyak pekerja seni. “Tantangannya adalah bagaimana mengelola semangat kolektif dan potensi yang beragam ini agar tidak sampai mengaburkan wujud akhir dan potensi karya seni yang diinginkan.”.

Setelah lebih lima belas tahun berproses dan melakukan berbagai eksplorasi, berikut kemungkinan penciptaan, Suklu meyakini bahwa novel, terutama halaman-halaman cerita terpilihnya, mengandung tantangan untuk dihadirkan sebagai media ekspresi seni rupa.

Sedangkan menurut Arif B. Prasetyo, menyebutkan bahwa menggambar pada novel yang dilakukan Suklu adalah semacam ritual untuk menghubungkan dirinya, hampir-hampir secara mistis, dengan sosok sang pengarang. Namun sang pengarang itu bukanlah sosok historis, melainkan sosok metafisis, sebentuk “ruh” atau energi.

Di tangan Suklu, buku novel berhenti sebagai karya sastra, dan berubah menjadi artefak yang berfungsi ritual.

Sebagai karya seni, novel mengandung buah perenungan dan merangkum energi penciptaan dari sang sastrawan. Pertemuan antara karya sastra tersebut dan pembaca (perupa), melahirkan dialektika; menghadirkan makna sekaligus momentum tertentu yang mendorong terjadinya penciptaan.

Dari teknik “Drawing on Novel”, goresan-goresan arang Suklu di atas novel-novel bekas, kemudian menjadi pemantik ide berkarya.

Menurut Suklu, alasan memilih novel bekas dan charcoal karena medium novel ini perantaranya bercakap-cakap dengan seorang sastrawan, kemudian novel bekas ini memiliki entitas yang unik dan sangat cocok dengan medium charcoal sebagai alat untuk berekspresi.

Pertemuan Suklu dengan susastra meyakinkannya bahwa novel atau karya lainnya (cover, halaman demi halaman, cerita) ibarat sosok atau tubuh. Sedangkan ruhnya adalah sastrawan atau pengarang itu sendiri. Di atas tubuh buku itulah pencipta mengeksplorasi bentuk-bentuk visual dengan cara mendrawing. Bentuk-bentuk yang digambarkan adalah sosok-sosok imajinatif yang meluap dari ruang ketaksadaran (thinks in unconscious).

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://gallery.komaneka.com/ http://gallery.komaneka.com/artis.php?ArtistID=17 https://suklu.wordpress.com/
Comments
Loading...