Lukisan “Spy III” (I Ketut Suwidiarta)

Spy III - I Ketut Suwidiarta
0 3.663

Lukisan Spy III merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, I Ketut Suwidiarta

Spy III – I Ketut Suwidiarta
  • Pelukis : I Ketut Suwidiarta
  • Judul : “Spy III”
  • Tahun : 2008
  • Media : Acrylic On Canvas
  • Ukuran : 140 cm x 90 cm

Deskripsi Lukisan Spy III

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya ekspresionismekontemporer. Dengan teknik melukis menggunakan cat akrilik di atas kanvas.

Karakteristik Karya

Media Kertas Sebagai Idiom Tradisi Bali

I Ketut Suwidiarta menyajikan karya seni lukis di atas media kertas yang sepertinya syarat dengan idiom seni tradisi Bali. Ia menjelaskan bahwa seni kontemporer itu tidak memandang seni tinggi, seni rendah, baik teknis tradisi, modern, dan lain-lain. Pokok soal penting bagi Ketut Suwidiarta adalah apa yang diinginkan oleh seniman dengan karyanya.

Penanda budaya kontemporer yang dianggap destruktif terhadap nilai-nilai peradaban masyarakat dunia dibangun melalui idiom-idiom tradisi budaya masyarakat Hindu Bali dalam konteks kehidupan masyarakat dunia saat ini. Nilai-nilai lokalitas sebagai sumbu kreatifitas seniman terjaga secara artistik pada karya-karyanya.

Konsep Inferno

Suwidiarta mengalami semacam spiritual, bagaimana trilogi dari Inferno yaitu neraka, api penyucian dan surga. Ketika ia menemukan dan membaca buku inferno pada sekitar abad 14 pertengahan. Namun saat itu masih berbentuk sastra dan ia pribadi menangkapnya sehingga tujuan karyanya ini sesungguhnya mendidik masyarakat untuk berbuat bajik. Moralitas di gambarkan dengan kengerian dan akan berubah buruk jika kita berbuat salah di dunia padahal aturan itu sudah ada.

Karena itu, Ketut Suwidiarta memiliki makna yang sangat dalam akan arti tersebut, sejak lama ia mengetahui jika inferno adalah rangkaian puisi milik Dante Alighieri yang mahakaryanya berjudul “Komedi Tuhan”. Hanya di masa kini telah berbeda.

Ia berupaya menggambarkan sebuah konsepsi pikiran atas realita yang terus berubah. Terminologi Budisme mengatakan bahwa dunia ini adalah anica (berubah), ia menggambarkan bahwa neraka itu sesungguhnya ada dikehidupan kita masa kini. Pikiran yang mengharapkan sesuatu sehingga menimbulkan kekecewaan dan jika tidak sesuai harapan maka menjadi neraka.

(Sumber : http://metrobali.com/hari-ini-dua-perupa-bali-pamerkan-konsepsi-inferno/)

Dalam beberapa tahun terakhir, karya Suwidiarta jauh lebih kontemplatif dan universal dalam konsep saat ia memulai seri di mana sosok Budha muncul. Karya-karyanya penuh dengan ejekan dan ironi terhadap kehidupan manusia, dengan pergeseran ke masalah spiritual.

The Power of Love

Lukisan “The Power of Love” memuat teks lawan rasisme yang diunggah pada pakaian figur berkepala Barong. Ketut Suwidiarta mengangkat isu perdamaian dunia dalam merespon situasi konflik teritori sebuah negara atau bangsa dan konflik ekonomi yang kian meranggas. Bunga mawar bagi Ketut Suwidiarta dijadikan simbol perdamaian sekaligus harapan.

Neo Darkness

Lukisan “Neo Darkness” (2017) menandai sebuah zaman atau peradaban di mana moralitas manusia sudah digeser oleh hegemoni kelompok tertentu atau kekuasaan yang menanggalkan nilai moralitas menjadi nilai ekonomi dalam praktik politik. Agama dijadikan komoditas politik dan kekuasaan untuk menumbangkan salah satu kelompok minoritas tertentu. Kekhawatiran Ketut Suwidiarta dengan situasi politik dan budaya hari ini tertuang secara simbolik dalam lukisan itu.

Konsep “Kegemukan” Dalam Kanvas

Tubuh yang gemuk rupanya bisa menjadi sumber inspirasi. Bagi Suwidiarta, gemuk adalah simbol humor dan rasa lucu. Meski tema lukisannya tak selalu lucu. Keseluruhan tema “kegemukan” ini adalah untuk semua umur dengan harapan tak hanya kalangan tertentu yang dapat menikmati lukisan karyanya.

Kegelisahan Ketut Suwidiarta dalam karya-karyanya justru membaca-ulang pokok soal muatan karya seni rupa serta idiom semiotik yang diproduksi oleh seniman Bali. Ia memandang bahwa seniman Bali yang melek wacana seni rupa hari ini tidak lagi mengekploitasi tanda-tanda budaya tradisi di dalam karya-karyanya. Idiom atau tanda-tanda budaya asalnya sudah melebur di dalam bahasa artistik yang bersifat universal. Fenomena itu menurutnya didorong oleh keterbukaan sikap seniman yang memiliki latar belakang pendidikan seni di luar Bali yang keras menandainya sebagai bagian dari industri pariwisata.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://gallery.komaneka.com/ http://gallery.komaneka.com/artis.php?ArtistID=22 https://artspace.id/2018/02/14/i-ketut-suwidiarta-mengunggah-idiom-budaya-tradisi/
Comments
Loading...